Moskow–Beijing – Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden China Xi Jinping kembali menegaskan eratnya hubungan kedua negara melalui pembicaraan jarak jauh pada Rabu (4/2/2026). Pertemuan yang dilakukan melalui sambungan video call itu membahas berbagai isu strategis global, mulai dari hubungan bilateral Rusia–China, dinamika dengan Amerika Serikat, hingga peluang baru dalam upaya perdamaian internasional.
Percakapan tersebut berlangsung di tengah perubahan lanskap geopolitik dunia yang kian kompleks. Baik Moskow maupun Beijing menilai komunikasi intensif di level tertinggi menjadi penting untuk menjaga kepentingan nasional masing-masing, sekaligus merespons tantangan eksternal yang terus berkembang.
Rekomendasi Cak war: iJoe – Apple Service Surabaya, Tempat Service Iphone, iMac, iPad dan iWatch Terpercaya di Surabaya
Hubungan Rusia–China Jadi Fokus Utama
Penasihat Urusan Luar Negeri Presiden Rusia, Yuri Ushakov, mengungkapkan bahwa Putin dan Xi Jinping menegaskan komitmen untuk terus saling mendukung dalam menghadapi tekanan dari luar. Kedua pemimpin sepakat bahwa hubungan Rusia–China memiliki arti strategis, tidak hanya bagi kepentingan nasional masing-masing, tetapi juga bagi stabilitas global.
Menurut Ushakov, Putin dan Xi menilai kerja sama bilateral perlu terus diperkuat di berbagai bidang, termasuk politik, ekonomi, dan keamanan. “Rusia dan China mendukung kerja sama yang setara dan saling menguntungkan berdasarkan hukum internasional dan Piagam PBB,” kata Ushakov, menegaskan posisi bersama kedua negara dalam tatanan global.
Hubungan Rusia dan China dalam beberapa tahun terakhir memang menunjukkan peningkatan signifikan. Di tengah sanksi Barat terhadap Moskow dan persaingan strategis antara Beijing dan Washington, kedua negara semakin intens menjalin kemitraan yang dinilai saling melengkapi.
Bertukar Pandangan soal Amerika Serikat
Salah satu topik penting dalam pembicaraan Putin dan Xi Jinping adalah hubungan masing-masing negara dengan Amerika Serikat. Dikutip dari Associated Press, kedua pemimpin saling bertukar pandangan terkait dinamika terbaru kebijakan Washington di bawah pemerintahan Presiden AS Donald Trump.
Ushakov menyebutkan, Putin dan Xi memiliki pandangan serupa bahwa kontak dengan pemerintahan Trump dapat membuka peluang baru. Meski hubungan Rusia-AS dan China-AS kerap diwarnai ketegangan, Moskow dan Beijing melihat adanya ruang dialog yang tetap perlu dijajaki.
Bagi Rusia, komunikasi dengan AS menjadi isu sensitif, terutama terkait konflik Ukraina dan sanksi ekonomi. Sementara bagi China, hubungan dengan Washington masih diwarnai persoalan perdagangan, teknologi, serta isu Taiwan. Dalam konteks ini, pembicaraan antara Putin dan Xi mencerminkan upaya menyelaraskan pandangan menghadapi kebijakan AS di masa mendatang.
.Price List Service Apple di Surabaya yang rekomended : Pricelist iJoe Apple Service Surabaya
👉Baca juga artikel tentang: Trump dan Xi Bahas Iran Lewat Telepon, Hubungan AS–Tiongkok Jadi Sorotan Global
Dewan Perdamaian Bentukan Trump Jadi Sorotan
Isu lain yang mencuat dalam pembicaraan tersebut adalah Dewan Perdamaian yang dibentuk atas inisiatif Presiden AS Donald Trump. Ushakov mengungkapkan, Putin menyampaikan apresiasi kepada Trump atas undangan bagi Rusia untuk bergabung dalam dewan tersebut.
Namun demikian, Putin menegaskan bahwa Moskow masih akan mempertimbangkan tawaran tersebut secara matang. Keputusan Rusia untuk terlibat atau tidak akan bergantung pada sejauh mana dewan itu sejalan dengan kepentingan nasional dan prinsip-prinsip hukum internasional.
Dalam konteks ini, Putin juga menyampaikan gagasan yang cukup menarik perhatian, yakni menawarkan agar aset Rusia senilai sekitar USD 1 miliar atau setara Rp16 triliun yang saat ini dibekukan di Amerika Serikat dapat digunakan untuk membantu pembangunan kembali Gaza. Usulan ini dinilai sebagai sinyal bahwa Rusia ingin memainkan peran lebih aktif dalam isu-isu kemanusiaan global, sekaligus menyoroti dampak pembekuan aset terhadap hubungan internasional.
Sikap China soal Dewan Perdamaian
Berbeda dengan Rusia, China tidak memberikan komentar langsung terkait substansi Dewan Perdamaian bentukan Trump. Beijing hanya mengonfirmasi bahwa pihaknya telah menerima undangan untuk bergabung.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun, menyatakan bahwa Beijing akan tetap berpegang pada prinsip mempertahankan sistem internasional dengan Perserikatan Bangsa-Bangsa sebagai intinya. “China akan mempertahankan sistem internasional dengan PBB sebagai intinya, apa pun perubahan lanskap internasional,” ujarnya.
Pernyataan ini menegaskan konsistensi sikap China yang selama ini menekankan multilateralisme dan peran sentral PBB dalam penyelesaian konflik global. Sikap tersebut juga sejalan dengan pandangan Rusia yang kerap mengkritik dominasi satu negara dalam pengambilan keputusan internasional.
Price List Service Apple di Surabaya yang rekomended : Pricelist iJoe Apple Service Surabaya
Dukungan untuk Pembicaraan Damai Ukraina
Dalam pembicaraan itu, Putin dan Xi Jinping juga menyinggung konflik Ukraina yang masih berlangsung. Ushakov menyebutkan bahwa pemimpin China mendukung proses dialog yang tengah dilakukan oleh para negosiator Rusia, Ukraina, dan Amerika Serikat di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab.
Dukungan Beijing terhadap pembicaraan damai tersebut dinilai penting, mengingat posisi China sebagai salah satu kekuatan global dengan pengaruh diplomatik yang besar. Meski China selama ini menjaga posisi relatif netral dalam konflik Ukraina, dukungan terhadap dialog damai menunjukkan keinginan Beijing untuk melihat penyelesaian konflik melalui jalur diplomasi.
Bagi Rusia, dukungan China dalam konteks ini memberikan legitimasi tambahan terhadap upaya negosiasi yang tengah dijalankan, sekaligus memperkuat posisi Moskow di panggung internasional.
Rekomendasi Cakwar.com: Menkeu Purbaya Sidak Perusahaan Baja di Tangerang, Dugaan Pelanggaran Pajak Rugikan Negara Rp583 Miliar
Konteks Geopolitik yang Lebih Luas
Pembicaraan jarak jauh antara Putin dan Xi Jinping mencerminkan dinamika geopolitik global yang terus berubah. Di tengah meningkatnya ketegangan antarnegara besar, komunikasi langsung di level kepala negara menjadi sarana penting untuk menjaga stabilitas.
Kerja sama Rusia–China kerap dipandang sebagai penyeimbang terhadap pengaruh Barat, khususnya Amerika Serikat dan sekutunya. Meski demikian, kedua negara juga menegaskan bahwa kemitraan mereka tidak ditujukan untuk membentuk aliansi militer formal, melainkan kerja sama strategis yang saling menguntungkan.
Dalam konteks inilah, pembahasan mengenai Dewan Perdamaian, hubungan dengan AS, serta konflik Ukraina menjadi bagian dari upaya kedua negara untuk memposisikan diri secara strategis di tengah tatanan dunia yang sedang bertransisi.
Media sosial:
Penutup
Percakapan video call antara Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden China Xi Jinping pada 4 Februari 2026 menunjukkan betapa eratnya komunikasi kedua pemimpin di tengah tantangan global yang kian kompleks. Dari isu hubungan Rusia–China, dinamika dengan Amerika Serikat, hingga peluang baru dalam diplomasi perdamaian, pembicaraan tersebut menegaskan posisi Moskow dan Beijing sebagai aktor penting dalam politik dunia.
Meski belum menghasilkan keputusan konkret, dialog ini membuka ruang bagi kerja sama yang lebih luas dan pendekatan diplomatik yang dinilai dapat memberikan stabilitas di tengah ketidakpastian global. Perkembangan selanjutnya tentu akan terus menjadi perhatian dunia internasional.
Untuk mengikuti berita internasional, geopolitik, dan isu global lainnya yang disajikan secara mendalam dan mudah dipahami, pembaca dapat menjelajahi artikel-artikel menarik lainnya di blog cakwar.com.
Meta deskripsi Viral status pegawai dapur MBG Purbalingga soal “rakyat jelata”, berujung pemecatan. Pihak SPPG minta maaf dan evaluasi SOP pelayanan. March 17, 2026 Rahmat Yanuar Sebuah unggahan status WhatsApp...
Read MoreWarga AS Dievakuasi dari Tel Aviv, Kisah Tegang di Tengah Perang Iran vs Israel-AS March 17, 2026 Rahmat Yanuar Kedatangan sejumlah warga Amerika Serikat di Bandara Internasional Newark Liberty pada...
Read MoreSirene Serangan Iran Hentikan Rapat Parlemen Israel March 17, 2026 Rahmat Yanuar Mulai 1 Februari 2026, KompasTV resmi berpindah saluran siaran ke channel 11 pada perangkat televisi digital maupun Set...
Read MoreIran Luncurkan Rudal Sejjil dalam Operasi True Promise 4, Ketegangan Timur Tengah Kian Memanas March 17, 2026 Rahmat Yanuar Ketegangan di Timur Tengah kembali memasuki fase baru setelah Korps Garda...
Read MoreDaftar Harga iPhone Bekas Jelang Lebaran 2026: Mulai Rp3 Jutaan, Masih Jadi Buruan Konsumen March 12, 2026 Rahmat Yanuar iPhone Bekas Jadi Alternatif Populer Menjelang Lebaran Menjelang perayaan Idulfitri 2026,...
Read MoreMacBook Neo Resmi Diluncurkan: Laptop Murah Apple Mulai Rp10 Jutaan, Ini Spesifikasi dan Fitur Utamanya March 5, 2026 Rahmat Yanuar Setelah lebih dari satu dekade rumor beredar, Apple akhirnya menghadirkan...
Read MoreReview Jujur Kamera iPhone 17 Pro: Masih Terbaik untuk Video, Tapi Kalah Skor Foto dari Huawei? February 27, 2026 Rahmat Yanuar Setiap kali Apple meluncurkan iPhone generasi terbaru, satu hal...
Read MoreApple Pindahkan Produksi Mac Mini ke AS, Respons Tekanan Tarif Presiden Donald Trump February 26, 2026 Rahmat Yanuar Langkah strategis akhirnya diambil Apple. Raksasa teknologi asal Cupertino itu berkomitmen memindahkan...
Read More
© 2025 Cak War Company | CW | Contact Us | Accessibility | Work with us | Advertise | T Brand Studio | Your Ad Choices | Privacy Policy | Terms of Service | Terms of Sale | Site Map | Help | Subscriptions