Hamas Respons Rencana Pasukan Perdamaian Indonesia ke Gaza dalam Misi ISF

Wacana pengiriman pasukan perdamaian Indonesia ke Jalur Gaza dalam misi International Stabilization Force (ISF) memantik perhatian internasional. Isu ini mencuat setelah sejumlah media Israel menyebut Indonesia sebagai negara pertama yang akan mengirimkan personel dalam kerangka Dewan Perdamaian atau Board of Peace (BoP).

Di tengah spekulasi tersebut, pejabat senior Hamas, Osama Hamdan, memberikan tanggapan terbuka dalam wawancara televisi bersama Al-Jazeera. Ia mengaku telah berbicara dengan pemerintah Indonesia dan menegaskan posisi Hamas terkait kemungkinan kehadiran pasukan internasional, termasuk dari Indonesia, di wilayah Gaza.

Isu ini menjadi penting karena menyangkut peran diplomasi Indonesia di panggung global, serta implikasinya terhadap dinamika konflik Israel–Palestina yang telah berlangsung puluhan tahun.

Rekomendasi Cak war: iJoe – Apple Service Surabaya, Tempat Service Iphone, iMac, iPad dan iWatch Terpercaya di Surabaya

Hamas: Pasukan Internasional Harus Ditempatkan di Perbatasan

Dalam wawancara tersebut, Osama Hamdan menekankan bahwa apabila pasukan Indonesia benar-benar dikirim dalam kerangka ISF, maka penempatannya harus berada di wilayah perbatasan Jalur Gaza.

“Peran pasukan internasional harus berada di perbatasan Jalur Gaza untuk memisahkannya dari pendudukan (Israel),” ujarnya.

Menurut Hamdan, keberadaan pasukan internasional semestinya berfungsi sebagai penyangga (buffer) guna mencegah agresi lanjutan Israel ke wilayah Palestina. Ia menegaskan bahwa Hamas tidak menginginkan pasukan asing menjadi bagian dari agenda politik Israel di Gaza.

Lebih lanjut, ia menyampaikan keyakinannya bahwa Indonesia tidak akan menjadi pihak yang mendukung agenda Israel. Hamdan mengaku mendengar pernyataan eksplisit dari pemerintah Indonesia bahwa Jakarta tidak akan menjalankan kebijakan yang merugikan rakyat Palestina.

Pernyataan itu juga beredar luas di media sosial melalui akun koresponden Timur Tengah, @ArielOseran, yang mengutip wawancara tersebut pada Jumat (13/2/2026).

Apa Itu International Stabilization Force (ISF)?

Rencana pembentukan ISF di Gaza berlandaskan Resolusi 2803 Dewan Keamanan PBB yang diadopsi pada 17 November 2025. Resolusi tersebut diusulkan oleh Amerika Serikat dan didukung 13 anggota Dewan Keamanan PBB. Sementara itu, Rusia dan China memilih abstain.

Resolusi 2803 memberikan mandat kepada negara anggota PBB dan Board of Peace untuk membentuk International Stabilization Force sementara di Gaza. Pasukan ini berada di bawah komando terpadu dengan tugas utama:

  • Mengamankan wilayah tertentu di Jalur Gaza
  • Melindungi warga sipil
  • Mendukung stabilitas keamanan
  • Menjaga koridor kemanusiaan

Pendanaan misi ini bersumber dari kontribusi sukarela negara-negara anggota serta dukungan Board of Peace.

Price List Service Apple di Surabaya yang rekomended : Pricelist iJoe Apple Service Surabaya

👉Baca juga artikel tentang: Dittipidnarkoba Bareskrim Usut Dugaan Keterlibatan AKBP Didik Putra Kuncoro dalam Kasus Narkoba

Dalam konteks misi perdamaian, model seperti ISF bukanlah hal baru. PBB selama ini memiliki sejumlah misi peacekeeping di berbagai wilayah konflik, meski efektivitasnya sering menjadi perdebatan. Namun, situasi Gaza memiliki kompleksitas tersendiri, mengingat konflik bersifat asimetris dan melibatkan aktor negara serta non-negara.

Posisi Indonesia dalam Isu Gaza

Indonesia dikenal sebagai salah satu negara yang konsisten mendukung perjuangan Palestina di forum internasional. Sejak lama, pemerintah Indonesia menyuarakan solusi dua negara (two-state solution) serta pentingnya penghentian kekerasan terhadap warga sipil.

Hingga saat ini, belum ada pernyataan resmi yang menyebutkan bahwa Indonesia secara definitif akan mengirimkan pasukan dalam misi ISF. Namun, nama Indonesia muncul dalam pemberitaan media asing sebagai kandidat awal yang siap berpartisipasi.

Jika benar terlibat, pengiriman pasukan perdamaian Indonesia akan menjadi langkah diplomatik yang signifikan. Indonesia memiliki pengalaman dalam misi penjaga perdamaian PBB di berbagai negara, termasuk Lebanon dan Kongo. Personel TNI yang tergabung dalam misi internasional dikenal memiliki reputasi profesional dan diterima baik oleh masyarakat lokal.

Namun, Gaza bukanlah wilayah misi yang sederhana. Situasi keamanan yang fluktuatif, sensitivitas politik, serta potensi benturan kepentingan global menjadikan keterlibatan negara mana pun harus diperhitungkan secara matang.

Tantangan dan Dinamika Politik Global

Pembentukan ISF di Gaza terjadi dalam situasi geopolitik yang kompleks. Dukungan mayoritas anggota Dewan Keamanan PBB menunjukkan adanya dorongan internasional untuk stabilisasi pascakonflik. Namun, sikap abstain Rusia dan China mengindikasikan masih adanya perbedaan pandangan di antara kekuatan besar dunia.

Di sisi lain, Israel memiliki kepentingan keamanan yang kuat di wilayah perbatasannya dengan Gaza. Penempatan pasukan internasional di area tersebut tentu akan bersinggungan dengan kepentingan strategis Israel.

Price List Service Apple di Surabaya yang rekomended : Pricelist iJoe Apple Service Surabaya

Hamas sendiri, melalui Osama Hamdan, menekankan bahwa pasukan internasional harus berfungsi sebagai pemisah dari “pendudukan”, bukan sebagai alat legitimasi kebijakan Israel. Pernyataan ini menunjukkan bahwa kehadiran ISF akan terus diawasi secara politik oleh berbagai pihak.

Bagi Indonesia, keterlibatan dalam misi ini akan menjadi ujian diplomasi bebas aktif yang selama ini dianut. Di satu sisi, Indonesia berkomitmen pada perdamaian dunia. Di sisi lain, sensitivitas domestik dan solidaritas terhadap Palestina juga menjadi faktor penting dalam pengambilan keputusan.

Antara Harapan Perdamaian dan Realitas Lapangan

Secara ideal, pembentukan International Stabilization Force di Gaza diharapkan mampu menurunkan eskalasi konflik dan memberikan ruang bagi proses politik jangka panjang. Perlindungan warga sipil serta distribusi bantuan kemanusiaan menjadi prioritas utama.

Rekomendasi Cakwar.com: Eks Dubes RI Soroti Board of Peace Bentukan Donald Trump: “Penuh Ketidakjelasan”

Namun, pengalaman di berbagai wilayah konflik menunjukkan bahwa misi stabilisasi sering kali menghadapi tantangan besar, mulai dari keterbatasan mandat hingga dinamika keamanan di lapangan.

Apabila Indonesia benar-benar mengirimkan pasukan, maka transparansi mandat, kejelasan aturan pelibatan (rules of engagement), serta koordinasi dengan pihak terkait menjadi kunci agar misi berjalan sesuai prinsip kemanusiaan dan hukum internasional.

Penutup: Menanti Keputusan Resmi dan Arah Diplomasi

Respons Hamas terhadap kemungkinan pengiriman pasukan perdamaian Indonesia ke Gaza menambah dimensi baru dalam dinamika konflik yang belum menemukan titik akhir. Resolusi 2803 Dewan Keamanan PBB telah membuka jalan bagi pembentukan ISF, namun implementasinya masih akan bergantung pada komitmen dan kalkulasi politik negara-negara anggota.

Indonesia berada pada posisi strategis—dengan rekam jejak diplomasi damai dan solidaritas terhadap Palestina—untuk memainkan peran konstruktif jika memang memilih terlibat. Yang jelas, setiap langkah akan diawasi publik internasional dan membawa konsekuensi diplomatik jangka panjang.

Perkembangan isu ini masih terus bergerak. Untuk mendapatkan pembaruan dan analisis mendalam seputar dinamika politik global serta isu-isu strategis lainnya, Anda bisa membaca artikel menarik lainnya di media digital cakwar.com

#TERBARU

#TEKNOLOGI

CakWar.com

Dunia

Politik Internasional

Militer

Acara

Indonesia

Bisnis

Teknologi

Pendidikan

Cuaca

Seni

Ulas Buku

Buku Best Seller

Musik

Film

Televisi

Pop Culture

Theater

Gaya Hidup

Kuliner

Kesehatan

Review Apple Store

Cinta

Liburan

Fashion

Gaya

Opini

Politik Negeri

Review Termpat

Mahasiswa

Demonstrasi

© 2025 Cak War Company | CW | Contact Us | Accessibility | Work with us | Advertise | T Brand Studio | Your Ad Choices | Privacy Policy | Terms of Service | Terms of Sale | Site Map | Help | Subscriptions