Presiden Iran Masoud Pezeshkian Akui Gajinya Turun Jadi US$1.000, Soroti Krisis Ekonomi dan Kerusuhan

Krisis ekonomi Iran kini tidak hanya dirasakan rakyat kecil, tetapi juga diakui langsung oleh orang nomor satu di negara tersebut. Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, mengungkap bahwa gajinya sebagai kepala negara kini hanya mencapai US$1.000 atau sekitar Rp16,8 juta per bulan. Angka ini turun drastis dibandingkan sebelumnya yang berada di kisaran US$6.000.

Pernyataan itu disampaikan Pezeshkian saat mengunjungi korban kerusuhan di Provinsi Golestan, Iran. Ia menyebut penurunan pendapatannya sebagai gambaran nyata devaluasi mata uang Iran dan merosotnya daya beli masyarakat.

“Sekarang, gaji saya sebagai presiden adalah US$1.000,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa kondisi tersebut mencerminkan tekanan ekonomi yang tengah dihadapi negaranya.

Rekomendasi Cak war: iJoe – Apple Service Surabaya, Tempat Service Iphone, iMac, iPad dan iWatch Terpercaya di Surabaya

Devaluasi Rial dan Daya Beli yang Tergerus

Penurunan gaji Pezeshkian bukan semata soal nominal, melainkan efek dari melemahnya nilai mata uang rial Iran dalam beberapa tahun terakhir. Inflasi tinggi dan pembatasan ekonomi yang berkepanjangan telah menekan nilai tukar dan memperburuk daya beli warga.

Sebelumnya, gaji presiden setara sekitar US$6.000 per bulan atau sekitar Rp101 juta. Namun, depresiasi mata uang membuat nilai riilnya menyusut signifikan dalam denominasi dolar AS.

Krisis ini tidak hanya berdampak pada pejabat tinggi negara. Upah minimum di Iran ditetapkan sebesar US$3,76 atau sekitar Rp63 ribu per hari sejak tahun lalu. Dengan kurs dan inflasi yang terus berfluktuasi, banyak pekerja mengaku kesulitan memenuhi kebutuhan dasar seperti pangan, perumahan, dan kesehatan.

Sejumlah ekonom menyebut kondisi ini sebagai kombinasi antara tekanan eksternal dan tantangan struktural internal. Iran telah lama menghadapi sanksi ekonomi internasional yang membatasi akses perdagangan dan investasi asing. Di sisi lain, kebijakan domestik serta ketergantungan pada sektor energi juga mempersempit ruang fiskal pemerintah.

Pengakuan atas Ketidakpuasan Publik

Dalam kesempatan yang sama, Pezeshkian mengakui bahwa sebagian warga Iran kecewa terhadap kinerja pemerintahannya. Ia tidak menampik adanya ketidakpuasan publik yang semakin menguat di tengah situasi ekonomi sulit.

“Keberadaan masalah dalam masyarakat adalah realitas yang tak terbantahkan, dan kita tidak bisa menutup mata terhadapnya,” kata Pezeshkian.

Pernyataan tersebut mencerminkan pendekatan yang lebih terbuka terhadap kritik publik. Namun, tantangan yang dihadapi pemerintah tidaklah ringan. Tingginya harga kebutuhan pokok, pengangguran, dan terbatasnya akses terhadap pasar global menjadi faktor utama yang memicu keresahan sosial.

Price List Service Apple di Surabaya yang rekomended : Pricelist iJoe Apple Service Surabaya

👉Baca juga artikel tentang: Anak Riza Chalid Dituntut 18 Tahun Penjara dalam Kasus Korupsi Tata Kelola Minyak Pertamina

Kerusuhan Sejak Desember 2025

Krisis ekonomi Iran memuncak menjadi gelombang kerusuhan besar-besaran sejak Desember 2025. Aksi protes terjadi di berbagai kota, dipicu oleh kenaikan harga dan melemahnya daya beli masyarakat.

Para aktivis menyebut sekitar 7.000 orang tewas dalam penindakan keras aparat selama periode kerusuhan tersebut. Angka ini belum dikonfirmasi secara independen oleh otoritas resmi, namun mencerminkan besarnya eskalasi konflik sosial yang terjadi.

Situasi keamanan yang memburuk turut memperumit upaya pemulihan ekonomi. Investor asing cenderung menahan diri, sementara aktivitas bisnis domestik terganggu oleh ketidakpastian.

Struktur Ekonomi yang Rentan

Iran merupakan salah satu negara dengan cadangan energi terbesar di dunia. Namun, ketergantungan pada ekspor minyak membuat ekonominya rentan terhadap fluktuasi harga global dan pembatasan perdagangan.

Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah berupaya melakukan diversifikasi ekonomi, termasuk mendorong sektor manufaktur dan teknologi. Namun, tekanan fiskal dan keterbatasan akses pembiayaan internasional menjadi kendala utama.

Inflasi yang tinggi juga berdampak pada kelas menengah. Tabungan masyarakat tergerus, sementara biaya hidup meningkat. Dalam kondisi seperti ini, pengakuan presiden soal gaji yang menurun menjadi simbol betapa dalamnya krisis yang tengah berlangsung.

Price List Service Apple di Surabaya yang rekomended : Pricelist iJoe Apple Service Surabaya

Antara Simbol dan Realitas

Secara nominal, gaji US$1.000 per bulan mungkin masih lebih tinggi dibandingkan rata-rata pendapatan warga Iran. Namun, pernyataan Pezeshkian memiliki makna simbolik. Ia mencoba menunjukkan bahwa krisis ekonomi menyentuh seluruh lapisan masyarakat, termasuk elite pemerintahan.

Meski demikian, sebagian pengamat menilai bahwa persoalan utama bukanlah besaran gaji presiden, melainkan kebijakan ekonomi yang mampu memulihkan stabilitas harga dan meningkatkan lapangan kerja.

Ke depan, pemerintah Iran menghadapi tugas berat: menstabilkan mata uang, mengendalikan inflasi, serta meredakan ketegangan sosial. Dialog dengan masyarakat dan reformasi kebijakan menjadi langkah yang dinilai krusial untuk mencegah krisis berkepanjangan.

 

Rekomendasi Cakwar.com: Dittipidnarkoba Bareskrim Usut Dugaan Keterlibatan AKBP Didik Putra Kuncoro dalam Kasus Narkoba

Tantangan Politik dan Ekonomi ke Depan

Kondisi ekonomi sering kali berkorelasi langsung dengan stabilitas politik. Dalam konteks Iran, tekanan ekonomi yang berlarut-larut berpotensi memperdalam ketidakpuasan publik.

Pemerintahan Pezeshkian menyatakan tengah menyusun langkah-langkah pemulihan, termasuk kebijakan fiskal yang lebih terarah dan upaya memperkuat produksi dalam negeri. Namun, efektivitas kebijakan tersebut akan sangat bergantung pada kondisi geopolitik dan kemampuan pemerintah membangun kepercayaan publik.

Di sisi lain, dunia internasional juga memantau perkembangan ini. Stabilitas Iran memiliki dampak regional, terutama di kawasan Timur Tengah yang sensitif terhadap dinamika politik dan ekonomi.

Penutup: Ujian Kepemimpinan di Tengah Krisis

Pengakuan Presiden Masoud Pezeshkian tentang gajinya yang turun menjadi US$1.000 per bulan menjadi potret simbolik krisis ekonomi Iran. Di balik angka tersebut, tersimpan tantangan besar berupa inflasi, devaluasi mata uang, dan ketidakpuasan sosial yang meluas.

Krisis ini bukan sekadar persoalan statistik ekonomi, tetapi juga ujian kepemimpinan dalam menjaga stabilitas dan kepercayaan publik. Upaya pemulihan membutuhkan kebijakan terukur, transparansi, dan dialog yang berkelanjutan dengan masyarakat.

Perkembangan situasi Iran akan terus menjadi perhatian global. Untuk mengikuti analisis mendalam dan kabar internasional terkini lainnya, Anda dapat membaca artikel menarik lainnya di media digital cakwar.com

#TERBARU

#TEKNOLOGI

CakWar.com

Dunia

Politik Internasional

Militer

Acara

Indonesia

Bisnis

Teknologi

Pendidikan

Cuaca

Seni

Ulas Buku

Buku Best Seller

Musik

Film

Televisi

Pop Culture

Theater

Gaya Hidup

Kuliner

Kesehatan

Review Apple Store

Cinta

Liburan

Fashion

Gaya

Opini

Politik Negeri

Review Termpat

Mahasiswa

Demonstrasi

© 2025 Cak War Company | CW | Contact Us | Accessibility | Work with us | Advertise | T Brand Studio | Your Ad Choices | Privacy Policy | Terms of Service | Terms of Sale | Site Map | Help | Subscriptions