Dinilai Sebut Sumatera Barat Barbar, Abu Janda Dilaporkan ke Bareskrim Polri oleh Ikatan Keluarga Minangkabau Terkait Dugaan SARA

Halo Sobat cakwar.comPernah gak sih lo lagi asyik berselancar di jagat maya, tiba-tiba nemu konten dari figur publik yang bahasanya bikin elus dada karena menyenggol identitas daerah tertentu? Di era digital sekarang, jempol dan ucapan di media sosial memang bisa menjadi bumerang tajam kalau tidak disaring dengan bijak. Salah kata sedikit saja, urusannya bisa langsung panjang sampai ke ranah hukum.

Bagi lo yang selalu memantau info berita terkini tentang konstelasi politik dalam negeri, dinamika hukum, hingga isu sosial budaya, kabar mengejutkan kembali datang dari panggung media sosial nasional. Kebebasan berpendapat yang kebablasan kembali memicu gesekan antarkelompok masyarakat di tanah air.

Rekomendasi Cak war: iJoe – Apple Service Surabaya, Tempat Service Iphone, iMac, iPad dan iWatch Terpercaya di Surabaya

Gara-gara potongan pernyataannya yang dinilai provokatif dan merendahkan sebuah etnis, pegiat media sosial (medsos) Permadi Arya atau yang lebih dikenal Abu Janda dilaporkan ke Bareskrim Polri atas dugaan ujaran kebencian bermuatan Suku, Agama, Ras, dan Antar-golongan (SARA) pada Selasa (26/5/2026). Langkah hukum ini diambil sebagai bentuk protes keras atas narasi digital yang dianggap melukai hati nurani warga daerah.

Kronologi Laporan IKM: Berawal dari Ucapan Kontroversial di Rumah Ibadah Luar Negeri

Sobat cakwar.com, mari kita bedah duduk perkara yang membuat organisasi masyarakat Ikatan Keluarga Minangkabau (IKM) sampai nekat mendatangi markas kepolisian. Laporan resmi dari IKM ini telah teregister dengan nomor LP/B/230/V/2026/SPKT/Bareskrim Polri tertanggal 26 Mei 2026.

Laporan tersebut dilayangkan lantaran ucapan Abu Janda dalam sebuah rekaman video yang dinilai menyakiti masyarakat Sumatera Barat (Sumbar), khususnya masyarakat Minangkabau. Pihak IKM menilai pernyataan yang dilontarkan di sebuah tempat ibadah di luar negeri oleh Abu Janda tersebut bermuatan sangat negatif dan cenderung merendahkan martabat orang Minang.

Dalam laporannya, Abu Janda disangka melanggar Pasal 242 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) yang mengatur tentang penyebaran informasi dengan maksud menimbulkan ujaran kebencian terhadap kelompok atau etnis tertentu.

 

Price List Service Apple di Surabaya yang rekomended : Pricelist iJoe Apple Service Surabaya

Baca juga artikel tentang: Gak Berkah! Ditressiber Polda Metro Jaya Bongkar Modus Live Streaming Pornografi Berkedok Nyari Gift Digital di Media Sosial

Tafsir Kata “Barbar” dalam KBBI: Alasan Masyarakat Minang Sakit Hati

Mengapa pernyataan tersebut bisa memicu gelombang kemarahan yang begitu besar? Wakil Ketua Umum Bidang Hukum dan HAM DPP IKM, Defrizal Djamaris, menjelaskan kepada wartawan bahwa ada diksi spesifik dari terlapor yang secara langsung menyerang kehormatan masyarakat Sumatera Barat.

Abu Janda diduga mengeluarkan narasi yang mengaitkan nama daerah dengan istilah yang sangat kasar dan tidak pantas di ruang publik digital.

“Ada kata-kata yang spesifik menyerang atau memberikan ujaran kebencian kepada etnis tertentu yaitu masyarakat Sumatera Barat yang mana sebagian besar adalah etnis Minangkabau. Di situ disebutkan bahwa masyarakat yang daerahnya intoleran itu Sumbar, Jabar, yang ada bar-bar di belakangnya itu dianggap masyarakat barbar, seolah itu orang barbar di sana,” ungkap Defrizal Djamaris kesal.

Defrizal mengingatkan, jika kita merujuk ke dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), arti dari kata “barbar” itu sendiri memiliki muatan yang sangat peyoratif alias negatif, yaitu:

  • Tidak beradab atau belum beradab.
  • Bertindak kejam dan tidak berperadaban.
  • Cenderung menggunakan kekerasan tanpa aturan hukum.

Tempat service Device Terbaik di Surabaya: 

 

Ucapan yang membawa-bawa nama Sumbar dengan label seperti itulah yang membuat masyarakat Minangkabau merasa terhina. Padahal, pada kenyataannya, masyarakat di Sumbar sangat menjunjung tinggi nilai toleransi antar-suku, adat, serta umat beragama sejak zaman nenek moyang.

Alasan Memilih Jalur Hukum: Menghindari Aksi Main Hakim Sendiri

Sobat cakwar.com, langkah IKM membawa kasus dugaan ujaran kebencian SARA ini ke meja penyidik kepolisian sebenarnya mengandungi pesan edukasi yang sangat baik bagi kita semua. Mereka tidak ingin keresahan yang terjadi di akar rumput berujung pada aksi anarki yang merugikan stabilitas nasional.

Rekomendasi Cakwar.com: Ajukan Pledoi! Hery Sutanto Bantah Perintahkan Rekening Penampungan Kasus K3 Kemnaker, Pengacara Sebut Tuntutan 7 Tahun Gak Adil

Pihak pelapor mengkhawatirkan ada pihak-pihak ketiga yang tidak bertanggung jawab yang sengaja ingin memperkeruh suasana dengan memancing adanya adu domba antar-suku maupun antar-agama di Indonesia melalui momentum panas ini.

1.Meredam Keresahan Massa:Langkah 1.

Membawa persoalan ujaran kebencian ke ranah hukum demi menunjukkan sikap tertib sipil dan mencegah aksi massa di lapangan.

2.Menolak Main Hakim Sendiri:Langkah 2.

Memercayakan sepenuhnya penanganan kasus Abu Janda kepada aparat kepolisian agar tidak ada tindakan persekusi sepihak.

3.Mendesak Transparansi Polri:Langkah 3.

Mendorong Bareskrim Polri mengusut tuntas perkara secara transparan, profesional, dan proporsional agar rasa keadilan masyarakat terjawab.

Media sosial:

 

Insight Bijak: Solusi Praktis Merawat Toleransi dan Etika Berkomunikasi di Media Sosial

Kasus pelaporan pegiat medsos terkait dugaan penghinaan etnis daerah ini menjadi pelajaran berharga bahwa menjaga lisan di dunia digital adalah kewajiban mutlak seluruh warga negara. Sebagai solusi praktis, kita sebagai netizen cerdas wajib menerapkan prinsip berpikir sebelum mengklik (think before you post). Hindari menggunakan label atau stereotip negatif terhadap suku, daerah, atau agama tertentu hanya karena ada dinamika politik atau perbedaan pandangan personal. Setiap daerah di Indonesia memiliki keunikan adat budaya yang wajib kita hormati bersama. Insight penting bagi kita semua adalah mari gunakan platform media sosial untuk merajut persatuan, mengedukasi hal positif, dan menyebarkan pesan kedamaian. Jika menemui konten provokatif yang berpotensi memecah belah bangsa, gunakan fitur laporkan (report) ke platform atau adukan ke kanal resmi Siber Polri, bukan malah ikut menyebarkannya sehingga suasana makin gaduh.

Semoga artikel ini memberikan edukasi bagi pembaca artikel cakwar.com. Mari kita dukung penuh proses hukum yang berjalan agar keadilan bisa ditegakkan secara adil tanpa tebang pilih, demi menjaga persatuan bangsa Indonesia!

Untuk mendapatkan informasi terbaru dan ulasan menarik lainnya seputar isu sosial, kebijakan publik, dan berita terkini, Anda dapat membaca artikel lainnya di cakwar.com.

#TERBARU

#TEKNOLOGI

CakWar.com

Dunia

Politik Internasional

Militer

Acara

Indonesia

Bisnis

Teknologi

Pendidikan

Cuaca

Seni

Ulas Buku

Buku Best Seller

Musik

Film

Televisi

Pop Culture

Theater

Gaya Hidup

Kuliner

Kesehatan

Review Apple Store

Cinta

Liburan

Fashion

Gaya

Opini

Politik Negeri

Review Termpat

Mahasiswa

Demonstrasi

© 2025 Cak War Company | CW | Contact Us | Accessibility | Work with us | Advertise | T Brand Studio | Your Ad Choices | Privacy Policy | Terms of Service | Terms of Sale | Site Map | Help | Subscriptions