Pengabdi Setan, Horor Lokal yang Bikin Dunia Bergidik

Sejak dirilis pada 2017, Pengabdi Setan karya Joko Anwar berhasil mencuri perhatian bukan hanya pemirsa lokal, namun juga penikmat horor internasional. Dengan kisah yang menampar rasa takut dari budaya lokal dan eksekusi sinematik yang ciamik, film ini membuktikan kalau otentisitas bisa jauh lebih mengerikan dibandingkan efek spesial canggih.

Menguak Daya Tarik yang Tak Hanya Sekadar Seram

Bayangkan: keluarga yang berduka kehilangan ibu, tapi yang muncul justru bukan belaian, melainkan teror yang mencekam. Pengabdi Setan bukan film horor biasa—ia mendobrak formula film mainstream dengan atmosfer kelam, citra cinematografi yang kinclong, dan bikin penonton nggak berani napas lega.

Keberhasilan ini bukan sekadar angka. Lewat 4,2 juta penonton di dalam negeri, film ini dinobatkan sebagai film horor terlaris Indonesia tahun 2017 dan membuka jalan bagi kebangkitan genre horror lokal. Lebih hebat lagi, Pengabdi Setan berhasil mematahkan rekor di negara tetangga, jadi film Indonesia paling laris sepanjang masa di Malaysia dengan pendapatan senilai RM6 juta.

Horor Indonesia Tampil Cemerlang

Tak cuma populer di Asia Tenggara, Pengabdi Setan juga diputar di 42 negara, mulai dari Amerika, Kanada, hingga beberapa negara Eropa. Ekspansi globalnya pun bukan hanya soal distribusi—film ini diboyong dan dipuji oleh festival film horor bergengsi seperti Overlook Film Festival di Amerika Serikat, di mana berhasil menyabet penghargaan untuk kategori film terbaik

Ilustrasi Budaya Horor yang “Menggigit”

Menurut riset, film ini menggabungkan horor modern dengan kearifan lokal, menyuntikkan unsur mistik Indonesia—seperti pesugihan dan budaya spiritual—ke ranah sinematik. Ini bukan sekadar cerita hantu, tapi refleksi antara tradisi mistis dan realitas kontemporer.

Alhasil, film ini terasa bukan cuma “serem”, tapi juga membawa aura politik budaya—bahwa horor kita bisa kalau digarap dengan hati, tanpa harus mengorbankan kualitas visual dan emosi.

Sekuel yang Tak Hanya Melanjutkan, Tapi Membangun Dunia Horor

Kesuksesan Pengabdi Setan berlanjut dengan rilisan sekuelnya, Pengabdi Setan 2: Communion, yang debutnya luar biasa—1 juta penonton hanya dalam dua hari, dan berhasil meraih lebih dari 6 juta penonton sepanjang tayang di Indonesia. Film kedua ini makin mengukuhkan reputasi Joko Anwar sebagai maestro genre horor modern Indonesia.

Film Lokal, Relevansi Global

Fenomena Pengabdi Setan juga jadi bukti bahwa horor Indonesia mampu merambat ke dunia internasional tanpa kehilangan keotentikan. Gak pakai CGI bombastis, namun tetap bikin merinding karena “keakraban” dengan dunia mistik perdesaan—setting yang sarat perasaan dan sejarah.

Sekarang ini, ketika film ini kembali tayang di program Movievaganza Trans7, antusiasme penonton tetap tinggi. Netizen bahkan langsung dibanjiri dengan meme “Ibu-nya merinding minta pulang”, yang sukses bikin heboh media.

Pengabdi Setan = Tonggak Kebangkitan Horor Lokal

Kalau sebelumnya genre horor Indonesia sempat dianggap remajakan form tanpa jiwa, Pengabdi Setan hadir membawa otentisitas baru—kisah yang menggigit, visual yang mencekam, dan konten budaya yang melekat. Film ini bukan cuma menghibur, tapi jadi batu loncatan untuk generasi baru sineas lokal yang berani mengangkat cerita Indonesia ke panggung dunia. Kalau kamu penggemar horor yang smart dan sadar budaya, film ini wajib jadi tontonan wajib di senja hujan.

#TERBARU

#TEKNOLOGI

CakWar.com

Dunia

Politik Internasional

Militer

Acara

Indonesia

Bisnis

Teknologi

Pendidikan

Cuaca

Seni

Ulas Buku

Buku Best Seller

Musik

Film

Televisi

Pop Culture

Theater

Gaya Hidup

Kuliner

Kesehatan

Review Apple Store

Cinta

Liburan

Fashion

Gaya

Opini

Politik Negeri

Review Termpat

Mahasiswa

Demonstrasi

© 2025 Cak War Company | CW | Contact Us | Accessibility | Work with us | Advertise | T Brand Studio | Your Ad Choices | Privacy Policy | Terms of Service | Terms of Sale | Site Map | Help | Subscriptions