Dari Medis ke Tragedi, RS Gaza Jadi Target Serangan Udara Israel

Pagi itu, di tengah kesibukan rumah sakit terbesar di selatan Gaza, RS Nasser di Khan Yunis, suasana mendadak berubah menjadi tragedi. Dua serangan udara secara beruntun menghantam lokasi dengan kejam: pertama mengenai lantai empat, kemudian menyasar tangga luar ketika tim penyelamat dan media datang membantu. Korban pun bertambah tragis, sedikitnya 20 orang tewas, termasuk lima jurnalis dari lembaga global seperti AP, Al Jazeera, Reuters, dan Middle East Eye.

Di antaranya, Mariam Dagga (AP), Mohammed Salama (Al Jazeera), Hussam al-Masri (Reuters), Moaz Abu Taha (Reuters), dan Ahmed Abu Aziz (Middle East Eye). Serangan kedua terkenal dengan istilah “double-tap”, sebuah taktik yang secara langsung menghantam mereka yang datang membantu korban sebelumnya, metode yang jelas mengundang kecaman internasional.

Ketika Rumah Sakit Berubah Jadi Zona Perang

RS Nasser bukan hanya fasilitas medis. Dalam konflik yang menjulang, rumah sakit ini jadi benteng harapan bagi warga Gaza yang tertindas. Serangan ke tempat seperti ini adalah tamparan keras terhadap prinsip perlindungan hak asasi dan aturan perang internasional, di mana fasilitas kesehatan dan pewarta harusnya dilindungi.

Israel menyatakan insiden ini adalah “tragedi tidak disengaja” dan melakukan investigasi. Namun, kecaman mengalir deras dari Sekjen PBB António Guterres sampai Menlu Inggris David Lammy, serta panggilan segera dihentikannya aksi militer yang menelan korban sipil.

Jurnalis Terus Jadi Sasaran, Harga Tinggi untuk Kebenaran

Lebih dari sekadar korban perang, lima jurnalis yang gugur adalah suara-suara yang hilang di tengah gelombang konflik. Salah satunya, Mariam Dagga, semasa hidupnya pernah melaporkan kondisi anak-anak kelaparan di rumah sakit yang sama.

Tak hanya sekali, konflik ini telah merenggut banyak nyawa insan pers. Organisasi seperti Komite Perlindungan Jurnalis (CPJ) dan Reporters Without Borders menyorot bahwa >240 jurnalis telah tewas sejak dimulainya konflik.

Krisis Kemanusiaan dan Kerapuhan Sistem Medis

Serangan ke rumah sakit memperuncing krisis kemanusiaan di Gaza. Banyak pusat kesehatan yang telah rusak, dan jumlah tenaga medis terus menyusut. RS Nasser sendiri adalah satu dari sedikit fasilitas publik yang masih berfungsi, menjadi target agresi militer berarti memblok jalan hidup masyarakat yang sangat membutuhkan layanan medis.

Dari Simpati ke Tuntutan Justice

Foto, video, dan narasi korban menyebar cepat lewat media dan media sosial. Respons global tidak hanya berupa simpati, tapi juga tuntutan hukum terhadap mereka yang dianggap melanggar hukum humaniter internasional. Lembaga-lembaga HAM dan beberapa negara berseru agar serangan seperti ini dihentikan.

Ketika Suara dan Ruang Mulai Hilang

Serangan terhadap RS Nasser adalah tragedi multi-dimensi, kehilangan korban jiwa, kolapsnya sistem kesehatan, hilangnya ruang media yang dianggap aman, dan luka mendalam bagi komunitas internasional yang menaruh harapan pada keadilan.

Lebih dari sekadar laporan politik, peristiwa ini mengingatkan kita bahwa konflik bukan cerita abstrak, ia tentang rumah sakit yang menyala, telepon yang hening, dan manusia yang menanggung beban ketidakpilihan. Dan saat “double-tap” menghantam pula simbol kemanusiaan, kita bukan lagi bicara strategi, tapi tentang keraguan politik, mengapa suara dan ruang aman bisa dengan mudah hilang?

#TERBARU

#TEKNOLOGI

CakWar.com

Dunia

Politik Internasional

Militer

Acara

Indonesia

Bisnis

Teknologi

Pendidikan

Cuaca

Seni

Ulas Buku

Buku Best Seller

Musik

Film

Televisi

Pop Culture

Theater

Gaya Hidup

Kuliner

Kesehatan

Review Apple Store

Cinta

Liburan

Fashion

Gaya

Opini

Politik Negeri

Review Termpat

Mahasiswa

Demonstrasi

© 2025 Cak War Company | CW | Contact Us | Accessibility | Work with us | Advertise | T Brand Studio | Your Ad Choices | Privacy Policy | Terms of Service | Terms of Sale | Site Map | Help | Subscriptions