Board of Peace Versi Donald Trump dan Konflik Gaza: Jalan Damai atau Manuver Politik Global?

Konflik di Jalur Gaza kembali menjadi sorotan dunia. Di tengah upaya diplomasi internasional yang tak kunjung membuahkan hasil permanen, muncul narasi tentang pembentukan Board of Peace yang dikaitkan dengan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Gagasan ini diklaim sebagai solusi alternatif untuk meredakan pertikaian antara Israel dan Palestina.

Namun, di saat bersamaan, langkah politik Amerika Serikat yang menjauh dari sejumlah lembaga multilateral—termasuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB)—justru memunculkan tanda tanya besar. Jika tujuan utamanya perdamaian, mengapa Washington memilih jalur di luar sistem diplomasi global yang sudah ada?

Rekomendasi Cak war: iJoe – Apple Service Surabaya, Tempat Service Iphone, iMac, iPad dan iWatch Terpercaya di Surabaya

Artikel ini mencoba mengurai fenomena tersebut secara netral dan kontekstual.

Apa Itu “Board of Peace”?

Istilah Board of Peace terdengar formal dan seolah memiliki legitimasi internasional. Namun hingga kini, tidak ada lembaga resmi bernama demikian yang diakui secara luas dalam diplomasi global seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) atau Organisasi Kerja Sama Islam (OKI).

Dalam praktiknya, istilah ini lebih sering merujuk pada:

  • Inisiatif non-pemerintah (NGO) atau forum sipil yang mengadvokasi perdamaian.
  • Gagasan pembentukan dewan mediasi yang diusulkan tokoh politik.
  • Istilah populer di media sosial tanpa struktur dan mandat internasional yang jelas.

Dengan kata lain, Board of Peace bukanlah badan yang memiliki kewenangan formal untuk memaksa penghentian perang antara Israel dan Palestina. Tidak ada mandat Dewan Keamanan, tidak ada resolusi mengikat, dan tidak ada mekanisme sanksi internasional.

Hal ini berbeda jauh dengan PBB yang memiliki Dewan Keamanan, Majelis Umum, hingga berbagai badan khusus kemanusiaan.

Amerika dan PBB: Dari Mitra Strategis ke Sikap Skeptis

Sejak didirikan pada 1945, Amerika Serikat adalah salah satu arsitek utama PBB. Namun pada era kepemimpinan Donald Trump, hubungan Washington dengan berbagai badan PBB mengalami ketegangan.

Beberapa kebijakan yang sempat menjadi sorotan antara lain penghentian pendanaan untuk badan-badan tertentu serta penarikan diri dari sejumlah forum multilateral. Sikap ini dilandasi pandangan “America First”, yang menilai lembaga internasional seringkali tidak sejalan dengan kepentingan nasional AS.

Price List Service Apple di Surabaya yang rekomended : Pricelist iJoe Apple Service Surabaya

👉Baca juga artikel tentang: Hat-trick Pedro Neto Antar Chelsea Hajar Hull City, Lolos ke Babak Kelima Piala FA

Di sisi lain, konflik Israel-Palestina selalu menjadi isu sensitif dalam politik luar negeri Amerika. Hubungan erat Trump dengan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, memperkuat persepsi bahwa Washington lebih condong ke Tel Aviv dibandingkan menjadi mediator netral.

Langkah pemindahan Kedutaan Besar AS ke Yerusalem pada 2018, misalnya, menuai kecaman luas dari banyak negara karena dianggap mengabaikan status Yerusalem yang masih disengketakan.

Mengapa PBB Terlihat “Macan Ompong”?

Banyak pihak menilai PBB tampak tidak berdaya menghentikan konflik di Gaza. Resolusi demi resolusi dikeluarkan, tetapi kekerasan terus berulang.

Ada beberapa faktor yang membuat PBB sulit bertindak tegas:

  1. Hak Veto di Dewan Keamanan

Lima anggota tetap Dewan Keamanan memiliki hak veto. Amerika Serikat, sebagai salah satunya, kerap menggunakan hak ini dalam isu yang berkaitan dengan Israel. Akibatnya, resolusi yang dianggap merugikan Israel sering kali gagal disahkan.

  1. Kepentingan Geopolitik

Konflik Israel-Palestina bukan hanya soal dua wilayah, tetapi juga persaingan geopolitik di Timur Tengah. Negara-negara besar memiliki kepentingan strategis yang membuat konsensus global sulit tercapai.

  1. Keterbatasan Mandat

PBB tidak memiliki tentara permanen. Intervensi militer hanya bisa dilakukan jika ada mandat dan persetujuan negara anggota, yang dalam praktiknya sangat rumit.

Dengan keluarnya atau menjauhnya Amerika dari sejumlah mekanisme multilateral, pengaruh PBB sebagai forum utama diplomasi global pun dianggap melemah. Tanpa dukungan aktif kekuatan besar seperti AS, efektivitas tekanan internasional terhadap Israel tentu berkurang.

Price List Service Apple di Surabaya yang rekomended : Pricelist iJoe Apple Service Surabaya

Apakah Trump Tidak Menghendaki Perdamaian?

Pertanyaan ini kerap muncul di ruang publik: apakah langkah Trump menunjukkan bahwa Amerika tidak menghendaki perdamaian di Gaza?

Jawabannya tidak sesederhana itu.

Pada masa kepemimpinannya, Trump pernah meluncurkan rencana perdamaian Timur Tengah yang disebut “Deal of the Century”. Namun proposal tersebut dinilai lebih menguntungkan Israel dan ditolak oleh otoritas Palestina.

Pendekatan Trump cenderung bilateral dan transaksional—mengandalkan negosiasi langsung antarnegara, bukan forum multilateral seperti PBB. Dari sudut pandang pendukungnya, model ini dianggap lebih cepat dan praktis. Dari sisi kritik, pendekatan tersebut dinilai mengabaikan prinsip keadilan dan konsensus internasional.

Rekomendasi Cakwar.com: Erupsi Gunung Semeru Pagi Ini: Awan Panas Guguran Meluncur 6 Kilometer ke Besuk Kobokan

Dengan kata lain, perdebatan bukan sekadar soal ingin atau tidak ingin damai, melainkan tentang bagaimana definisi dan mekanisme perdamaian itu sendiri.

Apa Istimewanya Board of Peace?

Jika tidak memiliki mandat formal, lalu apa daya tarik Board of Peace?

Beberapa analis melihat inisiatif semacam ini sebagai ruang diplomasi alternatif. Forum non-formal terkadang bisa lebih fleksibel, tidak terikat prosedur birokratis, dan memungkinkan dialog lintas aktor—termasuk tokoh masyarakat sipil.

Namun tanpa legitimasi global dan kekuatan hukum, pengaruhnya sangat terbatas. Ia tidak bisa memaksa gencatan senjata, tidak bisa menjatuhkan sanksi, dan tidak bisa mengirim pasukan penjaga perdamaian.

Bandingkan dengan PBB yang memiliki badan seperti UNRWA untuk pengungsi Palestina atau misi penjaga perdamaian di berbagai wilayah konflik. Walau sering dikritik, struktur PBB jauh lebih mapan.

Mengapa Indonesia Dikaitkan?

Indonesia selama ini konsisten mendukung kemerdekaan Palestina sesuai amanat konstitusi. Posisi ini juga aktif disuarakan dalam forum internasional, termasuk OKI dan PBB.

Jika ada ajakan bergabung dalam forum seperti Board of Peace, Indonesia tentu perlu mempertimbangkan aspek legitimasi, efektivitas, dan konsistensi politik luar negeri bebas aktif.

Masuk ke forum non-formal bukan berarti meninggalkan PBB. Namun jika forum tersebut tidak memiliki pengaruh nyata, manfaat strategisnya patut dipertanyakan.

Gaza Butuh Solusi Nyata, Bukan Sekadar Narasi

Konflik di Jalur Gaza telah berlangsung puluhan tahun, dengan siklus kekerasan yang terus berulang. Ribuan korban sipil, krisis kemanusiaan, dan blokade berkepanjangan menuntut solusi konkret.

Apakah itu melalui PBB, OKI, mediasi regional, atau inisiatif alternatif seperti Board of Peace, yang paling penting adalah adanya komitmen nyata untuk:

  • Gencatan senjata permanen
  • Perlindungan warga sipil
  • Akses bantuan kemanusiaan
  • Solusi dua negara yang adil dan berkelanjutan

Tanpa dukungan kekuatan besar dan legitimasi internasional, upaya perdamaian akan sulit mencapai hasil maksimal.

Penutup: Diplomasi Butuh Legitimasi dan Konsistensi

Isu Board of Peace dan sikap Amerika terhadap PBB mencerminkan dinamika baru dalam politik global. Dunia tidak lagi sepenuhnya bertumpu pada satu forum, tetapi juga belum menemukan alternatif yang lebih kuat dan sah.

Apakah pendekatan di luar PBB akan lebih efektif? Ataukah justru memperlemah tatanan internasional yang sudah ada?

Pada akhirnya, perdamaian di Gaza tidak hanya ditentukan oleh satu negara atau satu forum, melainkan oleh kemauan kolektif komunitas internasional untuk menempatkan kemanusiaan di atas kepentingan geopolitik.

Bagi pembaca yang ingin memahami lebih dalam dinamika politik global dan dampaknya bagi Indonesia, Anda bisa membaca artikel-artikel analisis lainnya yang tak kalah menarik di media digital cakwar.com. Diskursus yang jernih dan berbasis fakta menjadi kunci agar kita tidak terjebak dalam narasi yang membingungkan di tengah arus informasi global.

#TERBARU

#TEKNOLOGI

CakWar.com

Dunia

Politik Internasional

Militer

Acara

Indonesia

Bisnis

Teknologi

Pendidikan

Cuaca

Seni

Ulas Buku

Buku Best Seller

Musik

Film

Televisi

Pop Culture

Theater

Gaya Hidup

Kuliner

Kesehatan

Review Apple Store

Cinta

Liburan

Fashion

Gaya

Opini

Politik Negeri

Review Termpat

Mahasiswa

Demonstrasi

© 2025 Cak War Company | CW | Contact Us | Accessibility | Work with us | Advertise | T Brand Studio | Your Ad Choices | Privacy Policy | Terms of Service | Terms of Sale | Site Map | Help | Subscriptions