Nama Jose Mourinho selalu punya tempat khusus dalam sejarah Liga Champions. Ia pernah dielu-elukan sebagai “The Special One” setelah menaklukkan Eropa bersama dua klub berbeda. Namun musim 2025/26 menjadi bab terbaru yang terasa pahit. Setelah lima tahun absen, Mourinho akhirnya kembali mencicipi atmosfer Liga Champions bersama Benfica. Sayangnya, kisahnya lagi-lagi berakhir cepat di fase gugur.
Benfica harus mengakui keunggulan Real Madrid di playoff babak 16 besar dengan agregat 1-3. Kekalahan itu bukan sekadar hasil pertandingan, tetapi memperpanjang tren kurang bersahabat Mourinho dengan fase knockout dalam beberapa musim terakhir partisipasinya di kompetisi elite Eropa tersebut.
Rekomendasi Cak war: iJoe – Apple Service Surabaya, Tempat Service Iphone, iMac, iPad dan iWatch Terpercaya di Surabaya
Lima Tahun Absen, Harapan Baru yang Tak Tuntas
Musim ini sejatinya menjadi momen spesial bagi Mourinho. Setelah lima tahun tidak tampil di Liga Champions, kembalinya ia ke panggung terbesar Eropa memunculkan optimisme baru. Benfica, klub raksasa Portugal dengan sejarah panjang di kompetisi Eropa, diyakini bisa menjadi kendaraan tepat untuk menghidupkan kembali sentuhan magis Mourinho.
Di fase grup, Benfica tampil kompetitif dan berhasil mengamankan tiket ke babak gugur. Permainan pragmatis khas Mourinho masih terlihat: disiplin bertahan, transisi cepat, dan memaksimalkan peluang sekecil apa pun.
Namun, ketika berhadapan dengan Real Madrid—tim dengan tradisi kuat di Liga Champions—Benfica tak mampu melangkah lebih jauh. Kekalahan agregat 1-3 menunjukkan adanya jurang kualitas, baik dari sisi kedalaman skuad maupun pengalaman di laga-laga krusial.
Artikel Lainnya:
Fase Gugur yang Jadi Momok
Kegagalan bersama Benfica bukan kasus tunggal. Dalam beberapa musim terakhir sebelum absen, Mourinho memang berulang kali tersingkir di babak 16 besar.
Pada musim 2019/2020, ia gagal membawa Tottenham Hotspur melangkah jauh. Dua musim sebelumnya, 2017/2018, ia juga tersingkir bersama Manchester United di fase yang sama.
Lebih jauh ke belakang, pada 2014/2015 dan 2015/2016 bersama Chelsea, Mourinho kembali kandas di babak 16 besar. Bahkan pada 2018, ia hanya membawa Manchester United sampai fase grup sebelum akhirnya diberhentikan dari kursi pelatih.
Statistik ini menimbulkan pertanyaan: apakah pendekatan taktik Mourinho mulai kehilangan relevansi di level tertinggi Eropa?
.Price List Service Apple di Surabaya yang rekomended : Pricelist iJoe Apple Service Surabaya
👉Baca juga artikel tentang: PBOC Intervensi Nilai Tukar, Yuan yang Menguat Tajam Mulai Dikendalikan
Dari Raja Eropa ke Pelatih yang Diuji Zaman
Ironisnya, Mourinho justru dikenal sebagai salah satu pelatih tersukses dalam sejarah Liga Champions. Ia meraih dua gelar juara bersama dua klub berbeda—sebuah pencapaian langka.
Pada 2003/2004, ia membawa FC Porto menjuarai Liga Champions dengan status underdog. Sepuluh tahun kemudian, pada 2009/2010, ia mengantarkan Inter Milan meraih treble bersejarah, termasuk trofi Liga Champions.
Kesuksesan tersebut membentuk citra Mourinho sebagai ahli strategi laga dua leg. Ia dikenal piawai membaca kelemahan lawan dan memanfaatkan detail kecil untuk membalikkan keadaan.
Namun sepakbola terus berkembang. Intensitas permainan meningkat, pressing menjadi lebih agresif, dan pendekatan taktik menjadi lebih dinamis. Banyak pelatih muda membawa filosofi baru yang lebih adaptif terhadap perubahan tempo permainan modern.
Realitas Sepakbola Modern
Kekalahan Benfica dari Real Madrid memperlihatkan bahwa Liga Champions kini semakin kompetitif. Klub-klub elite memiliki kedalaman skuad luar biasa dan didukung sumber daya finansial besar.
Mourinho tetap mempertahankan gaya pragmatisnya—fokus pada organisasi pertahanan dan efisiensi serangan. Namun menghadapi tim dengan kreativitas tinggi dan kecepatan permainan seperti Real Madrid, strategi bertahan saja sering kali tidak cukup.
Dalam duel tersebut, Benfica kesulitan mengimbangi intensitas dan variasi serangan lawan. Meski sempat memberikan perlawanan, perbedaan kualitas individu menjadi penentu.
Price List Service Apple di Surabaya yang rekomended : Pricelist iJoe Apple Service Surabaya
Antara Warisan dan Tantangan
Perjalanan Mourinho di Liga Champions kini seperti dua sisi mata uang. Di satu sisi, ia adalah legenda dengan dua trofi dan sejarah gemilang. Di sisi lain, dalam satu dekade terakhir, ia kesulitan melampaui babak 16 besar.
Situasi ini memunculkan diskusi luas di kalangan pengamat sepakbola. Apakah Mourinho masih bisa beradaptasi dengan evolusi taktik modern? Ataukah reputasinya sebagai pelatih spesialis turnamen sudah memasuki fase senja?
Namun satu hal yang tak bisa disangkal: pengalaman dan mentalitas Mourinho tetap menjadi aset berharga. Ia dikenal sebagai pelatih yang mampu membangun mental juara dan menciptakan atmosfer kompetitif di ruang ganti.
Rekomendasi Cakwar.com: Trump Terima Briefing CENTCOM soal Eskalasi Iran, AS Disebut Hitung Mundur Opsi Militer
Masa Depan Mourinho Bersama Benfica
Kegagalan di Liga Champions bukan akhir segalanya bagi Mourinho di Benfica. Kompetisi domestik dan turnamen lainnya masih bisa menjadi panggung pembuktian.
Benfica sendiri memiliki tradisi kuat dalam pengembangan pemain muda dan stabilitas manajemen. Jika diberi waktu dan dukungan, Mourinho berpeluang membangun proyek jangka panjang yang lebih solid.
Bagi Mourinho, tantangan ini mungkin menjadi motivasi tambahan. Ia pernah bangkit dari tekanan sebelumnya dan membuktikan diri di berbagai liga top Eropa.
Media sosial:
Penutup: Bab yang Belum Selesai
Liga Champions dan Jose Mourinho pernah menjadi kombinasi mematikan. Kini hubungan itu terasa lebih kompleks—dipenuhi nostalgia kejayaan sekaligus tantangan realitas modern.
Kekalahan Benfica dari Real Madrid memang memperpanjang catatan kurang apik Mourinho di fase gugur. Namun sejarah menunjukkan bahwa sosok “The Special One” kerap bangkit ketika diragukan.
Apakah musim depan akan menjadi momen kebangkitan atau justru penguatan tren? Waktu yang akan menjawab.
Untuk mengikuti perkembangan Liga Champions, dinamika pelatih top Eropa, dan kabar terbaru dunia sepakbola, baca artikel menarik lainnya hanya di media digital cakwar.com.
Gerhana Bulan Total 3 Maret 2026 Bisa Disaksikan di Seluruh Indonesia, Ini Jadwal dan Cara Mengamatinya February 28, 2026 Rahmat Yanuar Fenomena Gerhana Bulan Total 3 Maret 2026 menjadi salah...
Read MorePomdam Cenderawasih Usut Dugaan Perselingkuhan Istri Anggota TNI dengan 13 Prajurit February 28, 2026 Rahmat Yanuar Informasi mengenai dugaan perselingkuhan istri anggota TNI dengan 13 prajurit di wilayah Papua mendadak...
Read MoreAS Mulai Serangan ke Iran Usai Aksi Israel, Operasi Militer Gabungan Picu Ketegangan Baru di Timur Tengah February 28, 2026 Rahmat Yanuar Amerika Serikat (AS) dilaporkan mulai melancarkan serangan terhadap...
Read MoreMahasiswa Dibacok Saat Tunggu Sidang Skripsi di UIN Suska Pekanbaru, Pelaku Langsung Diamankan February 28, 2026 Rahmat Yanuar Suasana akademik yang seharusnya khidmat mendadak berubah mencekam di Universitas Islam Negeri...
Read MoreReview Jujur Kamera iPhone 17 Pro: Masih Terbaik untuk Video, Tapi Kalah Skor Foto dari Huawei? February 27, 2026 Rahmat Yanuar Setiap kali Apple meluncurkan iPhone generasi terbaru, satu hal...
Read MoreApple Pindahkan Produksi Mac Mini ke AS, Respons Tekanan Tarif Presiden Donald Trump February 26, 2026 Rahmat Yanuar Langkah strategis akhirnya diambil Apple. Raksasa teknologi asal Cupertino itu berkomitmen memindahkan...
Read MoreBocoran iPhone 17e: Rilis 19 Februari 2026 dengan Harga Mulai 599 Dollar AS? February 16, 2026 Rahmat Yanuar Kabar mengenai iPhone 17e kembali mencuat dan memicu perbincangan di kalangan penggemar...
Read MoreiOS 26.3 Resmi Dirilis, Apple Permudah Transfer Data dari iPhone ke Android February 12, 2026 Rahmat Yanuar Apple kembali menghadirkan pembaruan sistem operasi lewat iOS 26.3 dengan sejumlah perubahan yang...
Read More
© 2025 Cak War Company | CW | Contact Us | Accessibility | Work with us | Advertise | T Brand Studio | Your Ad Choices | Privacy Policy | Terms of Service | Terms of Sale | Site Map | Help | Subscriptions