Kasus Impor Gula ala Tom Lembong, Politik, Ekonomi, dan Rasa Manis yang Jadi Pahit

Belakangan ini publik lagi rame ngomongin soal impor gula yang disorot oleh Thomas Trikasih Lembong, mantan Menteri Perdagangan yang akrab disapa Tom Lembong. Di tengah isu pangan nasional, gula jadi salah satu barang yang nggak pernah lepas dari drama politik dan tarik-menarik kepentingan. Harga naik, stok kurang, dan ujung-ujungnya impor lagi, impor lagi.

Tom Lembong ikut buka suara soal masalah ini, dan pernyataannya bikin banyak pihak angkat alis. Katanya, impor gula sering kali nggak bisa dihindari karena kebutuhan dalam negeri lebih besar dibanding produksi nasional. Tapi di sisi lain, isu impor ini juga jadi bahan politik yang gampang banget dipelintir.

Kenapa Gula Selalu Jadi Masalah?

Gula bukan sekadar soal manis di kopi atau teh. Ini soal kebutuhan pokok yang sensitif banget di masyarakat. Bayangin aja, begitu harga gula naik seribu-dua ribu rupiah, langsung terasa dampaknya di warung kopi, pedagang kue, sampai rumah tangga kecil.

Masalahnya, produksi gula lokal kita masih sering nggak stabil. Banyak pabrik gula tua yang mesinnya sudah ketinggalan zaman, ditambah produktivitas tebu yang nggak maksimal. Alhasil, tiap tahun Indonesia selalu defisit produksi. Jalan pintas yang sering diambil? Ya jelas impor.

Nah, di sinilah politik mulai masuk. Impor gula nggak cuma soal kebutuhan pasar, tapi juga soal izin, kuota, dan siapa yang dapat keuntungan. Dan percayalah, urusan ini sering bikin publik sinis karena terasa lebih menguntungkan segelintir pihak dibanding rakyat banyak.

Suara Tom Lembong dan Efeknya

Ketika Tom Lembong ngomong soal impor gula, banyak orang merasa dia sekadar mengulang kenyataan pahit yang sudah lama kita tahu. Tapi karena dia mantan pejabat yang dulu pernah pegang kendali perdagangan, pernyataannya jadi punya bobot lebih.

Bagi sebagian orang, ucapan Tom dianggap sebagai kritik terhadap kebijakan sekarang. Bagi yang lain, ini cuma sekadar “wejangan” dari mantan pejabat yang paham seluk-beluk perdagangan global. Tapi yang jelas, statement ini berhasil bikin isu impor gula naik lagi ke permukaan.

Rakyat di Tengah Pusaran Isu

Di level masyarakat, isu impor gula ini jelas bikin bingung. Rakyat kecil sebenarnya nggak peduli gula itu hasil kebun tebu lokal atau datang dari luar negeri. Yang penting harganya stabil dan mudah didapat. Tapi begitu isu impor naik, masyarakat jadi ikut-ikutan merasakan imbasnya.

Apalagi ketika harga gula lokal dipaksa turun karena banjir impor. Petani tebu bisa merugi, sementara pedagang kecil juga sering kena efek domino dari perubahan harga. Akhirnya, yang di atas ribut soal kebijakan, yang di bawah malah merasakan langsung pahitnya.

Politik di Balik Manisnya Gula

Kalau dipikir-pikir, gula ini memang unik. Satu komoditas kecil bisa bikin perdebatan panjang di ranah politik. Sebab, impor bukan sekadar keputusan ekonomi, tapi juga cermin dari tata kelola negara. Apakah pemerintah berpihak ke petani lokal? Atau lebih nyaman main cepat dengan impor?

Isu ini juga sering dipakai sebagai amunisi politik. Lawan politik bisa dengan mudah menyerang dengan narasi “pemerintah gagal swasembada” atau “kebijakan impor hanya menguntungkan cukong”. Dan jujur saja, di mata rakyat, narasi semacam ini gampang diterima.

Harapan Publik: Jangan Sekadar Janji Manis

Masyarakat tentu berharap pemerintah bisa bener-bener serius membenahi masalah gula ini, bukan cuma terjebak pada siklus impor tahunan. Modernisasi pabrik gula, peningkatan produktivitas tebu, dan keberpihakan pada petani lokal seharusnya jadi fokus utama.

Kalau itu bisa dilakukan, isu impor nggak lagi jadi momok. Rakyat bisa tenang karena gula tersedia, petani merasa dihargai, dan pemerintah bisa terhindar dari kritik yang itu-itu saja.

Di sisi lain, publik juga butuh transparansi. Setiap kebijakan impor harus jelas alasan dan perhitungannya, bukan tiba-tiba keluar keputusan yang bikin harga pasar jungkir balik. Di era digital sekarang, rakyat lebih pintar membaca situasi, dan mereka nggak mau lagi dibodohi dengan narasi normatif.

Dari Manis Jadi Pelajaran

Kasus impor gula yang kembali ramai lewat suara Tom Lembong ini seakan jadi pengingat kalau urusan pangan nggak bisa dipisahkan dari politik. Gula memang manis, tapi kalau pengelolaannya ngaco, yang muncul justru rasa pahit.

Pada akhirnya, rakyat cuma butuh kepastian: harga terjangkau, pasokan aman, dan petani tetap bisa hidup layak. Kalau itu bisa dipenuhi, impor atau tidak, rakyat akan lebih legowo. Tapi kalau masih ada kesan lebih mengutamakan kepentingan elit, jangan salahkan kalau isu ini terus jadi bahan sindiran di meja warung kopi sampai timeline media sosial.

#TERBARU

#TEKNOLOGI

CakWar.com

Dunia

Politik Internasional

Militer

Acara

Indonesia

Bisnis

Teknologi

Pendidikan

Cuaca

Seni

Ulas Buku

Buku Best Seller

Musik

Film

Televisi

Pop Culture

Theater

Gaya Hidup

Kuliner

Kesehatan

Review Apple Store

Cinta

Liburan

Fashion

Gaya

Opini

Politik Negeri

Review Termpat

Mahasiswa

Demonstrasi

© 2025 Cak War Company | CW | Contact Us | Accessibility | Work with us | Advertise | T Brand Studio | Your Ad Choices | Privacy Policy | Terms of Service | Terms of Sale | Site Map | Help | Subscriptions