Pemerintah Inggris bersiap mengambil langkah tegas terkait akses anak muda ke media sosial. Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer, menegaskan kebijakan tersebut akan diputuskan dalam hitungan bulan, bukan tahun. Namun ia juga menekankan, percepatan itu tidak otomatis berarti pelarangan total bagi anak di bawah usia 16 tahun.
Pernyataan ini disampaikan di tengah meningkatnya kekhawatiran global tentang dampak media sosial dan teknologi berbasis kecerdasan buatan terhadap kesehatan mental serta keselamatan anak. Pemerintah Inggris disebut ingin bergerak cepat, tetapi tetap berhati-hati mengingat kompleksitas isu yang dihadapi.
Rekomendasi Cak war: iJoe – Apple Service Surabaya, Tempat Service Iphone, iMac, iPad dan iWatch Terpercaya di Surabaya
Isu Kompleks, Larangan Jadi Salah Satu Opsi
Mengutip laporan The Guardian, Starmer menyebut pembatasan media sosial bagi anak merupakan persoalan yang sangat penting dan tidak bisa diputuskan secara gegabah.
“Saya pikir ini adalah isu yang sangat penting sehingga kita perlu mempertimbangkan pelarangan sebagai salah satu kemungkinannya,” ujar Starmer.
Meski begitu, ia mengakui terdapat argumen kuat di kedua sisi. Pemerintah ingin melindungi anak dari risiko paparan konten berbahaya, kecanduan digital, hingga ancaman eksploitasi daring. Namun di sisi lain, pelarangan total juga dinilai berpotensi menimbulkan dampak tak terduga.
Starmer menyinggung pandangan lembaga perlindungan anak NSPCC yang menilai larangan total justru bisa mendorong anak-anak ke ruang digital yang lebih gelap dan sulit diawasi.
“NSPCC, yang jelas merupakan organisasi yang sangat peduli dengan perlindungan anak, mengatakan tidak, itu akan mendorong anak-anak ke tempat yang lebih gelap lagi,” katanya.
Artinya, pembatasan ketat tanpa pendekatan edukatif bisa membuat remaja mencari celah melalui platform alternatif yang lebih tertutup dan minim pengawasan.
Kekhawatiran Remaja: Media Sosial sebagai Sumber Informasi
Starmer juga mengaku mendengar langsung aspirasi dari remaja berusia 15 dan 16 tahun. Mereka menyampaikan kekhawatiran kehilangan akses informasi jika media sosial dibatasi.
“Mereka berkata kepada saya, lihat, kami mendapatkan berita dari media sosial, kami tidak membaca koran,” ujarnya.
Pernyataan ini menyoroti perubahan pola konsumsi informasi generasi muda. Bagi banyak remaja, media sosial bukan sekadar ruang hiburan, tetapi juga sumber berita, diskusi publik, hingga partisipasi sosial.
Data berbagai survei di Eropa menunjukkan mayoritas remaja mengakses berita pertama kali melalui platform digital, bukan media cetak atau televisi. Kondisi ini membuat kebijakan pembatasan harus mempertimbangkan aspek literasi digital dan akses informasi.
Price List Service Apple di Surabaya yang rekomended : Pricelist iJoe Apple Service Surabaya
👉Baca juga artikel tentang: SEAblings Bersatu di X: Tagar #SeaSibling Trending Usai Dugaan Komentar Rasis K-Netz
Fokus pada Chatbot AI dan Risiko Baru
Selain isu media sosial, pemerintah Inggris juga berkomitmen menindak chatbot berbasis kecerdasan buatan (AI) yang dinilai membahayakan anak-anak. Teknologi AI generatif yang semakin canggih memungkinkan interaksi personal dengan pengguna, termasuk anak di bawah umur.
Kekhawatiran muncul terkait potensi paparan konten tidak pantas, manipulasi psikologis, atau penyalahgunaan data pribadi. Pemerintah ingin memastikan platform teknologi mematuhi standar keamanan yang ketat, terutama dalam melindungi pengguna usia muda.
Pendekatan ini menunjukkan bahwa regulasi tidak hanya menyasar media sosial konvensional, tetapi juga ekosistem digital yang lebih luas.
Amandemen Dua RUU di Parlemen
Melalui Downing Street, pemerintah Inggris menyatakan akan mempercepat kebijakan dengan mengajukan amandemen pada dua rancangan undang-undang yang sedang dibahas parlemen, yakni RUU kesejahteraan anak dan sekolah, serta RUU kejahatan dan kepolisian.
Langkah ini menunjukkan bahwa pembatasan akses media sosial bagi anak akan diintegrasikan dalam kerangka perlindungan anak yang lebih komprehensif, bukan berdiri sebagai regulasi terpisah.
Meski belum ada keputusan final soal batas usia atau bentuk pembatasan, arah kebijakan Inggris tampak mengarah pada kombinasi pengawasan, verifikasi usia, dan tanggung jawab platform digital.
Price List Service Apple di Surabaya yang rekomended : Pricelist iJoe Apple Service Surabaya
Tren Global: Inggris Bukan Satu-Satunya
Wacana pembatasan media sosial bagi remaja kini menguat di berbagai negara. Di Eropa, Pedro Sánchez menegaskan rencana Spanyol untuk melarang akses media sosial bagi anak usia 16 tahun. Sementara Yunani, menurut laporan Reuters, bahkan mempertimbangkan batas usia lebih rendah, yakni di bawah 15 tahun.
Di kawasan Asia-Pasifik, Australia mengambil langkah paling tegas. Pada Desember 2025, pemerintah Australia memblokir total akun media sosial bagi anak di bawah 16 tahun.
Indonesia lebih dulu menerapkan kebijakan melalui PP Tunas sejak Maret 2025. Pendekatannya berbeda: klasifikasi usia 13–18 tahun tetap memungkinkan kepemilikan akun dengan persetujuan orang tua. Model ini menekankan peran keluarga dalam pengawasan aktivitas digital anak.
Malaysia dan India juga sedang mengkaji regulasi serupa. Malaysia disebut mengacu pada model Australia, meski belum ada keputusan final.
Perbedaan pendekatan ini menunjukkan bahwa belum ada model tunggal yang dianggap paling efektif. Setiap negara menyesuaikan kebijakan dengan konteks sosial, budaya, dan kesiapan infrastruktur digitalnya.
Rekomendasi Cakwar.com: Wacana Kembalikan UU KPK ke Versi Lama Menguat, Apa Perbedaan UU KPK Lama dan Revisi 2019?
Tantangan Implementasi
Membatasi akses media sosial bukan perkara sederhana. Salah satu tantangan terbesar adalah verifikasi usia secara akurat tanpa melanggar privasi pengguna.
Platform teknologi global menghadapi tekanan untuk menyediakan sistem yang mampu memverifikasi usia dengan aman. Namun teknologi verifikasi biometrik atau identitas digital juga menimbulkan kekhawatiran soal keamanan data.
Selain itu, pembatasan formal belum tentu mengurangi penggunaan secara signifikan. Remaja sering kali memiliki kemampuan teknologi yang lebih cepat beradaptasi, termasuk menemukan celah sistem.
Karena itu, banyak pakar menilai kebijakan pembatasan harus dibarengi edukasi literasi digital, peningkatan pengawasan orang tua, dan transparansi algoritma platform.
Media sosial:
Mencari Titik Tengah
Pernyataan Keir Starmer menunjukkan pemerintah Inggris masih mencari titik tengah antara perlindungan dan kebebasan. Larangan total menjadi opsi, tetapi bukan satu-satunya solusi.
Perdebatan ini mencerminkan dilema global: bagaimana melindungi generasi muda dari risiko digital tanpa mengisolasi mereka dari dunia yang kini semakin terhubung secara daring.
Keputusan Inggris dalam beberapa bulan ke depan kemungkinan akan menjadi referensi penting bagi negara lain yang tengah mengkaji kebijakan serupa.
Isu pembatasan media sosial bagi anak bukan sekadar soal teknologi, melainkan tentang masa depan generasi digital. Apakah regulasi ketat menjadi jawaban, atau justru pendekatan kolaboratif yang lebih efektif?
Kami akan terus mengikuti perkembangan kebijakan ini dan dampaknya di berbagai negara. Untuk membaca analisis mendalam dan berita internasional lainnya, kunjungi media digital cakwar.com dan temukan ulasan informatif yang relevan dengan dinamika global terkini.
Hilal Ramadan Belum Terlihat di Surabaya, Uinsa: Posisi Masih di Bawah Ufuk February 17, 2026 Rahmat Yanuar Penentuan awal Ramadan kembali menjadi perhatian umat Islam di Indonesia. Hasil rukyatul hilal...
Read MoreMisteri Kecelakaan Maut Truk Kontainer di Karawang, Polisi Selidiki Dugaan Ada Pihak yang Mengarahkan February 17, 2026 Rahmat Yanuar Kecelakaan maut truk kontainer di Karawang yang menewaskan satu keluarga masih...
Read MoreBMKG Prediksi Hujan Lebat dan Angin Kencang 17 Februari 2026, Sejumlah Wilayah Diminta Waspada February 17, 2026 Rahmat Yanuar Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi sebagian besar wilayah Indonesia...
Read MoreKeir Starmer Percepat Pembatasan Media Sosial untuk Anak, Inggris Kaji Larangan di Bawah 16 Tahun February 17, 2026 Rahmat Yanuar Pemerintah Inggris bersiap mengambil langkah tegas terkait akses anak muda...
Read MoreBocoran iPhone 17e: Rilis 19 Februari 2026 dengan Harga Mulai 599 Dollar AS? February 16, 2026 Rahmat Yanuar Kabar mengenai iPhone 17e kembali mencuat dan memicu perbincangan di kalangan penggemar...
Read MoreiOS 26.3 Resmi Dirilis, Apple Permudah Transfer Data dari iPhone ke Android February 12, 2026 Rahmat Yanuar Apple kembali menghadirkan pembaruan sistem operasi lewat iOS 26.3 dengan sejumlah perubahan yang...
Read MoreSkor DxOMark 2025: Huawei Pura 80 Ultra Kalahkan iPhone 17 Pro untuk Kamera, Tapi Apple Unggul di Video February 12, 2026 Rahmat Yanuar Setiap kali Apple meluncurkan iPhone generasi terbaru,...
Read MoreApple Luncurkan iPhone 17e 19 Februari 2026, Seri Ekonomis dengan Chip A19 dan Apple Intelligence 2.0 February 11, 2026 Rahmat Yanuar iPhone 17e jadi lini ramah anggaran pertama Apple yang...
Read More
© 2025 Cak War Company | CW | Contact Us | Accessibility | Work with us | Advertise | T Brand Studio | Your Ad Choices | Privacy Policy | Terms of Service | Terms of Sale | Site Map | Help | Subscriptions