Keteladanan Rasulullah SAW di Rumah: Mencuci Baju Sendiri hingga Menolak Diistimewakan

Kehidupan Rasulullah SAW selama ini lebih sering dipahami melalui peran besarnya sebagai nabi, pemimpin umat, panglima perang, sekaligus kepala negara. Namun di balik tanggung jawab publik yang besar, terdapat sisi keseharian Nabi Muhammad SAW yang sederhana dan penuh keteladanan. Aktivitas domestik yang beliau lakukan menunjukkan bahwa kemuliaan tidak menghapus kerendahan hati.

Berbagai riwayat hadits dan kitab sejarah mencatat bagaimana Rasulullah SAW menjalani kehidupan rumah tangga secara wajar, bahkan melakukan pekerjaan yang pada masa itu lazim dikerjakan pembantu atau anggota keluarga lain. Kisah-kisah ini menjadi bagian penting dalam memahami akhlak dan karakter beliau secara utuh.

Rekomendasi Cak war: iJoe – Apple Service Surabaya, Tempat Service Iphone, iMac, iPad dan iWatch Terpercaya di Surabaya

Aktivitas Domestik Rasulullah SAW di Rumah

Dalam kitab Asy-Syamail, Imam at-Tirmidzi meriwayatkan sejumlah kisah tentang keseharian Rasulullah SAW. Salah satu riwayat paling populer berasal dari Ummul Mukminin Aisyah RA.

Ketika ditanya mengenai apa yang dilakukan Rasulullah SAW di rumah, Aisyah menjawab bahwa beliau adalah manusia biasa. Ia mencuci bajunya sendiri, memerah susu kambingnya sendiri, dan melayani dirinya sendiri. Pernyataan ini menegaskan bahwa Nabi tidak menggantungkan seluruh urusan rumah tangga kepada orang lain.

Tidak hanya itu, Rasulullah SAW juga menjahit pakaian yang robek dan memperbaiki sandal yang putus. Di tengah kesibukan dakwah dan urusan umat, beliau tetap menyempatkan diri membantu pekerjaan rumah. Keteladanan ini menunjukkan keseimbangan antara tanggung jawab publik dan kehidupan pribadi.

Dalam konteks sosial Arab saat itu, pekerjaan domestik kerap dianggap sebagai ranah perempuan atau budak. Namun Rasulullah SAW justru mematahkan stigma tersebut dengan memberi contoh langsung bahwa membantu di rumah adalah bagian dari akhlak mulia.

Kesabaran dalam Rumah Tangga

Sikap sabar Rasulullah SAW juga tampak dalam interaksinya dengan keluarga. Diriwayatkan bahwa beliau tidak pernah bersikap kasar kepada istri-istrinya. Bahkan ketika terjadi insiden kecil, seperti pecahnya piring karena kecemburuan, beliau merespons dengan tenang dan memungut sendiri serpihan kaca yang berserakan.

Sikap ini menjadi pelajaran penting tentang pengendalian diri dan kematangan emosi. Dalam banyak riwayat, Nabi Muhammad SAW dikenal tidak pernah membalas perlakuan dengan amarah berlebihan, terlebih kepada keluarga.

Teladan ini relevan hingga kini. Dalam kehidupan modern yang serba cepat dan penuh tekanan, menjaga kesabaran di lingkungan keluarga menjadi tantangan tersendiri. Rasulullah SAW menunjukkan bahwa kepemimpinan sejati dimulai dari rumah.

.Price List Service Apple di Surabaya yang rekomended : Pricelist iJoe Apple Service Surabaya

👉Baca juga artikel tentang: Kunjungan Narendra Modi ke Israel Disambut Hangat Netanyahu, Perkuat Kemitraan Strategis di Tengah Geopolitik Memanas

Kepedulian terhadap yang Dianggap Sepele

Kisah keseharian Rasulullah SAW juga menunjukkan kepedulian sosial yang tinggi, bahkan terhadap orang-orang yang sering dianggap tidak penting. Dalam sejumlah riwayat yang dikisahkan kembali dalam buku *Bukan Cinta Manusia Biasa*, disebutkan bahwa Nabi menjenguk seorang anak kecil Yahudi yang sakit. Tindakan ini mencerminkan sikap toleransi dan empati lintas keyakinan.

Beliau juga menyalati jenazah seorang wanita yang biasa menyapu masjid—pekerjaan yang mungkin dipandang remeh oleh sebagian orang. Ketika mengetahui wanita tersebut wafat tanpa sepengetahuannya, Nabi mendatangi kuburnya dan mendoakannya.

Tak hanya itu, Rasulullah SAW pernah memaafkan seorang penagih utang yang menghinanya. Alih-alih membalas dengan kemarahan, beliau justru menunjukkan kelembutan.

Dalam riwayat lain yang tercantum dalam Jami’ At-Tirmidzi, Aisyah RA menceritakan bagaimana Nabi membersihkan sendiri dahak Usamah bin Zaid. Ketika Aisyah menawarkan diri untuk melakukannya, Rasulullah SAW berkata, “Wahai Aisyah, cintailah Usamah karena sesungguhnya aku mencintainya.”

Sikap ini menggambarkan kasih sayang yang tulus serta perhatian terhadap detail-detail kecil dalam hubungan sosial.

Menolak Diistimewakan di Hadapan Sahabat

Kerendahan hati Rasulullah SAW juga tampak ketika beliau bersama para sahabat hendak memasak kambing. Dalam kisah yang diriwayatkan oleh Syaikh Abdul Mun’im Al-Hasyimiyy dalam kitab Akhlaq Ar-Rasul, Nabi membagi tugas kepada para sahabat.

Ketika para sahabat menawarkan diri untuk mengerjakan semuanya dan mempersilakan beliau duduk saja, Rasulullah SAW menolak. Beliau berkata akan mencari dan mengumpulkan kayu bakar sendiri. Para sahabat merasa tidak pantas membiarkan Nabi bekerja, namun beliau menjawab bahwa Allah tidak menyukai seorang hamba yang diistimewakan di hadapan kawan-kawannya.

Sikap ini menunjukkan nilai tawadhu atau rendah hati. Rasulullah SAW tidak ingin diperlakukan secara berlebihan meski memiliki kedudukan tertinggi di antara mereka.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad bin Hanbal dalam Musnad-nya, Rasulullah SAW bersabda agar umatnya tidak berlebihan memujinya sebagaimana kaum Nasrani memuji Nabi Isa AS. Beliau menegaskan bahwa dirinya hanyalah seorang hamba Allah dan Rasul-Nya.

Pesan ini menegaskan prinsip keseimbangan: menghormati tanpa mengkultuskan.

Price List Service Apple di Surabaya yang rekomended : Pricelist iJoe Apple Service Surabaya

Keteladanan yang Relevan Sepanjang Zaman

Keteladanan Rasulullah SAW dalam kehidupan sehari-hari menjadi bagian penting dalam pendidikan akhlak umat Islam. Nilai-nilai seperti kesederhanaan, tanggung jawab pribadi, empati sosial, dan kerendahan hati merupakan fondasi yang tetap relevan dalam konteks modern.

Dalam kajian sejarah Islam, kehidupan Nabi sering dibagi menjadi aspek kenabian, kepemimpinan, dan kemanusiaan. Justru pada sisi kemanusiaan inilah banyak pelajaran praktis dapat dipetik. Aktivitas seperti mencuci pakaian atau memperbaiki sandal mungkin terlihat sederhana, namun di situlah letak pesan moralnya: kemuliaan tidak diukur dari pelayanan yang diterima, melainkan dari kesediaan melayani.

Di tengah budaya yang kerap mengedepankan status dan simbol, teladan Rasulullah SAW menghadirkan perspektif berbeda. Kepemimpinan bukan soal jarak, tetapi kedekatan. Kehormatan bukan soal fasilitas, tetapi akhlak.

Rekomendasi Cakwar.com: Ahli Ibadah yang Bangkrut di Akhirat: Ketika 70 Tahun Ibadah Gugur karena Satu Dosa

Penutup: Meneladani dari Hal-Hal Sederhana

Kisah keseharian Rasulullah SAW di rumah memberikan gambaran utuh tentang pribadi beliau sebagai nabi sekaligus manusia. Dari mencuci baju sendiri, menjahit sandal, hingga menolak diistimewakan, semua menunjukkan karakter tawadhu dan tanggung jawab.

Keteladanan ini bukan sekadar cerita sejarah, tetapi panduan praktis yang bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Membantu pekerjaan rumah, bersikap sabar kepada keluarga, peduli pada sesama, dan tidak mencari perlakuan istimewa adalah nilai-nilai universal yang melintasi zaman.

Media sosial:

Dengan memahami sisi sederhana kehidupan Nabi Muhammad SAW, umat Islam dapat melihat bahwa akhlak mulia dimulai dari tindakan kecil yang dilakukan secara konsisten.

Untuk mendapatkan ulasan inspiratif dan artikel keislaman lainnya yang informatif serta relevan dengan kehidupan modern, pembaca dapat menelusuri berbagai sajian menarik di media digital cakwar.com. Kisah Ulbah bin Zaid di Perang Tabuk, air mata dan doa yang dicatat sebagai sedekah. Inspirasi dari Surah At-Taubah ayat 92.

#TERBARU

#TEKNOLOGI

CakWar.com

Dunia

Politik Internasional

Militer

Acara

Indonesia

Bisnis

Teknologi

Pendidikan

Cuaca

Seni

Ulas Buku

Buku Best Seller

Musik

Film

Televisi

Pop Culture

Theater

Gaya Hidup

Kuliner

Kesehatan

Review Apple Store

Cinta

Liburan

Fashion

Gaya

Opini

Politik Negeri

Review Termpat

Mahasiswa

Demonstrasi

© 2025 Cak War Company | CW | Contact Us | Accessibility | Work with us | Advertise | T Brand Studio | Your Ad Choices | Privacy Policy | Terms of Service | Terms of Sale | Site Map | Help | Subscriptions