Kim Jong Un Buka Peluang Dialog dengan AS, Tegaskan Sikap Permusuhan terhadap Korea Selatan

Pemimpin tertinggi Korea Utara, Kim Jong Un, membuka kemungkinan baru dalam dinamika geopolitik Asia Timur. Dalam pidatonya di kongres Partai Buruh pada Rabu (25/2), Kim memberi sinyal bahwa Pyongyang bersedia menjalin relasi dengan Amerika Serikat, dengan satu syarat utama: Washington harus menghormati status Korea Utara sebagaimana diatur dalam konstitusinya dan menghentikan kebijakan permusuhan.

Namun di saat yang sama, Kim menunjukkan nada jauh lebih keras terhadap Korea Selatan. Ia menegaskan bahwa Korea Utara “tidak punya urusan” dengan Seoul dan akan secara permanen mengecualikan Korea Selatan dari kategori warga negara.

Pernyataan tersebut menandai babak baru dalam hubungan tiga pihak yang selama puluhan tahun diwarnai ketegangan, diplomasi sporadis, dan kebuntuan panjang.

Rekomendasi Cak war: iJoe – Apple Service Surabaya, Tempat Service Iphone, iMac, iPad dan iWatch Terpercaya di Surabaya

Sinyal Dialog Bersyarat ke Washington

Dalam pidatonya, Kim Jong Un menyampaikan bahwa tidak ada alasan bagi Korea Utara untuk menutup pintu dialog dengan Amerika Serikat, selama Washington bersedia mengubah pendekatannya.

“Jika Washington menghormati status negara kita saat ini sebagaimana diatur dalam Konstitusi dan menarik kebijakan permusuhannya, tidak ada alasan kita tak bisa berteman dengan baik dengan Amerika Serikat,” kata Kim.

Pernyataan itu menjadi sorotan karena selama beberapa tahun terakhir hubungan kedua negara cenderung stagnan. Setelah periode diplomasi intens pada 2018–2019 yang diwarnai pertemuan tingkat tinggi, dialog denuklirisasi terhenti tanpa kesepakatan konkret. Sejak itu, Korea Utara terus mengembangkan program rudal balistiknya, sementara Amerika Serikat mempertahankan sanksi ekonomi.

Sinyal dialog bersyarat dari Pyongyang dapat dibaca sebagai upaya membuka ruang negosiasi baru, sekaligus mempertahankan posisi tawar. Dengan menekankan “penghormatan terhadap status negara”, Kim merujuk pada pengakuan kedaulatan penuh Korea Utara sebagai negara bersenjata nuklir—posisi yang selama ini ditolak Washington.

Konteks Hubungan Korea Utara–AS

Hubungan antara Korea Utara dan Amerika Serikat telah lama berada dalam siklus ketegangan dan diplomasi terbatas. Sejak Perang Korea berakhir pada 1953 tanpa perjanjian damai resmi, kedua negara secara teknis masih berada dalam kondisi perang.

Program nuklir Korea Utara menjadi titik utama perselisihan. Amerika Serikat dan sekutunya menuntut denuklirisasi penuh, sementara Pyongyang menganggap senjata nuklir sebagai jaminan keamanan rezim.

Dalam beberapa tahun terakhir, uji coba rudal jarak jauh oleh Korea Utara kembali memicu kekhawatiran internasional. Dewan Keamanan PBB menjatuhkan sanksi tambahan, sementara latihan militer gabungan antara AS dan Korea Selatan terus berlanjut.

Dengan latar belakang tersebut, pernyataan Kim tentang kemungkinan “berteman dengan baik” dengan Amerika Serikat memunculkan spekulasi apakah Pyongyang sedang mengirim pesan strategis—baik untuk Washington maupun untuk audiens domestik.

.Price List Service Apple di Surabaya yang rekomended : Pricelist iJoe Apple Service Surabaya

👉Baca juga artikel tentang: Komarudin Watubun Minta Pemerintahan Prabowo Tak Ulangi Sejarah Freeport dalam Investasi AS

Nada Lebih Agresif terhadap Korea Selatan

Berbeda dengan nada yang relatif terbuka terhadap Amerika Serikat, Kim Jong Un justru menegaskan sikap keras terhadap Korea Selatan.

“Korea Utara sama sekali tidak punya urusan dengan Korea Selatan, entitas yang paling bermusuhan dengannya, dan akan secara permanen mengecualikan Korea Selatan dari kategori warga negara,” ujar Kim.

Pernyataan ini mencerminkan perubahan retorika yang semakin tajam dalam beberapa tahun terakhir. Jika sebelumnya masih ada wacana rekonsiliasi dan persatuan nasional, kini Pyongyang tampak mengambil jarak ideologis dan politik yang lebih tegas.

Hubungan kedua Korea memang memburuk sejak gagalnya sejumlah kesepakatan lintas batas. Jalur komunikasi sempat diputus, dan proyek kerja sama ekonomi seperti kawasan industri Kaesong tidak lagi beroperasi.

Seoul sendiri tetap menekankan pentingnya stabilitas dan dialog, namun situasi keamanan di Semenanjung Korea kini berada dalam kondisi paling tegang dalam beberapa tahun terakhir.

Politik Domestik dan Pesan Eksternal

Pidato Kim di kongres Partai Buruh bukan hanya pesan diplomatik, tetapi juga bagian dari strategi politik domestik. Kongres partai merupakan forum penting untuk menetapkan arah kebijakan nasional, termasuk strategi pertahanan dan ekonomi.

Dengan membuka peluang dialog dengan Amerika Serikat, Kim dapat menunjukkan bahwa Pyongyang tetap memiliki opsi diplomasi, bukan semata konfrontasi. Sementara itu, sikap tegas terhadap Korea Selatan dapat memperkuat narasi kemandirian dan ketahanan nasional di hadapan publik dalam negeri.

Langkah ini juga bisa dipahami sebagai upaya mengatur ulang prioritas hubungan luar negeri Korea Utara. Dalam beberapa tahun terakhir, Pyongyang mempererat kerja sama dengan Rusia dan China, terutama di tengah dinamika geopolitik global yang berubah cepat.

Price List Service Apple di Surabaya yang rekomended : Pricelist iJoe Apple Service Surabaya

Dampak bagi Stabilitas Regional

Sikap terbaru Kim Jong Un memiliki implikasi luas bagi stabilitas Asia Timur. Jika dialog dengan Amerika Serikat benar-benar dibuka kembali, peluang de-eskalasi bisa muncul, meskipun prosesnya dipastikan tidak mudah.

Namun ketegangan yang terus meningkat dengan Korea Selatan tetap menjadi faktor risiko utama. Semenanjung Korea adalah salah satu kawasan paling termiliterisasi di dunia. Kesalahan perhitungan kecil saja dapat memicu krisis yang lebih besar.

Bagi komunitas internasional, pesan dari Pyongyang ini menjadi pengingat bahwa dinamika geopolitik kawasan tidak pernah statis. Setiap perubahan retorika atau kebijakan berpotensi memengaruhi keseimbangan kekuatan regional.

Rekomendasi Cakwar.com: Kapal Induk Terbesar AS USS Gerald R. Ford Justru Hadapi Masalah Internal

Antara Diplomasi dan Konfrontasi

Pernyataan Kim Jong Un memperlihatkan dua wajah kebijakan luar negeri Korea Utara: membuka celah diplomasi dengan satu pihak, sambil memperkeras sikap terhadap pihak lain.

Apakah ini sinyal nyata menuju perundingan baru atau sekadar strategi retorik, masih harus dilihat dalam perkembangan berikutnya. Respons Washington dan Seoul akan menjadi faktor kunci dalam menentukan arah selanjutnya.

Media sosial:

Yang jelas, dinamika hubungan Korea Utara, Amerika Serikat, dan Korea Selatan kembali memasuki fase yang patut dicermati. Dunia akan memperhatikan apakah peluang dialog yang disampaikan Kim dapat berkembang menjadi langkah konkret, atau justru memperdalam jurang ketegangan di kawasan.

Untuk mengikuti perkembangan geopolitik global dan isu internasional lainnya, simak laporan dan analisis terbaru di media digital cakwar.com.

#TERBARU

#TEKNOLOGI

CakWar.com

Dunia

Politik Internasional

Militer

Acara

Indonesia

Bisnis

Teknologi

Pendidikan

Cuaca

Seni

Ulas Buku

Buku Best Seller

Musik

Film

Televisi

Pop Culture

Theater

Gaya Hidup

Kuliner

Kesehatan

Review Apple Store

Cinta

Liburan

Fashion

Gaya

Opini

Politik Negeri

Review Termpat

Mahasiswa

Demonstrasi

© 2025 Cak War Company | CW | Contact Us | Accessibility | Work with us | Advertise | T Brand Studio | Your Ad Choices | Privacy Policy | Terms of Service | Terms of Sale | Site Map | Help | Subscriptions