Kisah Jendela Hafshah di Masjid Nabawi yang Terbuka 1.400 Tahun, Syarat Cinta kepada Rasulullah

Di sudut kompleks Masjid Nabawi, terdapat satu bagian yang kerap menjadi perbincangan para peziarah. Sebuah jendela yang menghadap langsung ke makam Muhammad SAW disebut-sebut telah terbuka selama kurang lebih 1.400 tahun. Kisah di baliknya bukan sekadar cerita arsitektur, melainkan potongan sejarah yang sarat makna cinta dan keteladanan.

Jendela tersebut diyakini berkaitan dengan permintaan Hafshah binti Umar, salah satu istri Rasulullah SAW, ketika terjadi perluasan Masjid Nabawi pada masa kekhalifahan ayahnya, Umar bin Khattab.

Cerita ini terus hidup dalam tradisi lisan dan literatur sejarah Islam, menjadi simbol kerinduan seorang istri kepada suaminya sekaligus wujud penghormatan terhadap Nabi Muhammad SAW.

Rekomendasi Cak war: iJoe – Apple Service Surabaya, Tempat Service Iphone, iMac, iPad dan iWatch Terpercaya di Surabaya

Siapa Hafshah binti Umar?

Hafshah adalah istri keempat Rasulullah SAW dan termasuk dalam jajaran Ummul Mukminin. Nama lengkapnya Hafshah binti Umar bin Khattab, berasal dari suku Adawiyah. Ibunya bernama Zaynab binti Madh’un.

Dalam buku Telaga Cinta Rasulullah karya Fuad Bawazir dijelaskan bahwa Hafshah dikenal sebagai perempuan cerdas, berilmu, dan memiliki keteguhan ibadah yang tinggi. Ia termasuk sedikit perempuan Arab pada masanya yang mampu membaca dan menulis.

Mengutip buku Pahit Manis Rumah Tangga Rasulullah karya A.R. Shohibul Ulum, banyak sahabat yang menjadikan Hafshah sebagai rujukan dalam periwayatan hadis dan persoalan ibadah. Bahkan pada masa Khalifah Abu Bakar, lembaran-lembaran awal Al-Qur’an yang telah dikumpulkan dipercayakan untuk disimpan oleh Hafshah karena integritas dan kapasitas keilmuannya.

Sebelum menikah dengan Rasulullah SAW, Hafshah adalah janda dari Khunais bin Hudzafah, seorang pejuang yang wafat setelah Perang Badar. Dalam usia 18 tahun, ia telah merasakan duka mendalam. Umar bin Khattab yang prihatin atas kondisi putrinya kemudian menyampaikan hal tersebut kepada Rasulullah SAW.

Pada tahun 3 Hijriah, sebelum Perang Uhud, Nabi Muhammad SAW menikahi Hafshah dengan mahar 400 dirham.

Perluasan Masjid Nabawi dan Rumah yang Penuh Kenangan

Masjid Nabawi pada awalnya berdiri sederhana, berdampingan dengan rumah-rumah istri Rasulullah SAW. Seiring meluasnya wilayah Islam dan bertambahnya jumlah jamaah, masjid tersebut tak lagi mampu menampung banyak orang.

Pada tahun 17 Hijriah, Khalifah Umar bin Khattab memutuskan untuk melakukan perluasan. Kebijakan itu membutuhkan pembongkaran beberapa bangunan di sekitar masjid, termasuk rumah Hafshah yang berada di sebelah selatan makam Nabi.

Rumah itu bukan sekadar tempat tinggal. Di sanalah Hafshah pernah menemani Rasulullah SAW, menyimpan kenangan kehidupan rumah tangga bersama beliau. Tak heran jika ia menolak ketika rumah tersebut hendak dirobohkan.

Riwayat menyebutkan bahwa Hafshah menangis dan berkukuh mempertahankan rumahnya. Umar bin Khattab bahkan harus berdiskusi berulang kali dengan putrinya. Saran dari para sahabat, termasuk Aisyah RA, tidak langsung meluluhkan hati Hafshah.

.Price List Service Apple di Surabaya yang rekomended : Pricelist iJoe Apple Service Surabaya

👉Baca juga artikel tentang: Prabowo Evaluasi Keikutsertaan Indonesia di Board of Peace, Dampak Eskalasi AS-Israel ke Iran Jadi Sorotan

Syarat Sebuah Jendela yang Tak Pernah Tertutup

Setelah beberapa malam merenung, Hafshah akhirnya menerima rencana perluasan masjid. Namun, ia mengajukan satu syarat.

Ia bersedia pindah ke kamar milik saudaranya, Abdullah, yang terletak di dekat rumah lamanya. Tetapi ia meminta agar dibuatkan sebuah jendela yang menghadap langsung ke makam Nabi Muhammad SAW. Jendela itu harus selalu terbuka, agar ia bisa memandang pusara suaminya setiap waktu.

Permintaan tersebut disetujui. Sejak saat itu, jendela tersebut dikenal luas dan diyakini tidak pernah ditutup.

Dalam literatur klasik, Imam As-Suyuthi menyebutnya sebagai “Jendela Umar bin al-Khattab”, sementara Ibnu Katsir menamakannya “Jendela Keluarga Umar”. Penyebutan itu menunjukkan keterkaitan kuat antara perluasan masjid, keluarga Umar, dan sejarah awal Islam.

Antara Sejarah dan Tradisi

Kisah jendela Hafshah telah diwariskan turun-temurun dalam narasi sejarah Islam. Bagi para peziarah yang datang ke Madinah, cerita ini menjadi bagian dari pengalaman spiritual ketika berziarah ke Raudhah dan makam Nabi.

Secara arsitektural, Masjid Nabawi telah mengalami berbagai renovasi dan perluasan sepanjang sejarah, mulai dari masa Khulafaur Rasyidin, Dinasti Umayyah, Abbasiyah, hingga pemerintahan modern Arab Saudi. Meski demikian, simbol-simbol sejarah yang berkaitan dengan keluarga Nabi tetap dijaga.

Hingga kini, otoritas setempat tetap mempertahankan bagian tersebut sesuai dengan tradisi yang berkembang. Banyak yang memaknainya sebagai bentuk penghormatan terhadap janji Umar bin Khattab kepada putrinya.

Price List Service Apple di Surabaya yang rekomended : Pricelist iJoe Apple Service Surabaya

Makna di Balik Sebuah Jendela

Terlepas dari detail teknis bangunan yang telah berubah seiring waktu, kisah ini menyimpan pesan mendalam tentang cinta, kesetiaan, dan penghormatan terhadap Rasulullah SAW.

Hafshah bukan sekadar istri Nabi, tetapi juga sosok perempuan berilmu yang memegang amanah besar dalam sejarah Islam. Permintaannya untuk selalu dapat memandang makam Nabi menggambarkan kerinduan yang tulus dan keinginan menjaga ikatan spiritual.

Kisah ini juga mencerminkan dinamika antara kepentingan publik dan perasaan pribadi. Umar bin Khattab sebagai khalifah harus memperluas masjid demi kemaslahatan umat, sementara Hafshah berjuang mempertahankan kenangan pribadinya. Akhirnya, solusi ditemukan melalui dialog dan kesepahaman.

Rekomendasi Cakwar.com: Mojtaba Khamenei Terpilih Jadi Pemimpin Tertinggi Iran Usai Tewasnya Ali Khamenei dalam Serangan AS-Israel

Warisan Sejarah yang Tetap Hidup

Masjid Nabawi hari ini menjadi salah satu masjid terbesar di dunia, mampu menampung jutaan jamaah. Namun di balik kemegahannya, tersimpan cerita-cerita sederhana yang membentuk sejarahnya.

Jendela Hafshah menjadi salah satu simbol bahwa peradaban besar dibangun bukan hanya oleh keputusan politik dan arsitektur megah, tetapi juga oleh kisah manusiawi yang sarat nilai.

Bagi umat Islam, cerita ini menjadi pengingat bahwa cinta kepada Rasulullah SAW bukan sekadar ungkapan, melainkan tercermin dalam sikap dan komitmen menjaga nilai-nilai yang beliau ajarkan.

Media sosial:

 

 Penutup

Kisah jendela Hafshah di Masjid Nabawi yang konon terbuka selama 1.400 tahun bukan hanya cerita sejarah, tetapi juga refleksi tentang cinta, kesetiaan, dan penghormatan kepada Nabi Muhammad SAW. Dari sebuah rumah sederhana di Madinah, lahir simbol yang hingga kini tetap dikenang.

Sejarah Islam menyimpan banyak kisah inspiratif yang relevan hingga hari ini. Untuk membaca artikel keislaman dan sejarah menarik lainnya, Anda dapat menyimak sajian berikutnya di Media digital cakwar.com.

#TERBARU

#TEKNOLOGI

CakWar.com

Dunia

Politik Internasional

Militer

Acara

Indonesia

Bisnis

Teknologi

Pendidikan

Cuaca

Seni

Ulas Buku

Buku Best Seller

Musik

Film

Televisi

Pop Culture

Theater

Gaya Hidup

Kuliner

Kesehatan

Review Apple Store

Cinta

Liburan

Fashion

Gaya

Opini

Politik Negeri

Review Termpat

Mahasiswa

Demonstrasi

© 2025 Cak War Company | CW | Contact Us | Accessibility | Work with us | Advertise | T Brand Studio | Your Ad Choices | Privacy Policy | Terms of Service | Terms of Sale | Site Map | Help | Subscriptions