Kisah Ulbah bin Zaid di Perang Tabuk: Air Mata yang Dicatat sebagai Sedekah oleh Allah

Malam itu, di tengah persiapan besar menghadapi Romawi dalam Perang Tabuk, seorang sahabat Nabi Muhammad SAW menangis dalam sunyi. Namanya Ulbah bin Zaid. Ia bukan panglima, bukan saudagar kaya, dan bukan pula tokoh terpandang. Ia hanyalah seorang muslim fakir yang tak memiliki apa pun untuk disumbangkan. Namun justru dari kesunyian malam itulah lahir sebuah kisah tentang sedekah yang tak biasa—sedekah yang tidak berupa harta, melainkan keikhlasan dan pengampunan.

Kisah Ulbah bin Zaid dalam Perang Tabuk menjadi potret ketulusan iman yang terus dikenang dalam literatur Islam klasik maupun buku-buku inspiratif kontemporer. Di tengah gegap gempita para sahabat yang berlomba menyumbangkan harta, Ulbah hanya mampu bermunajat dengan air mata.

Rekomendasi Cak war: iJoe – Apple Service Surabaya, Tempat Service Iphone, iMac, iPad dan iWatch Terpercaya di Surabaya

Perang Tabuk dan Semangat Pengorbanan

Perang Tabuk terjadi pada tahun ke-9 Hijriah, ketika Rasulullah SAW mempersiapkan pasukan untuk menghadapi ancaman Romawi di wilayah utara Jazirah Arab. Ekspedisi ini dikenal sebagai salah satu momen paling berat dalam sejarah awal Islam. Selain jarak tempuh yang jauh, cuaca sangat panas dan kondisi ekonomi Madinah saat itu tidak sedang baik.

Dalam suasana itu, Rasulullah SAW mengajak kaum muslimin untuk berinfak dan mendukung persiapan pasukan. Para sahabat merespons dengan luar biasa.

Abu Bakar Ash-Shiddiq menyumbangkan 40.000 dirham, bahkan dalam riwayat disebutkan ia menyerahkan hampir seluruh hartanya. Umar bin Khattab memberikan separuh kekayaannya. Utsman bin Affan turut berkontribusi besar dengan menyediakan perlengkapan dan kendaraan bagi pasukan.

Tak hanya kaum kaya, golongan fakir pun ingin ambil bagian. Ada yang menyumbangkan satu sha kurma, ada yang setengah sha. Nilainya mungkin kecil secara materi, tetapi besar dalam niat dan pengorbanan. Namun, sebagian dari mereka sempat menjadi bahan ejekan orang-orang munafik yang meremehkan sumbangan tersebut.

Ulbah bin Zaid dan Kesedihan Seorang Fakir

Di antara mereka, ada Ulbah bin Zaid. Ia tidak memiliki harta, tidak punya kurma, bahkan tidak sanggup menyumbang sedikit pun. Ketika melihat sahabat lain berlomba dalam kebaikan, hatinya justru dipenuhi kesedihan.

Malam itu, ia berdiri dalam salat dan menengadahkan tangan. Air matanya mengalir deras.

“Ya Allah, aku tidak memiliki apa-apa yang dapat kusumbangkan. Namun ya Allah, telah kumaafkan semua orang yang pernah menyakitiku.”

Dalam riwayat lain disebutkan, ia berkata, “Aku bersedekah atas setiap muslim dengan segala kezaliman yang menimpaku baik pada harta, jasad, atau kehormatanku.”

Di sinilah letak makna mendalam kisah Ulbah bin Zaid: ketika ia tak mampu bersedekah dengan harta, ia memilih bersedekah dengan hati. Ia memaafkan semua orang yang pernah menyakitinya, menjadikan pengampunan itu sebagai persembahan kepada Allah SWT.

.Price List Service Apple di Surabaya yang rekomended : Pricelist iJoe Apple Service Surabaya

👉Baca juga artikel tentang: Ahli Ibadah yang Bangkrut di Akhirat: Ketika 70 Tahun Ibadah Gugur karena Satu Dosa

Rasulullah Mengumumkan Sedekah Malam Itu

Keesokan paginya, Ulbah mengikuti salat Subuh berjamaah bersama Rasulullah SAW dan para sahabat. Seusai salat, Rasulullah SAW bertanya kepada para sahabat, “Siapakah yang bersedekah tadi malam?”

Tidak ada yang berdiri. Ulbah pun tetap diam, karena ia merasa tidak memberikan apa pun.

Rasulullah SAW mengulangi pertanyaannya hingga tiga kali. Akhirnya, Ulbah berdiri dan menceritakan doa yang ia panjatkan semalam.

Mendengar itu, Rasulullah SAW mendekatinya dan bersabda, “Bergembiralah, demi (Allah) yang jiwaku berada di Tangan-Nya, engkau telah tercatat bersedekah dengan sedekah yang diterima.”

Ucapan itu menjadi kabar gembira yang tak ternilai bagi Ulbah. Doa dan pengampunannya ternyata dicatat sebagai sedekah yang diterima Allah SWT. Sebuah pengakuan langsung dari Rasulullah SAW yang menunjukkan bahwa nilai amal tidak selalu diukur dari jumlah materi.

Surah At-Taubah Ayat 92: Air Mata yang Tidak Sia-sia

Kisah para sahabat fakir yang tidak mampu ikut berperang atau menyumbang harta juga diabadikan dalam Al-Qur’an, tepatnya dalam Surah At-Taubah ayat 92:

“Tidak (ada dosa) pula bagi orang-orang yang ketika datang kepadamu (Nabi Muhammad) agar engkau menyediakan kendaraan kepada mereka, lalu engkau berkata, ‘Aku tidak mendapatkan kendaraan untuk membawamu.’ Mereka pergi dengan bercucuran air mata karena sedih sebab tidak mendapatkan apa yang akan mereka infakkan (untuk ikut berperang).”

Ayat ini menjadi penghibur bagi kaum miskin yang tulus ingin berjuang, tetapi terhalang kemampuan. Dalam Tafsir Al-Qur’an Kemenag, merujuk riwayat Ibnu Jarir ath-Thabari dari Ibnu Abbas, ayat tersebut berkaitan dengan sahabat bernama Abdullah bin Saffal al-Muzani yang meminta Rasulullah menyediakan kendaraan bagi kaum miskin agar bisa ikut berperang.

Air mata mereka bukan tanda kelemahan, melainkan bukti kesungguhan iman.

Price List Service Apple di Surabaya yang rekomended : Pricelist iJoe Apple Service Surabaya

Makna Sedekah yang Lebih Luas

Kisah Ulbah bin Zaid di Perang Tabuk mengajarkan bahwa sedekah tidak selalu identik dengan uang atau harta benda. Dalam ajaran Islam, senyum adalah sedekah, menyingkirkan duri dari jalan adalah sedekah, bahkan memaafkan pun termasuk sedekah.

Pengampunan yang dilakukan Ulbah adalah bentuk sedekah batin. Ia melepaskan dendam, menghapus sakit hati, dan menyerahkan semua kepada Allah SWT. Dalam konteks sosial, tindakan seperti ini memiliki dampak besar: meredakan konflik, memperkuat persaudaraan, dan membersihkan hati.

Di era modern, ketika ukuran keberhasilan sering kali diukur dari materi, kisah ini menjadi pengingat bahwa nilai di sisi Tuhan tidak selalu sejalan dengan ukuran manusia.

Rekomendasi Cakwar.com: Kim Jong Un Buka Peluang Dialog dengan AS, Tegaskan Sikap Permusuhan terhadap Korea Selatan

Relevansi untuk Kehidupan Saat Ini

Banyak orang hari ini merasa kecil ketika tidak mampu berdonasi dalam jumlah besar. Ada yang merasa malu karena hanya bisa memberi sedikit, atau bahkan tidak bisa memberi sama sekali. Padahal, Islam membuka ruang luas bagi setiap orang untuk berbuat baik sesuai kapasitasnya.

Kisah Ulbah bin Zaid memberikan pesan bahwa keikhlasan dan niat tulus bisa melampaui keterbatasan materi. Sedekah bisa berupa doa, tenaga, ilmu, atau bahkan memaafkan kesalahan orang lain.

Dalam kehidupan sosial yang penuh gesekan, kemampuan memaafkan justru menjadi salah satu bentuk kebaikan yang paling sulit dilakukan. Namun justru di situlah nilai spiritualnya menjadi tinggi.

Media sosial:

Penutup

Kisah Ulbah bin Zaid di Perang Tabuk bukan sekadar cerita sejarah, melainkan pelajaran abadi tentang ketulusan dan makna sedekah yang sesungguhnya. Air mata yang mengalir di malam sunyi itu tidak sia-sia. Ia dicatat sebagai amal yang diterima, bahkan diumumkan langsung oleh Rasulullah SAW di hadapan para sahabat.

Di tengah keterbatasan, selalu ada ruang untuk berbuat baik. Ketika harta tak ada, hati masih bisa memberi.

Semoga kisah ini menjadi pengingat bahwa setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk meraih ridha Allah SWT, apa pun kondisi ekonominya.

Untuk membaca kisah inspiratif dan artikel mendalam lainnya seputar sejarah Islam dan nilai-nilai kehidupan, Anda dapat menemukan berbagai tulisan menarik di media digital cakwar.com.

#TERBARU

#TEKNOLOGI

CakWar.com

Dunia

Politik Internasional

Militer

Acara

Indonesia

Bisnis

Teknologi

Pendidikan

Cuaca

Seni

Ulas Buku

Buku Best Seller

Musik

Film

Televisi

Pop Culture

Theater

Gaya Hidup

Kuliner

Kesehatan

Review Apple Store

Cinta

Liburan

Fashion

Gaya

Opini

Politik Negeri

Review Termpat

Mahasiswa

Demonstrasi

© 2025 Cak War Company | CW | Contact Us | Accessibility | Work with us | Advertise | T Brand Studio | Your Ad Choices | Privacy Policy | Terms of Service | Terms of Sale | Site Map | Help | Subscriptions