Isu transfer data lintas negara dalam perjanjian tarif dagang antara Indonesia dan Amerika Serikat menjadi perhatian serius Komisi I DPR RI. Dalam rapat dan pernyataan publik terbaru, sejumlah anggota dewan menilai klausul terkait aliran data antarnegara tidak bisa dijalankan secara sembarangan, terlebih Indonesia hingga kini belum memiliki lembaga khusus yang secara operasional menangani perlindungan data pribadi.
Sorotan ini mencuat di tengah meningkatnya arus digitalisasi perdagangan global. Data kini menjadi komoditas strategis, tak kalah penting dibanding barang dan jasa. Karena itu, pengaturannya dinilai harus dilakukan dengan kehati-hatian tinggi, terutama menyangkut keamanan dan kedaulatan data warga negara.
Rekomendasi Cak war: iJoe – Apple Service Surabaya, Tempat Service Iphone, iMac, iPad dan iWatch Terpercaya di Surabaya
Transfer Data Lintas Negara Jadi Isu Krusial
Anggota Komisi I DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, TB Hasanuddin, menegaskan bahwa pemerintah tidak boleh mengabaikan ketentuan dalam Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi (UU PDP) saat membahas atau menyepakati klausul transfer data dalam kerja sama perdagangan internasional.
Menurutnya, UU PDP sudah secara tegas mengatur bahwa transfer data pribadi ke luar negeri hanya dapat dilakukan apabila negara penerima memiliki tingkat perlindungan data yang setara atau lebih tinggi, serta melalui mekanisme yang sah dan dapat dipertanggungjawabkan.
“Transfer data tidak bisa dilakukan sembarangan. Harus melalui otoritas perlindungan data yang sah di kedua negara,” ujar Hasanuddin dalam keterangannya.
Pernyataan ini sekaligus menegaskan pentingnya kesetaraan level otoritas antara negara pengirim dan penerima data. Tanpa adanya lembaga yang memiliki kewenangan jelas, mekanisme pengawasan dan penegakan hukum berpotensi menjadi lemah.
Artikel Lainnya:
Indonesia Belum Miliki Otoritas Perlindungan Data yang Mandiri
Salah satu poin yang disoroti adalah belum terbentuknya lembaga perlindungan data pribadi yang mandiri dan operasional di Indonesia. Padahal, UU PDP yang disahkan pada 2022 mengamanatkan pembentukan otoritas tersebut.
Dalam praktik global, banyak negara telah memiliki badan khusus yang mengawasi perlindungan data, seperti data protection authority (DPA) yang berfungsi menerima pengaduan, melakukan investigasi, hingga menjatuhkan sanksi administratif.
Tanpa lembaga ini, Indonesia dinilai belum memiliki instrumen kelembagaan yang kuat untuk memastikan keamanan data warga negara ketika ditransfer ke luar negeri, termasuk dalam konteks kerja sama perdagangan dengan Amerika Serikat.
Hasanuddin pun menyarankan agar pemerintah segera memprioritaskan pembentukan lembaga perlindungan data pribadi sebelum menyepakati klausul transfer data lintas negara yang lebih luas.
Price List Service Apple di Surabaya yang rekomended : Pricelist iJoe Apple Service Surabaya
Baca juga artikel tentang: Kasus TPPO di Sikka: Pemilik Eltras Cafe Ditetapkan Tersangka, 13 Korban Asal Jawa Barat Terungkap
Data sebagai Aset Strategis di Era Ekonomi Digital
Dalam era ekonomi digital, data menjadi bahan bakar utama berbagai sektor, mulai dari e-commerce, layanan keuangan digital, hingga industri teknologi berbasis kecerdasan buatan. Perjanjian dagang modern tidak lagi hanya mengatur tarif barang, tetapi juga mencakup arus data, layanan digital, dan perlindungan konsumen daring.
Amerika Serikat sendiri dikenal sebagai salah satu negara dengan perusahaan teknologi raksasa yang mengelola data dalam skala global. Karena itu, isu transfer data dalam kerja sama dagang dengan Indonesia memiliki implikasi besar, baik dari sisi ekonomi maupun keamanan siber.
Bagi Indonesia, membuka akses transfer data lintas negara dapat mendorong investasi dan integrasi dalam rantai pasok digital global. Namun di sisi lain, terdapat risiko kebocoran data, penyalahgunaan informasi pribadi, hingga lemahnya perlindungan hak privasi warga negara jika regulasi dan pengawasan belum matang.
Kesetaraan Otoritas dan Prinsip Kehati-hatian
Hasanuddin menekankan pentingnya prinsip kesetaraan atau adequacy dalam kerja sama transfer data. Artinya, negara penerima data harus memiliki standar perlindungan yang setara dengan negara pengirim.
Konsep ini lazim diterapkan dalam praktik internasional. Negara-negara yang memiliki regulasi perlindungan data ketat biasanya hanya mengizinkan transfer data ke negara yang sistem hukumnya dinilai memadai dalam menjamin keamanan dan hak subjek data.
Jika Indonesia belum memiliki lembaga otoritas yang jelas dan kuat, maka posisi tawar dalam negosiasi transfer data berpotensi melemah. Hal ini bisa berdampak pada perlindungan data pribadi jutaan warga yang aktivitas digitalnya terus meningkat.
Data menunjukkan, jumlah pengguna internet di Indonesia telah melampaui 200 juta orang. Aktivitas transaksi digital, layanan keuangan daring, hingga penggunaan aplikasi berbasis cloud terus tumbuh signifikan setiap tahun. Dengan volume data sebesar itu, pengelolaan dan pengawasannya menjadi tantangan besar.
Price List Service Apple di Surabaya yang rekomended : Pricelist iJoe Apple Service Surabaya
Antara Kepentingan Ekonomi dan Kedaulatan Data
Perjanjian dagang AS–Indonesia tentu memiliki tujuan strategis dalam memperkuat hubungan ekonomi kedua negara. Namun, DPR mengingatkan bahwa kepentingan ekonomi tidak boleh mengorbankan aspek perlindungan data pribadi.
Kedaulatan data menjadi isu yang semakin relevan di banyak negara. Sejumlah pemerintah bahkan menerapkan kebijakan data localization atau pembatasan transfer data tertentu demi menjaga keamanan nasional dan perlindungan privasi.
Indonesia berada di persimpangan antara kebutuhan untuk tetap kompetitif dalam ekonomi digital global dan kewajiban melindungi hak konstitusional warga negara atas privasi.
Karena itu, pembentukan lembaga perlindungan data pribadi dinilai bukan sekadar formalitas administratif, melainkan fondasi penting untuk memastikan setiap kerja sama internasional berjalan sejalan dengan hukum nasional.
Rekomendasi Cakwar.com: Elon Musk Tak Butuh CV untuk Rekrut Tim AI Tesla, Cukup Kirim 3 Masalah Teknis Tersulit
Dorongan Percepatan Implementasi UU PDP
UU PDP memberikan masa transisi sebelum seluruh ketentuannya berlaku penuh. Namun, DPR menilai percepatan implementasi, termasuk pembentukan otoritas pengawas, menjadi krusial di tengah dinamika kerja sama internasional yang terus berkembang.
Dengan adanya lembaga perlindungan data yang independen dan profesional, mekanisme transfer data lintas negara dapat dilakukan secara terukur, transparan, dan akuntabel. Selain itu, keberadaan otoritas ini juga dapat meningkatkan kepercayaan mitra dagang internasional terhadap sistem perlindungan data Indonesia.
Di sisi lain, dunia usaha juga membutuhkan kepastian hukum. Regulasi yang jelas dan lembaga yang berfungsi efektif akan menciptakan ekosistem digital yang sehat dan kompetitif.
Media sosial:
Menjaga Kepercayaan Publik di Era Digital
Pada akhirnya, isu transfer data dalam perjanjian dagang bukan hanya soal teknis hukum, tetapi juga menyangkut kepercayaan publik. Warga negara perlu diyakinkan bahwa data pribadi mereka tidak diperdagangkan atau dialihkan tanpa perlindungan memadai.
Sorotan dari Komisi I DPR menjadi pengingat bahwa kebijakan ekonomi digital harus selalu dibarengi dengan perlindungan hak individu. Pemerintah diharapkan mampu menyeimbangkan kepentingan pertumbuhan ekonomi dengan prinsip keamanan dan kedaulatan data.
Ke depan, pembentukan lembaga perlindungan data pribadi menjadi langkah strategis yang tak bisa lagi ditunda. Dengan fondasi hukum dan kelembagaan yang kuat, Indonesia dapat lebih percaya diri dalam menjalin kerja sama perdagangan digital dengan berbagai negara.
Untuk mengikuti perkembangan isu kebijakan digital, ekonomi, dan politik nasional secara mendalam dan terpercaya, pembaca dapat menjelajahi artikel menarik lainnya di media digital cakwar.com. Tetap kritis, tetap terinformasi.
Polisi Bongkar Modus eTilang Palsu Catut Kejaksaan Agung, 5 Tersangka Ditangkap dan 135 Link Phishing Ditemukan February 25, 2026 Rahmat Yanuar Praktik penipuan digital kembali memakan korban. Kali ini, modus...
Read MoreKisah Qais bin Shirmah RA Pingsan Saat Puasa, Latar Turunnya Al-Baqarah 187 dan Makna Bijak di Baliknya February 25, 2026 Rahmat Yanuar Puasa Ramadan yang dijalankan umat Islam hari ini...
Read More30 Legislator Demokrat Boikot Pidato State of the Union Donald Trump, Ketegangan Politik AS Memanas Jelang Pemilu Sela February 25, 2026 Rahmat Yanuar Sebanyak 30 legislator dari Partai Demokrat Amerika...
Read MoreMourinho Disorot Usai Komentar soal Vinicius Junior, John Obi Mikel Desak Minta Maaf atas Isu Rasisme February 25, 2026 Rahmat Yanuar Nama Jose Mourinho kembali menjadi perbincangan publik sepak bola....
Read MoreBocoran iPhone 17e: Rilis 19 Februari 2026 dengan Harga Mulai 599 Dollar AS? February 16, 2026 Rahmat Yanuar Kabar mengenai iPhone 17e kembali mencuat dan memicu perbincangan di kalangan penggemar...
Read MoreiOS 26.3 Resmi Dirilis, Apple Permudah Transfer Data dari iPhone ke Android February 12, 2026 Rahmat Yanuar Apple kembali menghadirkan pembaruan sistem operasi lewat iOS 26.3 dengan sejumlah perubahan yang...
Read MoreSkor DxOMark 2025: Huawei Pura 80 Ultra Kalahkan iPhone 17 Pro untuk Kamera, Tapi Apple Unggul di Video February 12, 2026 Rahmat Yanuar Setiap kali Apple meluncurkan iPhone generasi terbaru,...
Read MoreApple Luncurkan iPhone 17e 19 Februari 2026, Seri Ekonomis dengan Chip A19 dan Apple Intelligence 2.0 February 11, 2026 Rahmat Yanuar iPhone 17e jadi lini ramah anggaran pertama Apple yang...
Read More
© 2025 Cak War Company | CW | Contact Us | Accessibility | Work with us | Advertise | T Brand Studio | Your Ad Choices | Privacy Policy | Terms of Service | Terms of Sale | Site Map | Help | Subscriptions