Jagat media sosial tengah diramaikan oleh temuan warganet terkait produk kurma dalam kemasan. Perdebatan mencuat setelah seorang pengguna X mengunggah foto dua label berbeda pada satu produk kurma. Di label asli berbahasa asing tercantum tambahan sirup glukosa dan pengawet E202, namun pada label tambahan berbahasa Indonesia hanya tertulis “kurma”.
Unggahan tersebut memicu pertanyaan publik soal transparansi informasi pangan. “Ada yang bisa jelaskan? Di label asli ada tertera bahan lain. Kenapa di label tambahan bahasa Indonesia cuma di-list buah kurma? Bukannya mesti ditulis semuanya ya?” tulis akun @SeputarTetangga, Kamis (19/2). Pertanyaan itu langsung memancing respons luas dan diskusi panjang di kolom komentar.
Isu ini bukan sekadar polemik di media sosial. Di tengah meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pola makan sehat, informasi komposisi produk menjadi hal krusial. Terlebih, kurma kerap diasosiasikan sebagai makanan alami tanpa tambahan bahan lain.
Rekomendasi Cak war: iJoe – Apple Service Surabaya, Tempat Service Iphone, iMac, iPad dan iWatch Terpercaya di Surabaya
Ramai Dibahas, Publik Pertanyakan Transparansi Label
Perbedaan informasi pada label produk pangan bukan hal sepele. Konsumen memiliki hak untuk mengetahui secara jelas bahan yang terkandung dalam makanan yang mereka konsumsi. Jika pada label asli tercantum tambahan sirup glukosa dan pengawet E202 (kalium sorbat), sementara pada label terjemahan tidak disebutkan, maka wajar jika muncul pertanyaan.
Secara umum, aturan pelabelan pangan di Indonesia mewajibkan produsen atau importir mencantumkan daftar komposisi secara lengkap dan jujur. Komposisi harus ditulis berdasarkan urutan jumlah terbanyak hingga terkecil. Informasi ini penting, terutama bagi konsumen dengan kondisi kesehatan tertentu seperti diabetes atau alergi bahan tertentu.
Dalam kasus kurma kemasan yang viral tersebut, publik mempertanyakan apakah terjadi kelalaian dalam pencantuman informasi, atau ada penjelasan teknis lain di balik perbedaan itu.
Artikel Lainnya:
Kurma Memang Tinggi Gula Secara Alami
Menanggapi polemik tersebut, dokter spesialis gizi, Johanes Chandrawinata, memberikan penjelasan terkait kandungan gula dalam kurma.
“Kurma banyak mengandung gula, terutama glukosa, fruktosa, serta sukrosa. Kandungan gulanya berbeda tergantung jenis kurmanya,” ujar Johanes, Selasa (24/2).
Secara alami, kurma memang dikenal sebagai buah dengan kadar gula tinggi. Dalam satu butir kurma jenis Medjool, misalnya, dapat terkandung sekitar 16 gram gula. Sementara dalam 100 gram kurma tanpa biji, terdapat sekitar 65–70 gram gula.
Artinya, tanpa tambahan apa pun, kurma memang sudah manis secara alami. Kandungan gula tersebut menjadi sumber energi cepat yang kerap dimanfaatkan, terutama saat berbuka puasa.
Namun, gula alami dalam kurma berbeda dengan penambahan sirup glukosa dari luar. Sirup glukosa biasanya ditambahkan dalam proses produksi untuk meningkatkan rasa manis, memperbaiki tekstur, atau memperpanjang daya simpan produk.
Price List Service Apple di Surabaya yang rekomended : Pricelist iJoe Apple Service Surabaya
Baca juga artikel tentang: Elon Musk Tak Butuh CV untuk Rekrut Tim AI Tesla, Cukup Kirim 3 Masalah Teknis Tersulit
Apa Itu Sirup Glukosa dan E202?
Sirup glukosa adalah cairan kental hasil hidrolisis pati, biasanya dari jagung atau sumber pati lainnya. Bahan ini lazim digunakan dalam industri makanan sebagai pemanis tambahan. Sementara E202 merujuk pada kalium sorbat, yaitu pengawet yang umum dipakai untuk mencegah pertumbuhan jamur dan ragi.
Kedua bahan tersebut diizinkan penggunaannya dalam batas tertentu sesuai regulasi keamanan pangan. Namun, tetap harus dicantumkan dalam daftar komposisi agar konsumen mendapatkan informasi yang utuh.
Jika benar terdapat tambahan sirup glukosa dan pengawet pada produk kurma tertentu, maka pencantumannya dalam label bahasa Indonesia menjadi hal yang wajib, bukan pilihan.
Perbedaan Kurma Murni dan Kurma dengan Tambahan
Di pasaran, terdapat dua jenis kurma kemasan yang umum dijumpai. Pertama, kurma murni tanpa tambahan bahan apa pun. Biasanya hanya melalui proses pencucian, pengeringan, dan pengemasan.
Kedua, kurma yang telah melalui proses tambahan seperti pelapisan sirup glukosa untuk mempercantik tampilan atau menjaga kelembapan. Produk jenis kedua ini tetap legal selama mengikuti standar keamanan pangan, namun harus transparan dalam informasi.
Bagi konsumen, perbedaan ini penting. Sebagian orang mungkin tidak keberatan dengan tambahan sirup glukosa. Namun, bagi penderita diabetes atau mereka yang membatasi asupan gula tambahan, informasi tersebut sangat menentukan pilihan.
Price List Service Apple di Surabaya yang rekomended : Pricelist iJoe Apple Service Surabaya
Pentingnya Literasi Label Pangan
Kasus viral ini juga menjadi pengingat tentang pentingnya literasi label pangan. Banyak konsumen masih belum terbiasa membaca daftar komposisi secara detail. Padahal, informasi tersebut dapat memberikan gambaran jelas tentang apa yang sebenarnya dikonsumsi.
Selain komposisi, konsumen juga perlu memperhatikan informasi nilai gizi, tanggal kedaluwarsa, serta izin edar. Di Indonesia, produk pangan olahan yang beredar wajib memiliki izin dari otoritas terkait.
Meningkatnya perhatian publik terhadap label kurma menunjukkan bahwa kesadaran konsumen terus berkembang. Media sosial kini menjadi ruang kontrol sosial yang efektif untuk mengawasi transparansi produk.
Rekomendasi Cakwar.com: Rencana Impor 105.000 Pikap dan Truk dari India Ditolak Serikat Pekerja, Dinilai Ancam Industri Otomotif Nasional
Regulasi dan Tanggung Jawab Pelaku Usaha
Dalam sistem distribusi pangan, tanggung jawab tidak hanya berada di tangan produsen, tetapi juga importir dan distributor. Produk impor yang masuk ke Indonesia wajib menyesuaikan labelnya dengan bahasa Indonesia tanpa mengurangi informasi penting.
Jika terjadi perbedaan informasi antara label asli dan label terjemahan, otoritas berwenang dapat melakukan evaluasi. Prinsip dasarnya adalah perlindungan konsumen dan kejujuran informasi.
Di sisi lain, pelaku usaha juga perlu memastikan bahwa proses pelabelan dilakukan secara akurat. Kesalahan kecil dalam komposisi dapat berdampak pada kepercayaan publik yang sudah dibangun bertahun-tahun.
Bijak Memilih dan Tidak Terburu-buru Menghakimi
Meski diskusi di media sosial berlangsung panas, masyarakat juga diimbau untuk tidak terburu-buru menarik kesimpulan sebelum ada klarifikasi resmi dari pihak terkait.
Media sosial:
Tidak semua perbedaan label otomatis berarti pelanggaran. Bisa saja terjadi kesalahan cetak, perbedaan batch produksi, atau variasi produk yang memang memiliki komposisi berbeda.
Namun, pertanyaan yang diajukan warganet tetap relevan. Transparansi informasi adalah hak konsumen. Jika ada bahan tambahan seperti sirup glukosa atau pengawet, maka sudah seharusnya tercantum jelas dalam label bahasa Indonesia.
Momentum Edukasi Publik
Viralnya isu label kurma ini sejatinya menjadi momentum edukasi publik. Kurma memang kaya manfaat—mengandung serat, mineral seperti kalium, serta antioksidan. Namun, tetap perlu dikonsumsi secara bijak karena kandungan gulanya tinggi.
Bagi masyarakat yang memiliki kondisi kesehatan tertentu, membaca label menjadi langkah penting sebelum membeli produk pangan kemasan. Pilihlah produk dengan komposisi yang sesuai kebutuhan.
Ke depan, diskusi seperti ini diharapkan dapat mendorong praktik bisnis yang lebih transparan dan meningkatkan kesadaran konsumen untuk lebih kritis, tanpa kehilangan sikap objektif.
Pada akhirnya, kepercayaan publik adalah aset utama dalam industri pangan. Transparansi bukan sekadar kewajiban hukum, tetapi juga fondasi hubungan jangka panjang antara produsen dan konsumen.
Untuk mendapatkan ulasan mendalam dan berita aktual lainnya seputar kesehatan, ekonomi, hingga isu sosial yang sedang hangat diperbincangkan, pembaca dapat menjelajahi artikel menarik lainnya di media digital cakwar.com. Tetap kritis, tetap terinformasi.
Polisi Bongkar Modus eTilang Palsu Catut Kejaksaan Agung, 5 Tersangka Ditangkap dan 135 Link Phishing Ditemukan February 25, 2026 Rahmat Yanuar Praktik penipuan digital kembali memakan korban. Kali ini, modus...
Read MoreKisah Qais bin Shirmah RA Pingsan Saat Puasa, Latar Turunnya Al-Baqarah 187 dan Makna Bijak di Baliknya February 25, 2026 Rahmat Yanuar Puasa Ramadan yang dijalankan umat Islam hari ini...
Read More30 Legislator Demokrat Boikot Pidato State of the Union Donald Trump, Ketegangan Politik AS Memanas Jelang Pemilu Sela February 25, 2026 Rahmat Yanuar Sebanyak 30 legislator dari Partai Demokrat Amerika...
Read MoreMourinho Disorot Usai Komentar soal Vinicius Junior, John Obi Mikel Desak Minta Maaf atas Isu Rasisme February 25, 2026 Rahmat Yanuar Nama Jose Mourinho kembali menjadi perbincangan publik sepak bola....
Read MoreBocoran iPhone 17e: Rilis 19 Februari 2026 dengan Harga Mulai 599 Dollar AS? February 16, 2026 Rahmat Yanuar Kabar mengenai iPhone 17e kembali mencuat dan memicu perbincangan di kalangan penggemar...
Read MoreiOS 26.3 Resmi Dirilis, Apple Permudah Transfer Data dari iPhone ke Android February 12, 2026 Rahmat Yanuar Apple kembali menghadirkan pembaruan sistem operasi lewat iOS 26.3 dengan sejumlah perubahan yang...
Read MoreSkor DxOMark 2025: Huawei Pura 80 Ultra Kalahkan iPhone 17 Pro untuk Kamera, Tapi Apple Unggul di Video February 12, 2026 Rahmat Yanuar Setiap kali Apple meluncurkan iPhone generasi terbaru,...
Read MoreApple Luncurkan iPhone 17e 19 Februari 2026, Seri Ekonomis dengan Chip A19 dan Apple Intelligence 2.0 February 11, 2026 Rahmat Yanuar iPhone 17e jadi lini ramah anggaran pertama Apple yang...
Read More
© 2025 Cak War Company | CW | Contact Us | Accessibility | Work with us | Advertise | T Brand Studio | Your Ad Choices | Privacy Policy | Terms of Service | Terms of Sale | Site Map | Help | Subscriptions