Perundingan Nuklir Iran-AS di Jenewa Dijeda, Delegasi Soroti Pernyataan Kontradiktif Washington

Perundingan nuklir antara Iran dan Amerika Serikat (AS) di Jenewa, Swiss, kembali memasuki fase krusial. Putaran terbaru pembicaraan yang digelar Kamis (26/2/2026) waktu setempat dilaporkan dijeda setelah berlangsung sekitar tiga jam. Meski kedua pihak menyebut diskusi berlangsung serius, muncul nada skeptis dari Teheran terkait konsistensi sikap Washington.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran menyatakan bahwa perundingan akan dilanjutkan pada Kamis malam waktu setempat. Namun, pernyataan yang disampaikan Menteri Luar Negeri Iran menunjukkan adanya ketegangan dalam dinamika negosiasi, terutama terkait tuntutan penghentian penuh program pengayaan uranium.

Rekomendasi Cak war: iJoe – Apple Service Surabaya, Tempat Service Iphone, iMac, iPad dan iWatch Terpercaya di Surabaya

Putaran Ketiga Pasca Perang Israel-Iran 2025

Perundingan nuklir Iran-AS di Jenewa ini merupakan bagian dari rangkaian dialog yang digelar sejak perang Israel-Iran pada Juni 2025. Konflik tersebut meningkatkan ketegangan kawasan dan kembali menempatkan isu program nuklir Iran sebagai sorotan utama komunitas internasional.

Putaran ketiga yang berlangsung di Jenewa dimediasi oleh Menteri Luar Negeri Oman, Badr Al-Busaidi. Oman selama ini dikenal memainkan peran sebagai jembatan diplomasi di Timur Tengah, termasuk dalam komunikasi tidak langsung antara Teheran dan Washington.

Sementara itu, Direktur Jenderal International Atomic Energy Agency (IAEA), Rafael Grossi, hadir sebagai peninjau dalam proses tersebut. Kehadiran IAEA dinilai penting untuk memastikan transparansi dan akurasi teknis dalam pembahasan isu pengayaan uranium.

Diskusi “Serius” Namun Penuh Keraguan

Delegasi Iran menyebut perundingan berlangsung dengan “sangat serius” dan sejumlah proposal yang diajukan bersifat “praktis dan penting.” Namun, pembicaraan harus dijeda karena adanya beberapa inisiatif yang memerlukan konsultasi lebih lanjut dengan otoritas pusat di Teheran.

“Sejumlah inisiatif telah dikemukakan sehingga kami perlu berkonsultasi dengan pusat,” ujar seorang juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, seperti dikutip media internasional.

Meski demikian, nada optimisme itu dibayangi kritik terhadap sikap Amerika Serikat. Menteri Luar Negeri Iran menyebut delegasi AS yang dipimpin Utusan Khusus Presiden, Steve Witkoff, mengeluarkan sejumlah pernyataan yang dinilai kontradiktif.

“Terdapat pernyataan-pernyataan kontradiktif dari beberapa pejabat AS, yang menimbulkan keraguan atas keseriusan mereka,” kata pejabat Iran tersebut.

Pernyataan ini menunjukkan bahwa meski dialog masih berlangsung, tingkat kepercayaan antara kedua pihak belum sepenuhnya pulih.

.Price List Service Apple di Surabaya yang rekomended : Pricelist iJoe Apple Service Surabaya

👉Baca juga artikel tentang: Keteladanan Rasulullah SAW di Rumah: Mencuci Baju Sendiri hingga Menolak Diistimewakan

Tuntutan Washington: Hentikan Pengayaan Uranium

Sebelum perundingan dimulai, Washington secara terbuka mendesak Iran untuk menghentikan program pengayaan uranium sepenuhnya. Gedung Putih menuduh Teheran berupaya membangun kembali kapasitas nuklirnya hingga mencapai tingkat yang memungkinkan pengayaan uranium dalam skala tinggi.

Isu pengayaan uranium memang menjadi titik paling sensitif dalam negosiasi. Iran bersikeras bahwa program nuklirnya bertujuan damai, terutama untuk kebutuhan energi dan riset medis. Namun, negara-negara Barat khawatir teknologi tersebut dapat digunakan untuk mengembangkan senjata nuklir.

Sebelumnya, kesepakatan nuklir 2015 atau Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA) sempat membatasi aktivitas pengayaan uranium Iran dengan imbalan pencabutan sanksi ekonomi. Namun, dinamika politik global dan perubahan kebijakan membuat kesepakatan itu goyah dalam beberapa tahun terakhir.

Peran Oman dan IAEA dalam Proses Mediasi

Keterlibatan Oman dalam perundingan ini memperlihatkan pentingnya diplomasi regional dalam meredakan ketegangan global. Sebagai negara yang relatif netral di kawasan Teluk, Oman sering dipercaya menjadi mediator dalam konflik sensitif.

Sementara itu, IAEA memainkan peran teknis krusial. Lembaga ini bertanggung jawab memantau fasilitas nuklir Iran dan memastikan bahwa aktivitasnya tetap berada dalam koridor penggunaan damai.

Rafael Grossi sebelumnya beberapa kali menekankan pentingnya akses inspeksi yang transparan untuk membangun kembali kepercayaan internasional terhadap program nuklir Iran.

Price List Service Apple di Surabaya yang rekomended : Pricelist iJoe Apple Service Surabaya

Dampak Geopolitik dan Ekonomi

Perundingan nuklir Iran-AS tidak hanya berdampak pada kedua negara, tetapi juga pada stabilitas Timur Tengah dan pasar global. Ketegangan di kawasan tersebut sering kali memengaruhi harga minyak dunia, arus perdagangan, serta dinamika keamanan regional.

Jika perundingan berhasil mencapai titik temu, peluang pencabutan atau pelonggaran sanksi terhadap Iran dapat membuka ruang pemulihan ekonomi negara tersebut. Sebaliknya, kegagalan dialog berisiko memperpanjang ketidakpastian dan memperbesar potensi eskalasi.

Sejak perang Israel-Iran pada 2025, situasi keamanan di kawasan menjadi lebih rapuh. Komunitas internasional memandang jalur diplomasi sebagai opsi terbaik untuk mencegah konflik terbuka yang lebih luas.

Rekomendasi Cakwar.com: Kisah Ulbah bin Zaid di Perang Tabuk: Air Mata yang Dicatat sebagai Sedekah oleh Allah

Tantangan Menuju Kesepakatan

Perbedaan mendasar antara Iran dan AS tetap menjadi hambatan utama. Bagi Washington, penghentian total pengayaan uranium dianggap sebagai jaminan keamanan. Namun bagi Teheran, program tersebut merupakan simbol kedaulatan dan hak atas teknologi nuklir untuk tujuan damai.

Selain itu, faktor politik domestik di masing-masing negara juga memengaruhi fleksibilitas negosiator. Setiap langkah kompromi berpotensi menghadapi tekanan internal dari kelompok yang menentang konsesi.

Karena itu, jeda dalam perundingan tidak selalu berarti kemunduran. Dalam diplomasi tingkat tinggi, jeda kerap digunakan untuk konsultasi strategis sebelum melanjutkan pembahasan lebih rinci.

Media sosial:

 

Menanti Kelanjutan Dialog

Perundingan yang dijadwalkan berlanjut pada Kamis malam waktu setempat akan menjadi indikator penting arah negosiasi. Apakah kedua pihak mampu menjembatani perbedaan, atau justru kembali terjebak dalam kebuntuan?

Sejumlah analis menilai bahwa keberhasilan dialog sangat bergantung pada konsistensi pesan politik dari masing-masing pihak. Pernyataan yang saling bertolak belakang dapat menggerus kepercayaan yang sudah rapuh.

Namun di tengah berbagai tantangan, fakta bahwa Iran dan AS masih duduk bersama di meja perundingan menunjukkan bahwa pintu diplomasi belum tertutup.

Jeda dalam perundingan nuklir Iran-AS di Jenewa menjadi momen refleksi sekaligus ujian bagi komitmen kedua pihak. Di tengah tekanan geopolitik dan tuntutan internasional, jalan menuju kesepakatan memang tidak mudah. Namun diplomasi tetap menjadi pilihan rasional dibandingkan eskalasi konflik.

Untuk mengikuti perkembangan terkini isu geopolitik, keamanan internasional, dan dinamika Timur Tengah, pembaca dapat menyimak artikel mendalam lainnya di media digital cakwar.com. Tetap terinformasi dan pahami setiap peristiwa dari sudut pandang yang utuh dan berimbang.

#TERBARU

#TEKNOLOGI

CakWar.com

Dunia

Politik Internasional

Militer

Acara

Indonesia

Bisnis

Teknologi

Pendidikan

Cuaca

Seni

Ulas Buku

Buku Best Seller

Musik

Film

Televisi

Pop Culture

Theater

Gaya Hidup

Kuliner

Kesehatan

Review Apple Store

Cinta

Liburan

Fashion

Gaya

Opini

Politik Negeri

Review Termpat

Mahasiswa

Demonstrasi

© 2025 Cak War Company | CW | Contact Us | Accessibility | Work with us | Advertise | T Brand Studio | Your Ad Choices | Privacy Policy | Terms of Service | Terms of Sale | Site Map | Help | Subscriptions