Polri Evaluasi Penggunaan Senjata Api Usai Remaja Tewas Tertembak di Makassar, Anggota Polisi Ditetapkan Tersangka

Polri Lakukan Evaluasi Penggunaan Senjata Api Setelah Insiden Penembakan di Makassar

Kematian seorang remaja di Makassar, Sulawesi Selatan, yang diduga tertembak oleh anggota polisi memicu sorotan publik terhadap penggunaan senjata api oleh aparat penegak hukum. Menanggapi kasus tersebut, Markas Besar Kepolisian Negara Republik Indonesia (Mabes Polri) menegaskan bahwa evaluasi terhadap penggunaan senjata api oleh anggota kepolisian terus dilakukan secara berkala.

Pernyataan ini disampaikan Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karo Penmas) Divisi Humas Polri Brigjen Trunoyudo Wisnu Andiko pada Kamis (5/3/2026). Ia menjelaskan bahwa evaluasi merupakan bagian penting dari mekanisme pengawasan internal dalam setiap kegiatan operasional kepolisian.

Menurutnya, proses analisis dan evaluasi dilakukan secara berkelanjutan untuk memastikan bahwa setiap tindakan anggota di lapangan tetap sesuai dengan prosedur dan standar operasional yang berlaku.

“Proses evaluasi itu setiap saat dilakukan. Dalam setiap langkah kegiatan operasional maupun pembinaan kepolisian, selalu ada analisa dan evaluasi,” ujar Trunoyudo.

Kasus penembakan yang menewaskan remaja tersebut kini menjadi perhatian luas, tidak hanya karena melibatkan aparat, tetapi juga karena menyangkut aspek keselamatan masyarakat dalam operasi penegakan hukum.

Rekomendasi Cak war: iJoe – Apple Service Surabaya, Tempat Service Iphone, iMac, iPad dan iWatch Terpercaya di Surabaya

Evaluasi Dilakukan dari Perencanaan hingga Pascakegiatan

Trunoyudo menjelaskan bahwa mekanisme evaluasi dalam institusi kepolisian tidak hanya dilakukan setelah sebuah operasi selesai. Evaluasi dilakukan sejak tahap awal perencanaan hingga tahap akhir pelaksanaan kegiatan.

Menurutnya, setiap program atau operasi kepolisian selalu melalui tahapan analisis untuk menilai efektivitas serta potensi risiko yang mungkin muncul di lapangan.

“Evaluasi itu dilakukan pada berbagai tahapan, mulai dari sebelum kegiatan dilaksanakan, saat proses perencanaan, menganalisa program kegiatan sebelumnya, sampai pada saat pelaksanaan dan setelah kegiatan selesai,” jelasnya.

Dengan sistem tersebut, Polri berharap setiap kegiatan operasional dapat berjalan lebih profesional serta meminimalkan kesalahan yang berpotensi merugikan masyarakat maupun institusi.

Dalam praktiknya, evaluasi juga mencakup berbagai aspek, mulai dari pengawasan manajerial, pembinaan fungsi teknis, hingga pemeriksaan administrasi.

“Di dalam mekanisme evaluasi itu ada fungsi pengawasan secara manajemen, ada juga pembinaan fungsi teknis, serta aspek administratif yang terus diperhatikan,” kata Trunoyudo.

Ia menegaskan bahwa proses ini merupakan bagian dari upaya menjaga profesionalitas anggota kepolisian dalam menjalankan tugasnya.

Kronologi Penembakan Remaja di Makassar

Kasus yang menjadi sorotan tersebut bermula dari peristiwa yang terjadi pada Minggu (1/3/2026) di kawasan Jalan Toddopuli, Kota Makassar.

Seorang remaja bernama Bertrand Eka Prasetyo (18) dilaporkan meninggal dunia setelah tertembak oleh seorang anggota polisi berinisial Iptu N.

Saat itu, polisi sedang melakukan pembubaran aktivitas yang disebut sebagai “perang-perangan senjata mainan” yang dilakukan oleh sekelompok remaja di kawasan tersebut.

Aktivitas tersebut dilaporkan meresahkan warga karena melibatkan penggunaan senjata mainan yang menyerupai senjata asli dan memicu kerumunan di jalan.

Petugas kepolisian kemudian datang ke lokasi untuk membubarkan kegiatan tersebut serta melakukan penertiban terhadap para remaja yang terlibat.

Namun, dalam proses penangkapan, insiden penembakan terjadi.

.Price List Service Apple di Surabaya yang rekomended : Pricelist iJoe Apple Service Surabaya

👉Baca juga artikel tentang: Biaya Perang Israel vs Iran Membengkak: Serangan yang Menewaskan Ali Khamenei Disebut Menguras Triliunan Rupiah

Penjelasan Polisi: Tembakan Terlepas Saat Penangkapan

Kapolrestabes Makassar Kombes Arya Perdana menjelaskan bahwa penembakan tersebut terjadi saat petugas mencoba menangkap korban yang berusaha melarikan diri.

Menurut Arya, Iptu N memegang pistol ketika berusaha mengamankan korban. Namun dalam proses penangkapan tersebut, korban dilaporkan meronta.

“Ketika melakukan penangkapan terhadap almarhum, pistol yang sedang dipegang itu ternyata jarinya masih tersangkut di pelatuk,” ujar Arya.

Ia menjelaskan bahwa saat korban meronta, tekanan pada pelatuk senjata menyebabkan tembakan terlepas secara tidak sengaja.

Akibat tembakan tersebut, korban mengalami luka serius dan akhirnya meninggal dunia.

Meski demikian, pihak kepolisian menegaskan bahwa kejadian tersebut tetap dikategorikan sebagai kelalaian.

“Memang tidak ada niatan untuk melakukan penembakan, tapi itu merupakan kelalaian yang dilakukan anggota kami,” kata Arya.

Anggota Polisi Ditetapkan Tersangka

Menindaklanjuti kejadian tersebut, kepolisian telah mengambil langkah hukum terhadap anggota yang terlibat.

Iptu N kini telah ditetapkan sebagai tersangka dan ditahan untuk menjalani proses hukum lebih lanjut.

Langkah ini diambil sebagai bagian dari komitmen kepolisian untuk menegakkan aturan secara transparan dan akuntabel, termasuk terhadap anggota internal.

Kasus ini juga tengah ditangani oleh penyidik untuk memastikan seluruh fakta dan kronologi kejadian dapat terungkap secara jelas.

Selain proses pidana, institusi kepolisian juga biasanya melakukan pemeriksaan etik terhadap anggota yang terlibat dalam insiden yang menyebabkan korban jiwa.

Price List Service Apple di Surabaya yang rekomended : Pricelist iJoe Apple Service Surabaya

Sorotan Publik terhadap Penggunaan Senjata Api Polisi

Peristiwa ini kembali memunculkan diskusi publik mengenai penggunaan senjata api oleh aparat kepolisian saat bertugas.

Dalam sistem kepolisian modern, penggunaan senjata api diatur secara ketat dan hanya diperbolehkan dalam kondisi tertentu, seperti untuk melindungi diri atau orang lain dari ancaman serius.

Prinsip yang umumnya digunakan adalah penggunaan kekuatan secara bertahap atau use of force continuum. Artinya, tindakan aparat harus proporsional dengan situasi yang dihadapi.

Karena itu, pelatihan penggunaan senjata api serta pengendalian situasi di lapangan menjadi aspek penting dalam profesionalitas aparat penegak hukum.

Sejumlah pengamat keamanan menilai bahwa evaluasi berkala, peningkatan pelatihan, serta pengawasan internal merupakan langkah penting untuk mencegah kejadian serupa terulang.

Rekomendasi Cakwar.com: Kisah Teladan Abu Bakar Ash-Shiddiq: Keberanian Menyuarakan Kebenaran dan Kesabaran Menahan Amarah

Media sosial:

 

Langkah tersebut diharapkan dapat meningkatkan profesionalitas aparat serta memastikan bahwa setiap tindakan kepolisian tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian dan perlindungan terhadap masyarakat.

Perkembangan kasus ini masih terus dipantau publik dan berbagai pihak berharap proses hukum dapat berjalan secara adil serta transparan.

Untuk mengikuti perkembangan berita terkini seputar hukum, keamanan, dan isu nasional lainnya, pembaca dapat menemukan berbagai artikel informatif dan menarik di Media digital cakwar.com

 

#TERBARU

#TEKNOLOGI

CakWar.com

Dunia

Politik Internasional

Militer

Acara

Indonesia

Bisnis

Teknologi

Pendidikan

Cuaca

Seni

Ulas Buku

Buku Best Seller

Musik

Film

Televisi

Pop Culture

Theater

Gaya Hidup

Kuliner

Kesehatan

Review Apple Store

Cinta

Liburan

Fashion

Gaya

Opini

Politik Negeri

Review Termpat

Mahasiswa

Demonstrasi

© 2025 Cak War Company | CW | Contact Us | Accessibility | Work with us | Advertise | T Brand Studio | Your Ad Choices | Privacy Policy | Terms of Service | Terms of Sale | Site Map | Help | Subscriptions