Ramadan di Tengah Reruntuhan Khan Younis: Cahaya Kecil Harapan dari Gaza

Di antara puing bangunan yang retak dan tembok-tembok yang hancur, anak-anak di Khan Younis memanjat sisa dinding untuk memasang kabel lampu hias. Di sela-sela tenda pengungsian dan reruntuhan beton, spanduk bertuliskan “Ramadan Mubarak” dan “Selamat Datang Bulan Suci” mulai terbentang. Cahaya kecil berwarna merah dan kuning menyala dari generator sederhana yang hanya hidup beberapa jam setiap malam.

Momen ini menandai Ramadan pertama sejak gencatan senjata mengakhiri perang dua tahun yang meluluhlantakkan sebagian besar wilayah Gaza. Bagi warga setempat, menyambut Ramadan bukan sekadar ritual tahunan. Ia menjadi simbol bahwa kehidupan, betapapun rapuhnya, masih terus berjalan.

Rekomendasi Cak war: iJoe – Apple Service Surabaya, Tempat Service Iphone, iMac, iPad dan iWatch Terpercaya di Surabaya

Ramadan Pertama Pascaperang di Gaza

Kota Khan Younis menjadi salah satu wilayah yang paling terdampak selama konflik berkepanjangan di Gaza. Infrastruktur rusak parah, ribuan rumah hancur, dan banyak keluarga kehilangan anggota tercinta.

Kini, ketika gencatan senjata memberi ruang jeda dari dentuman senjata, suasana Ramadan menghadirkan kontras yang mencolok. Di satu sisi, bekas pengeboman masih terlihat jelas. Di sisi lain, warga berusaha menghadirkan nuansa religius dan kebersamaan yang menjadi ciri khas bulan suci.

Gang-gang sempit yang sebelumnya dipenuhi abu dan debu kini dihiasi kain warna-warni. Anak-anak berlarian membawa lampu kecil, sementara orang tua membantu memasang dekorasi seadanya. Generator kecil yang digunakan untuk menyalakan lampu hanya mampu bertahan beberapa jam setiap malam, tetapi cukup untuk menerangi suasana.

Tradisi yang Tak Pernah Padam

“Tradisi ini tidak pernah berhenti, bahkan ketika segala sesuatunya runtuh,” ujar Yasser Al-Sattari, seorang warga yang kehilangan rumah, istri, dan saudara perempuannya dalam perang, seperti dikutip Anadolu, Senin (18/2/2026).

Bagi Yasser, Ramadan adalah tentang menjaga harapan, terutama bagi anak-anak. Ia menegaskan bahwa kegembiraan bulan suci tidak boleh dirampas oleh perang.

Pernyataan itu mencerminkan semangat kolektif warga setempat. Di tengah keterbatasan listrik, air bersih, dan bahan makanan, mereka tetap berupaya mempertahankan tradisi yang sudah mengakar selama puluhan tahun.

Ramadan di Gaza biasanya identik dengan pasar malam, hidangan khas, dan salat tarawih yang ramai di masjid. Tahun ini, sebagian masjid masih dalam kondisi rusak. Namun, salat tetap dilaksanakan, baik di bangunan yang setengah berdiri maupun di ruang terbuka.

Price List Service Apple di Surabaya yang rekomendedPricelist iJoe Apple Service Surabaya

👉Baca juga artikel tentang: Longsoran Salju di Castle Peak, Lake Tahoe, Tewaskan Delapan Pemain Ski

Dekorasi sebagai Simbol Perlawanan Psikologis

Memasang dekorasi Ramadan di tengah reruntuhan bukan sekadar tindakan estetis. Ia menjadi bentuk perlawanan psikologis terhadap trauma perang.

Anak-anak yang memanjat dinding hancur untuk menggantung lampu hias seakan menegaskan bahwa ruang bermain dan kebahagiaan mereka belum sepenuhnya hilang. Warna-warna cerah yang menghiasi cakrawala kelabu menghadirkan pesan sederhana: kehidupan masih ada.

Secara psikologis, simbol dan ritual keagamaan sering kali membantu masyarakat yang terdampak konflik untuk membangun kembali rasa normalitas. Ramadan, dengan tradisi berbuka bersama dan berbagi, menjadi ruang kolektif untuk saling menguatkan.

Tantangan Kemanusiaan yang Masih Membayangi

Meski gencatan senjata memberi harapan, tantangan kemanusiaan di Gaza belum sepenuhnya teratasi. Banyak keluarga masih tinggal di tenda darurat. Akses terhadap layanan kesehatan, pendidikan, dan air bersih masih terbatas di sejumlah wilayah.

Di tengah kondisi tersebut, warga Khan Younis berusaha menyambut Ramadan dengan apa yang mereka miliki. Makanan berbuka mungkin lebih sederhana dibanding tahun-tahun sebelum konflik, namun kebersamaan menjadi nilai yang paling dijaga.

Bantuan kemanusiaan dari berbagai pihak tetap dibutuhkan untuk mendukung pemulihan jangka panjang. Rekonstruksi infrastruktur, termasuk rumah dan fasilitas umum, menjadi pekerjaan besar yang memerlukan waktu serta dukungan internasional.

Price List Service Apple di Surabaya yang rekomended : Pricelist iJoe Apple Service Surabaya

Anak-Anak dan Harapan yang Tumbuh

Anak-anak menjadi wajah paling nyata dari semangat Ramadan kali ini. Mereka yang tumbuh dalam bayang-bayang konflik kini menyaksikan momen tenang yang relatif langka.

Lampu-lampu kecil yang menyala beberapa jam setiap malam menjadi sumber kegembiraan. Bagi mereka, Ramadan tetap identik dengan cahaya, doa, dan kebersamaan, meski latar belakangnya adalah bangunan yang retak dan puing berserakan.

Orang tua berupaya menjaga rutinitas, mulai dari sahur sederhana hingga cerita sebelum tidur tentang makna puasa dan berbagi. Di tengah keterbatasan, nilai-nilai spiritual justru terasa lebih kuat.

Rekomendasi Cakwar.com: Eropa Perketat Aturan Media Sosial AS, Selidiki Konten AI dan Dorong Larangan untuk Remaja

Gencatan Senjata dan Harapan Perdamaian

Ramadan tahun ini juga menjadi momen refleksi atas pentingnya perdamaian yang berkelanjutan. Gencatan senjata memberikan ruang bernapas, tetapi masa depan masih penuh ketidakpastian.

Bagi warga Khan Younis dan wilayah Gaza lainnya, stabilitas jangka panjang menjadi harapan utama. Mereka ingin membangun kembali rumah, mengembalikan aktivitas ekonomi, dan memastikan generasi muda dapat tumbuh tanpa bayang-bayang konflik.

Dekorasi Ramadan yang terpasang di antara tenda dan reruntuhan menjadi simbol kecil dari harapan itu. Ia menunjukkan bahwa meskipun perang telah meninggalkan luka mendalam, keinginan untuk hidup dan merayakan kehidupan tidak pernah benar-benar padam.

Media sosial:

 

Ramadan sebagai Titik Awal Baru

Ramadan selalu dimaknai sebagai bulan introspeksi dan pembaruan. Di Khan Younis, makna tersebut terasa lebih dalam. Ia bukan hanya soal menahan lapar dan dahaga, tetapi tentang bertahan dan bangkit.

Di bawah langit yang masih menyimpan bekas asap perang, lampu-lampu kecil menyala setiap malam. Cahaya itu mungkin tidak cukup untuk menghapus seluruh luka, tetapi cukup untuk menunjukkan arah.

Bagi warga Gaza, Ramadan kali ini adalah tentang merebut kembali kehidupan yang sempat hilang. Tentang mengajarkan pada anak-anak bahwa bahkan di tengah kehancuran, selalu ada ruang untuk harapan.

Untuk mengikuti perkembangan terbaru seputar isu kemanusiaan, konflik global, dan dinamika Ramadan di berbagai belahan dunia, pembaca dapat menyimak artikel-artikel informatif lainnya di media digital cakwar.com.

#TERBARU

#TEKNOLOGI

CakWar.com

Dunia

Politik Internasional

Militer

Acara

Indonesia

Bisnis

Teknologi

Pendidikan

Cuaca

Seni

Ulas Buku

Buku Best Seller

Musik

Film

Televisi

Pop Culture

Theater

Gaya Hidup

Kuliner

Kesehatan

Review Apple Store

Cinta

Liburan

Fashion

Gaya

Opini

Politik Negeri

Review Termpat

Mahasiswa

Demonstrasi

© 2025 Cak War Company | CW | Contact Us | Accessibility | Work with us | Advertise | T Brand Studio | Your Ad Choices | Privacy Policy | Terms of Service | Terms of Sale | Site Map | Help | Subscriptions