Tragis, Siswa SD di Ngada NTT Tewas Gantung Diri Tinggalkan Surat Pilu untuk Ibunya

Duka Mendalam dari Jerebuu, Ngada

Peristiwa memilukan mengguncang Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT). Seorang siswa kelas IV sekolah dasar berusia 10 tahun, berinisial YBR, ditemukan meninggal dunia akibat gantung diri di pohon cengkih. Kejadian ini bukan hanya menyisakan luka bagi keluarga, tetapi juga menggugah nurani banyak pihak tentang kerasnya realitas hidup yang masih dihadapi sebagian masyarakat Indonesia.

Korban ditemukan di kebun milik neneknya pada Kamis (29/1/2026). Pohon cengkih tempat korban mengakhiri hidupnya berjarak hanya sekitar tiga meter dari pondok tempat ia biasa tinggal. Di usia yang seharusnya dipenuhi tawa, belajar, dan mimpi sederhana, YBR justru memilih jalan sunyi yang begitu menyayat hati.

Rekomendasi Cak war: iJoe – Apple Service Surabaya, Tempat Service Iphone, iMac, iPad dan iWatch Terpercaya di Surabaya

Surat Tulisan Tangan yang Membuat Siapa Pun Terdiam

Ungkapan Luka dalam Bahasa Daerah Bajawa

Saat mengevakuasi korban, polisi menemukan sepucuk surat tulisan tangan yang ditulis sendiri oleh YBR menggunakan bahasa daerah Bajawa. Surat itu ditujukan kepada ibunya, yang ia panggil Mama Reti. Isinya singkat, polos, namun menyimpan kekecewaan dan kepasrahan mendalam.

Beberapa baris dalam surat tersebut berbunyi:

Kertas Tii Mama Reti (Surat untuk mama Reti)

Mama Galo Zee (Mama pelit sekali)

Mama molo Ja’o Galo mata Mae Rita ee Mama (Mama baik sudah. Kalau saya meninggal mama jangan menangis)

Mama jao Galo Mata Mae woe Rita ne’e gae ngao ee (Mama saya meninggal, jangan menangis juga jangan cari saya)

Molo Mama (Selamat tinggal mama)

Price List Service Apple di Surabaya yang rekomended : Pricelist iJoe Apple Service Surabaya

👉Baca juga artikel tentang: TNI AL Sambut Kapal Perang Australia HMAS Toowoomba di Tanjung Priok, Perkuat Diplomasi Pertahanan

Kepala Seksi Humas Polres Ngada, Ipda Benediktus R Pissort, membenarkan keaslian surat tersebut.

“Surat itu betul, petugas turun ke TKP temukan surat itu, anak itu yang tulis,” ujarnya, Selasa (3/2/2026).

Surat itu kini menjadi saksi bisu betapa berat beban yang dipikul seorang anak kecil, yang mungkin merasa tak punya tempat lagi untuk berharap.

Diduga karena Buku dan Pena

Kemiskinan yang Menghimpit Masa Depan Anak

Hingga kini, polisi masih melakukan pendalaman terkait penyebab pasti kekecewaan korban terhadap ibunya. Namun, beredar kabar bahwa YBR kecewa karena permintaannya untuk dibelikan buku tulis dan pena tidak dapat dipenuhi, lantaran sang ibu tidak memiliki uang.

Ipda Benediktus menyatakan informasi tersebut belum bisa dipastikan.

“Masih pendalaman,” katanya singkat.

Jika kabar itu benar, maka tragedi ini menjadi potret paling getir dari kemiskinan struktural, di mana kebutuhan paling dasar untuk pendidikan pun masih menjadi kemewahan bagi sebagian keluarga.

Kronologi Kejadian yang Menyayat Hati

Sendirian di Pagi yang Sunyi

Menurut Camat Jerebuu, Bernardus H. Tage, YBR sehari-hari tinggal bersama neneknya di pondok kebun tersebut, sementara orang tuanya tinggal di desa tetangga. Malam sebelum kejadian, YBR sempat menginap di rumah orang tuanya, lalu pagi harinya kembali ke pondok.

Price List Service Apple di Surabaya yang rekomended : Pricelist iJoe Apple Service Surabaya

Namun, pagi itu ia tidak berangkat ke sekolah.

Saat kejadian, sang nenek tidak berada di pondok karena  menginap di rumah tetangga untuk membantu memecahkan kemiri. YBR ditemukan oleh seorang warga yang datang ke kebun untuk mengikat ternaknya. Setelah itu, warga berniat memberi tahu nenek korban, tetapi justru menemukan pemandangan yang tak akan pernah bisa dilupakan.

“Pohon cengkih tinggi sekitar 15 meter. Ikat tali sekitar lima meter,” ujar Bernardus.

Rekomendasi Cakwar.com: Mantan Menteri Kehakiman China Tang Yijun Divonis Penjara Seumur Hidup atas Kasus Suap Rp330 Miliar

Potret Buram Kehidupan dan Absennya Negara

Ketika Pendidikan Masih Menjadi Beban

Kematian YBR bukan sekadar tragedi keluarga, melainkan cermin buram kondisi sosial yang masih terjadi. Di usia 10 tahun, seorang anak seharusnya tidak perlu memikirkan soal uang, apalagi merasa bersalah karena meminta buku dan pena.

Tragedi ini memunculkan pertanyaan besar: di mana kehadiran negara? Jika pendidikan benar-benar gratis, lengkap dengan fasilitas dasar, jika anak-anak di pelosok negeri mendapat perhatian yang layak, mungkinkah peristiwa seperti ini terjadi?

Ini bukan hanya soal satu keluarga yang tak mampu, tetapi tentang sistem yang belum sepenuhnya memeluk mereka yang paling rentan.

Media sosial:

Penutup

Kepergian YBR meninggalkan luka yang sulit disembuhkan. Surat kecil dengan tulisan tangan polos itu menjadi jeritan sunyi seorang anak yang merasa tak didengar. Semoga peristiwa ini membuka mata semua pihak bahwa pendidikan bukan sekadar kewajiban, melainkan hak yang harus benar-benar dihadirkan oleh negara, hingga ke pelosok paling jauh.

Ikuti liputan mendalam, berita kemanusiaan, dan edukasi sosial lainnya hanya di cakwar.com, agar kita tak lagi abai pada jeritan kecil yang seharusnya kita lindungi bersama.

#TERBARU

#TEKNOLOGI

CakWar.com

Dunia

Politik Internasional

Militer

Acara

Indonesia

Bisnis

Teknologi

Pendidikan

Cuaca

Seni

Ulas Buku

Buku Best Seller

Musik

Film

Televisi

Pop Culture

Theater

Gaya Hidup

Kuliner

Kesehatan

Review Apple Store

Cinta

Liburan

Fashion

Gaya

Opini

Politik Negeri

Review Termpat

Mahasiswa

Demonstrasi

© 2025 Cak War Company | CW | Contact Us | Accessibility | Work with us | Advertise | T Brand Studio | Your Ad Choices | Privacy Policy | Terms of Service | Terms of Sale | Site Map | Help | Subscriptions