Ulasan Buku Funiculi Funicula: Ngopi, Nostalgia, dan Kesempatan Kedua

Ada sesuatu yang ajaib dari sebuah kafe kecil bernama Funiculi Funicula. Bukan karena kopinya yang luar biasa mahal atau desain interiornya yang Instagramable, tapi karena tempat ini menawarkan hal yang mustahil: kesempatan untuk kembali ke masa lalu. Novel karya Toshikazu Kawaguchi ini sukses bikin banyak pembaca terhanyut dalam kisah-kisah sederhana, penuh perasaan, dan membuat kita bertanya-tanya, “Kalau aku bisa balik ke masa lalu, apa yang akan kulakukan?”

Kawaguchi menulis buku ini dengan alur yang sebenarnya sederhana, tapi punya daya tarik luar biasa. Setting utamanya hanya sebuah kafe tua yang biasa saja. Namun, ada satu kursi istimewa yang jika diduduki bisa membawa seseorang kembali ke masa lalu. Tentu ada syarat dan aturan mainnya, seperti: kamu hanya bisa kembali ke momen di kafe itu, kamu nggak bisa mengubah masa depan, dan waktu yang kamu punya terbatas, yaitu sampai kopimu dingin. Sesimpel itu, tapi justru aturan inilah yang bikin ceritanya terasa realistis sekaligus penuh harapan.

Kisah-Kisah yang Bikin Terenyuh

Buku ini terdiri dari beberapa cerita yang saling terhubung, masing-masing tentang orang-orang yang datang ke kafe dan ingin kembali ke masa lalu. Ada cerita tentang seorang wanita yang ingin bertemu kembali dengan kekasihnya, seorang istri yang ingin berbicara dengan suaminya yang terkena Alzheimer, seorang kakak yang ingin minta maaf pada adiknya, hingga seorang ibu yang ingin bertemu dengan anaknya yang belum sempat tumbuh besar.

Setiap kisah punya daya pukau tersendiri. Mereka tidak megah seperti drama politik atau kisah cinta yang rumit, tapi justru dalam kesederhanaannya ada kekuatan emosional yang bikin hati kita hangat. Kadang bikin terharu, kadang bikin sedih, tapi juga memberi semacam ketenangan.

Yang bikin unik, meski para tokoh tahu bahwa mereka tidak bisa mengubah masa depan, mereka tetap memilih untuk kembali. Bukan untuk memperbaiki takdir, melainkan untuk berdamai dengan perasaan yang belum tuntas. Dan di situlah letak keindahannya: novel ini mengajarkan kita bahwa masa lalu bukan untuk diubah, tapi untuk dipahami.

Filosofi Kopi dan Hidup

Ada hal filosofis yang kuat di balik cerita Funiculi Funicula. Misalnya, analogi soal kopi yang akhirnya dingin. Hidup ini memang punya batas waktu, seperti secangkir kopi hangat yang perlahan kehilangan panasnya. Kita nggak bisa menahannya selamanya, tapi justru karena itu, setiap momen terasa berharga.

Pesan moral lainnya adalah tentang melepaskan penyesalan. Banyak orang yang ingin kembali ke masa lalu karena menyesal—menyesal nggak ngomong sesuatu, menyesal nggak melakukan hal yang seharusnya dilakukan. Tapi setelah diberi kesempatan, mereka sadar bahwa bukan soal mengubah takdir, melainkan tentang menutup luka lama dan melangkah lebih ringan.

Buku ini juga punya vibe yang menenangkan. Nggak ada adegan dramatis yang terlalu berlebihan, alurnya lambat tapi hangat, seperti menikmati kopi di sore hujan. Rasanya cocok banget buat kamu yang lagi pengen refleksi hidup, atau sekadar butuh bacaan yang bikin hati adem.

Gaya Penulisan yang Ringan tapi Mengena

Toshikazu Kawaguchi menulis dengan gaya yang sederhana, mudah dicerna, dan nggak terlalu banyak deskripsi bertele-tele. Justru kesederhanaannya yang bikin buku ini mudah masuk ke hati banyak orang. Bahkan kalau kamu bukan tipe orang yang biasa baca novel, buku ini tetap bisa dinikmati tanpa harus pusing mikirin plot yang ribet.

Bisa dibilang, Funiculi Funicula adalah novel yang menggabungkan kehangatan, kesedihan, dan harapan dalam satu paket. Ada sentuhan magis, tapi nggak terasa seperti fantasi berlebihan. Lebih ke arah realisme magis yang justru bikin pembaca merasa, “Eh, mungkin aja ada kafe seperti ini di dunia nyata.”

Worth It Buat Dibaca?

Kalau ditanya apakah buku ini worth it, jawabannya jelas iya. Novel ini bukan hanya cerita tentang mesin waktu ala kafe tua, tapi juga tentang manusia dengan segala kerentanan dan penyesalan mereka. Ini buku yang bisa bikin kamu berpikir ulang tentang hubungan dengan orang-orang terdekat, tentang pentingnya mengucapkan hal-hal kecil sebelum terlambat, dan tentang menerima kenyataan bahwa hidup selalu bergerak maju.

Singkatnya, Funiculi Funicula adalah buku yang bikin kita menengok ke belakang bukan untuk menyesali, tapi untuk lebih menghargai apa yang ada sekarang.

Kesimpulan

Funiculi Funicula bukan cuma sekadar novel populer dari Jepang, tapi sebuah cermin kecil tentang kehidupan sehari-hari: sederhana, penuh penyesalan, tapi juga selalu ada ruang untuk harapan. Bacaan ini pas banget untuk kamu yang lagi butuh cerita hangat, reflektif, dan bikin hati lebih damai.

#TERBARU

#TEKNOLOGI

CakWar.com

Dunia

Politik Internasional

Militer

Acara

Indonesia

Bisnis

Teknologi

Pendidikan

Cuaca

Seni

Ulas Buku

Buku Best Seller

Musik

Film

Televisi

Pop Culture

Theater

Gaya Hidup

Kuliner

Kesehatan

Review Apple Store

Cinta

Liburan

Fashion

Gaya

Opini

Politik Negeri

Review Termpat

Mahasiswa

Demonstrasi

© 2025 Cak War Company | CW | Contact Us | Accessibility | Work with us | Advertise | T Brand Studio | Your Ad Choices | Privacy Policy | Terms of Service | Terms of Sale | Site Map | Help | Subscriptions