Heboh Usulan Tarif Kapal di Selat Malaka: Ambisi Menkeu Purbaya vs Hukum Internasional

Halo Sobat cakwar.com! Pernahkah kamu membayangkan jika jalur laut paling sibuk di dunia yang ada di depan mata kita, yakni Selat Malaka, dipasang “gerbang tol” seperti di jalan raya? Nah, ide panas inilah yang baru saja dilempar oleh Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa.

Usulan ini langsung menjadi sorotan tajam karena menyangkut nasib lebih dari 90.000 kapal yang melintas setiap tahunnya. Menkeu Purbaya menilai Indonesia selama ini “terlalu baik” karena membiarkan seperempat barang dagangan global lewat begitu saja tanpa menyumbang pemasukan ke kas negara.

Rekomendasi Cak war: iJoe – Apple Service Surabaya, Tempat Service Iphone, iMac, iPad dan iWatch Terpercaya di Surabaya

Namun, ide yang terdengar menggiurkan bagi pendapatan negara ini justru memicu “perang dingin” di internal kabinet dan kritik keras dari para diplomat senior. Kenapa sih sebuah ide ekonomi bisa jadi masalah diplomatik yang besar? Yuk, kita ulas secara detail!

Terinspirasi Iran: Mengapa Selat Malaka Dianggap ‘Tambang Emas’?

Dalam acara Simposium PT SMI 2026 di Jakarta (22/4/2026), Menkeu Purbaya secara terbuka membandingkan Selat Malaka dengan rencana Iran di Selat Hormuz. Menurutnya, Indonesia perlu berpikir lebih ofensif soal sumber daya strategisnya sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto.

Coba kita lihat datanya, Sobat:

  • Volume Luar Biasa: Selat Malaka dilewati sekitar 200 kapal lebih per hari. Secara tahunan, jumlahnya mencapai dua kali lipat lalu lintas Selat Hormuz.
  • Titik Tersempit Dunia: Di dekat Singapura, lebarnya hanya 2,7 km. Ini adalah celah vital bagi energi dan logistik global.
  • Potensi Ekonomi: Dengan banyaknya kapal tanker minyak dan kontainer, penarikan tarif kapal di Selat Malaka dianggap bisa menjadi sumber devisa baru yang masif.

“Kita berada di jalur perdagangan dan energi global yang strategis, tetapi kita tidak mengenakan biaya,” ungkap Purbaya. Namun, ia juga mengakui tantangannya besar karena Indonesia harus berbagi kue dengan Malaysia dan Singapura.

Price List Service Apple di Surabaya yang rekomended : Pricelist iJoe Apple Service Surabaya

Baca juga artikel tentang: Buntut Buku ‘Gibran End Game’ Disebut Palsu, Rismon Sianipar Resmi Dilaporkan ke Polda Metro Jaya!

Menlu Sugiono Pasang Badan: ‘Kita Harus Hormati UNCLOS’

Hanya berselang sehari, Menteri Luar Negeri Sugiono langsung memberikan respons tegas. Ia menolak wacana tersebut dengan alasan komitmen internasional. Indonesia sebagai negara kepulauan memiliki kewajiban moral dan hukum untuk menjaga pelayaran tetap bebas dan netral.

Kunci dari penolakan ini adalah UNCLOS 1982 (United Nations Convention on the Law of the Sea). Di dalam perjanjian internasional ini, diatur bahwa:

  1. Negara Kepulauan: Indonesia diakui kedaulatan lautnya sepanjang tetap menjamin hak lintas transit bagi kapal asing.
  2. Tanpa Pungutan: Selat internasional seperti Selat Malaka tidak boleh dipungut biaya (toll/fee) karena merupakan jalur alami, bukan buatan manusia seperti Terusan Suez.
  3. Kebebasan Pelayaran: Indonesia berkomitmen menciptakan jalur perdagangan yang saling mendukung, bukan menghambat.

Kritik Pedas dari Dino Patti Djalal: ‘Bad Idea’ yang Merusak Kredibilitas

Kritik tidak hanya datang dari dalam kabinet. Mantan Wamenlu sekaligus pakar diplomasi, Dino Patti Djalal, menyebut ide Purbaya sebagai “ide buruk” yang bisa menjatuhkan reputasi Indonesia di mata dunia.

Dino mengingatkan bahwa ayah beliau dan para diplomat senior berjuang selama belasan tahun agar dunia mengakui konsep Wawasan Nusantara. Kesepakatan global itu punya harga: Indonesia mendapatkan wilayah laut yang luas, namun dunia mendapatkan jaminan bebas lewat di selat-selat internasional.

“Hak lalu lintas dunia internasional di Selat Malaka itu adalah hak semua negara, nggak bisa ditawar-tawar. Kalaupun kita nggak suka, itu sudah bagian dari deal global,” tegas Dino.

Tempat service Device Terbaik di Surabaya: 

 

Pandangan DPR: Hati-hati Memicu Konflik Kawasan dan Boikot

Anggota Komisi I DPR RI, TB Hasanuddin, juga memberikan catatan merah. Menurutnya, Selat Malaka berbeda dengan Terusan Panama atau Suez yang merupakan hasil galian manusia. Karena Selat Malaka adalah perairan alami, penerapan pajak bisa dianggap ilegal secara internasional.

Dampaknya jika kebijakan ini dipaksakan bisa sangat mengerikan:

  • Boikot Internasional: Kapal-kapal dunia bisa memboikot pelabuhan Indonesia atau mencari jalur alternatif.
  • Friksi Kawasan: Hubungan diplomatik dengan Malaysia dan Singapura bisa retak jika Indonesia bergerak sepihak.
  • Kredibilitas Hukum: Indonesia bisa dianggap melanggar Pasal 38 dan 44 UNCLOS tentang hak lintas transit yang tidak boleh dihambat.

 

Rekomendasi Cakwar.com: Indonesia Geram! Desak PBB Investigasi Serangan Tank Israel yang Tewaskan Praka Rico Pramudia

Insight Praktis: Apa Solusi Selain Menarik Tarif?

Jika penarikan tarif secara langsung melanggar hukum internasional, Indonesia sebenarnya masih punya cara lain untuk mendapatkan keuntungan dari Selat Malaka:

  • Optimalisasi Jasa Pelabuhan: Alih-alih memajaki kapal yang lewat, Indonesia bisa memperkuat pelabuhan di sepanjang Sumatera agar kapal-kapal tersebut mau mampir untuk isi bahan bakar atau perbaikan.
  • Jasa Pemandu Kapal: Memberikan layanan pemanduan kapal profesional yang lebih efisien dibandingkan negara tetangga.
  • Keamanan Laut: Meningkatkan kerja sama keamanan untuk mencegah perompakan, yang nantinya bisa dikonversi menjadi kerja sama ekonomi regional.

 

 

Kesimpulan: Ambisi Ekonomi Harus Sejalan dengan Hukum Laut

Wacana Menkeu Purbaya mengenai tarif kapal di Selat Malaka memang menunjukkan semangat untuk berdaulat secara ekonomi. Namun, seperti yang ditegaskan Menlu Sugiono dan para pakar, kedaulatan kita juga berdiri di atas pondasi hukum internasional yang telah kita sepakati.

Menjadi pemain besar dalam perdagangan global tidak harus dilakukan dengan cara “ofensif” yang berisiko mengisolasi diri. Indonesia justru bisa memainkan peran strategis melalui penyediaan layanan logistik terbaik di jalur tersebut tanpa harus melanggar aturan main dunia.

Untuk mendapatkan informasi terbaru dan ulasan menarik lainnya seputar isu sosial, kebijakan publik, dan berita terkini, Anda dapat membaca artikel lainnya di cakwar.com.

#TERBARU

#TEKNOLOGI

CakWar.com

Dunia

Politik Internasional

Militer

Acara

Indonesia

Bisnis

Teknologi

Pendidikan

Cuaca

Seni

Ulas Buku

Buku Best Seller

Musik

Film

Televisi

Pop Culture

Theater

Gaya Hidup

Kuliner

Kesehatan

Review Apple Store

Cinta

Liburan

Fashion

Gaya

Opini

Politik Negeri

Review Termpat

Mahasiswa

Demonstrasi

© 2025 Cak War Company | CW | Contact Us | Accessibility | Work with us | Advertise | T Brand Studio | Your Ad Choices | Privacy Policy | Terms of Service | Terms of Sale | Site Map | Help | Subscriptions