Kelompok Hamas akhirnya buka suara mengenai pembentukan Pasukan Stabilisasi Internasional (International Stabilization Force/ISF) di Jalur Gaza. Sikap mereka terbilang dua sisi: menyambut kehadiran pasukan penjaga perdamaian untuk memantau gencatan senjata, tetapi secara tegas menolak segala bentuk campur tangan dalam urusan internal Gaza.
Pernyataan itu disampaikan juru bicara Hamas, Hazem Qassem, menyusul pengumuman resmi pembentukan ISF dalam pertemuan perdana “Dewan Perdamaian” di Washington, Kamis (19/2/2026). Dewan tersebut merupakan inisiatif Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk mendorong stabilisasi dan rekonstruksi Gaza pascaperang.
“Posisi kami mengenai pasukan internasional sudah jelas,” kata Qassem, seperti dikutip AFP, Sabtu (21/2/2026). “Kami menginginkan pasukan penjaga perdamaian yang memantau gencatan senjata, memastikan pelaksanaannya, dan bertindak sebagai penyangga antara tentara pendudukan dan rakyat kami di Jalur Gaza, tanpa mencampuri urusan internal Gaza.”
Rekomendasi Cak war: iJoe – Apple Service Surabaya, Tempat Service Iphone, iMac, iPad dan iWatch Terpercaya di Surabaya
Mandat ISF: 20.000 Tentara dan Polisi Baru
Dalam forum Dewan Perdamaian tersebut diumumkan bahwa ISF ditargetkan memiliki 20.000 personel militer serta membentuk pasukan polisi baru untuk menjaga keamanan internal Gaza. Sejumlah negara menyatakan kesediaan berpartisipasi, termasuk Indonesia.
Indonesia bahkan ditunjuk sebagai wakil komandan ISF dan menyatakan kesiapan mengirimkan hingga 8.000 tentara. Jumlah ini menjadikan Indonesia sebagai salah satu kontributor terbesar dalam misi tersebut.
Selain kekuatan militer, ISF juga akan merekrut dan melatih pasukan kepolisian Palestina yang baru. Pengumuman itu disampaikan oleh Nickolay Mladenov, yang ditunjuk sebagai perwakilan tinggi untuk Gaza oleh pemerintah AS.
Menurut Mladenov, proses perekrutan untuk pasukan polisi pasca-Hamas telah dimulai sebagai bagian dari rencana stabilisasi jangka panjang.
Artikel Lainnya:
Sikap Hamas: Terima Pengawasan, Tolak Intervensi
Respons Hamas menunjukkan sikap yang terukur. Mereka menyambut kehadiran pasukan penjaga perdamaian selama mandatnya terbatas pada pemantauan gencatan senjata dan bertindak sebagai penyangga antara militer Israel dan warga Gaza.
Namun, Hamas menolak jika pasukan tersebut memiliki mandat untuk mengatur tata kelola internal Gaza atau mengubah struktur politik yang ada.
“Melatih pasukan polisi Palestina dalam kerangka nasional mereka bukanlah masalah jika tujuannya adalah untuk menjaga keamanan internal di Jalur Gaza dan menghadapi kekacauan yang ingin diciptakan oleh pendudukan dan milisinya,” ujar Qassem.
Price List Service Apple di Surabaya yang rekomended : Pricelist iJoe Apple Service Surabaya
Baca juga artikel tentang: Kereta Bandara Tabrak Truk Kontainer di Perlintasan Poris Tangerang, Terseret 100 Meter
Pernyataan ini mengindikasikan bahwa Hamas membuka ruang kerja sama terbatas, namun tetap ingin mempertahankan kontrol atas dinamika politik dan keamanan domestik.
Peran Indonesia dalam ISF
Keikutsertaan Indonesia dalam ISF menjadi sorotan tersendiri. Selama ini, Indonesia dikenal aktif dalam misi penjaga perdamaian PBB di berbagai negara. Partisipasi dalam ISF memperluas peran diplomasi dan kontribusi militer Indonesia di tingkat internasional.
Penunjukan Indonesia sebagai wakil komandan ISF menunjukkan kepercayaan internasional terhadap kapasitas dan pengalaman pasukan perdamaian Indonesia. Namun, keputusan ini juga membawa tantangan diplomatik dan keamanan yang tidak ringan.
Sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, keterlibatan Indonesia dalam misi di Gaza memiliki dimensi politik yang sensitif, baik di dalam negeri maupun dalam hubungan luar negeri.
Tantangan di Lapangan
Pembentukan pasukan stabilisasi internasional di wilayah konflik bukanlah hal baru dalam sejarah hubungan internasional. Namun, efektivitasnya sangat bergantung pada mandat yang jelas, dukungan politik dari pihak-pihak yang bertikai, serta komitmen jangka panjang negara-negara kontributor.
Gaza merupakan wilayah dengan dinamika politik kompleks dan sejarah konflik panjang antara Hamas dan Israel. Keberhasilan ISF akan ditentukan oleh sejauh mana semua pihak menghormati gencatan senjata dan memberi ruang bagi pasukan internasional untuk menjalankan tugasnya.
Selain itu, pembentukan pasukan polisi baru pasca-Hamas juga berpotensi memunculkan ketegangan politik. Transisi keamanan yang sensitif memerlukan legitimasi publik serta dukungan dari berbagai faksi Palestina.
Price List Service Apple di Surabaya yang rekomended : Pricelist iJoe Apple Service Surabaya
Stabilitas atau Fase Transisi Baru?
Inisiatif ISF muncul di tengah kebutuhan mendesak untuk menghentikan kekerasan dan memulai rekonstruksi Gaza. Infrastruktur yang rusak, layanan publik yang terganggu, serta kondisi kemanusiaan yang berat mendorong komunitas internasional mencari solusi cepat.
Namun, kehadiran pasukan internasional juga sering dipandang sebagai fase transisi yang memerlukan perencanaan matang agar tidak menimbulkan kekosongan kekuasaan atau konflik baru.
Bagi Hamas, garis batasnya jelas: ISF boleh hadir sebagai penjaga perdamaian, tetapi tidak boleh mengatur urusan politik internal Gaza. Pernyataan ini sekaligus menjadi sinyal bahwa masa depan politik wilayah tersebut masih menjadi isu sensitif.
Rekomendasi Cakwar.com: Harga Daging Sapi di Malang dan Cabai Rawit di Kediri Naik, Pedagang Keluhkan Penjualan Turun
Perspektif Regional dan Global
Pembentukan ISF tidak lepas dari kepentingan geopolitik yang lebih luas. Amerika Serikat melalui Dewan Perdamaian berupaya memimpin inisiatif stabilisasi. Negara-negara lain melihat peluang untuk berkontribusi dalam upaya kemanusiaan sekaligus memperkuat posisi diplomatik mereka.
Keberhasilan atau kegagalan ISF akan menjadi tolok ukur efektivitas pendekatan multinasional dalam menangani konflik berkepanjangan. Pengalaman di berbagai wilayah lain menunjukkan bahwa misi stabilisasi membutuhkan koordinasi erat antara militer, sipil, dan lembaga kemanusiaan.
Di sisi lain, respons masyarakat Gaza sendiri akan menjadi faktor penting. Dukungan publik terhadap pasukan internasional akan menentukan sejauh mana mereka dapat menjalankan mandat tanpa resistensi.
Media sosial:
Menanti Implementasi
Saat ini, proses perekrutan dan persiapan teknis ISF masih berlangsung. Rincian operasional, termasuk aturan pelibatan dan koordinasi dengan otoritas lokal, akan menjadi kunci keberhasilan di lapangan.
Sikap Hamas yang menyambut dengan syarat menunjukkan adanya peluang kompromi, meski tetap diiringi kehati-hatian. Dunia kini menantikan bagaimana implementasi ISF akan berjalan dan apakah benar dapat menjadi jembatan menuju stabilitas jangka panjang.
Kehadiran Pasukan Stabilisasi Internasional di Gaza membuka babak baru dalam upaya meredakan konflik. Dukungan bersyarat dari Hamas, keterlibatan Indonesia sebagai wakil komandan, serta peran Amerika Serikat dalam inisiatif ini menciptakan dinamika yang patut dicermati.
Perkembangan selanjutnya akan menentukan apakah ISF mampu menjadi penyangga perdamaian atau justru menghadapi tantangan baru di lapangan. Untuk mengikuti analisis mendalam dan berita internasional terkini, pembaca dapat menyimak laporan terbaru di media digital cakwar.com.
Kasus Dugaan Pemerkosaan Anak di Belu, Polisi Segera Panggil Piche Kota sebagai Tersangka February 21, 2026 Rahmat Yanuar Penyidik Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Belu, Nusa Tenggara Timur (NTT), segera...
Read MoreTradisi Perlon Unggahan Trah Bonokeling di Pekuncen Banyumas, Warisan Leluhur Sambut Ramadan yang Tetap Lestari February 21, 2026 Rahmat Yanuar Menjelang datangnya bulan suci Ramadan, suasana berbeda terasa di Desa...
Read MorePolda NTB Ganti Plh Kapolres Bima Kota, AKBP Hariyanto Ditunjuk Usai Kasus Narkoba February 21, 2026 Rahmat Yanuar Polda Nusa Tenggara Barat (NTB) kembali melakukan pergantian Pelaksana Harian (Plh) Kapolres...
Read MoreArti Mokel yang Ramai di X Saat Ramadan 2026, Ini Asal-Usul dan Maknanya February 21, 2026 Rahmat Yanuar Memasuki awal Ramadan 2026, lini masa media sosial kembali dipenuhi istilah yang...
Read MoreBocoran iPhone 17e: Rilis 19 Februari 2026 dengan Harga Mulai 599 Dollar AS? February 16, 2026 Rahmat Yanuar Kabar mengenai iPhone 17e kembali mencuat dan memicu perbincangan di kalangan penggemar...
Read MoreiOS 26.3 Resmi Dirilis, Apple Permudah Transfer Data dari iPhone ke Android February 12, 2026 Rahmat Yanuar Apple kembali menghadirkan pembaruan sistem operasi lewat iOS 26.3 dengan sejumlah perubahan yang...
Read MoreSkor DxOMark 2025: Huawei Pura 80 Ultra Kalahkan iPhone 17 Pro untuk Kamera, Tapi Apple Unggul di Video February 12, 2026 Rahmat Yanuar Setiap kali Apple meluncurkan iPhone generasi terbaru,...
Read MoreApple Luncurkan iPhone 17e 19 Februari 2026, Seri Ekonomis dengan Chip A19 dan Apple Intelligence 2.0 February 11, 2026 Rahmat Yanuar iPhone 17e jadi lini ramah anggaran pertama Apple yang...
Read More
© 2025 Cak War Company | CW | Contact Us | Accessibility | Work with us | Advertise | T Brand Studio | Your Ad Choices | Privacy Policy | Terms of Service | Terms of Sale | Site Map | Help | Subscriptions