Menjelang datangnya bulan suci Ramadan, suasana berbeda terasa di Desa Pekuncen, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Ratusan warga dengan busana adat berjalan beriringan menuju kompleks makam leluhur. Mereka membawa hasil bumi, tumpeng, dan perlengkapan ritual. Inilah tradisi Perlon Unggahan Trah Bonokeling, sebuah warisan budaya yang hingga kini tetap terjaga.
Tradisi Perlon Unggahan bukan sekadar ritual tahunan. Ia adalah simbol penghormatan kepada leluhur sekaligus bentuk persiapan spiritual menyambut Ramadan. Di tengah arus modernisasi yang kian deras, masyarakat adat Bonokeling di Pekuncen tetap memegang teguh nilai-nilai tradisi yang diwariskan turun-temurun.
Rekomendasi Cak war: iJoe – Apple Service Surabaya, Tempat Service Iphone, iMac, iPad dan iWatch Terpercaya di Surabaya
Mengenal Trah Bonokeling dan Desa Pekuncen
Desa Pekuncen terletak di Kecamatan Jatilawang, Kabupaten Banyumas. Wilayah ini dikenal sebagai pusat komunitas adat Bonokeling, kelompok masyarakat yang masih menjaga tradisi leluhur dalam kehidupan sehari-hari.
Nama Bonokeling merujuk pada tokoh leluhur yang diyakini sebagai penyebar ajaran spiritual dan nilai kehidupan di kawasan tersebut. Hingga kini, makam leluhur Bonokeling menjadi pusat kegiatan adat, termasuk dalam pelaksanaan Perlon Unggahan.
Secara umum, masyarakat Bonokeling memadukan ajaran Islam dengan tradisi lokal Jawa. Mereka menjalankan ibadah Ramadan, namun tetap mempertahankan ritual adat sebagai bagian dari identitas budaya.
Artikel Lainnya:
Makna Perlon Unggahan Menjelang Ramadan
Dalam bahasa Jawa, “unggahan” bermakna naik atau meningkat. Secara filosofi, Perlon Unggahan dimaknai sebagai upaya meningkatkan kualitas diri sebelum memasuki bulan suci Ramadan.
Tradisi ini biasanya digelar beberapa hari sebelum awal puasa. Warga berkumpul dan berjalan bersama menuju kompleks makam leluhur untuk melakukan doa bersama, membersihkan area makam, serta membawa sesaji berupa hasil bumi.
Kegiatan ini mencerminkan tiga nilai utama: penghormatan kepada leluhur, kebersamaan komunitas, dan persiapan batin menyambut Ramadan. Bagi masyarakat Bonokeling, menjaga hubungan dengan leluhur bukan bentuk penyembahan, melainkan penghormatan terhadap asal-usul dan sejarah keluarga besar mereka.
Price List Service Apple di Surabaya yang rekomended : Pricelist iJoe Apple Service Surabaya
Baca juga artikel tentang: Arti Mokel yang Ramai di X Saat Ramadan 2026, Ini Asal-Usul dan Maknanya
Prosesi Ritual yang Sarat Simbol
Pelaksanaan Perlon Unggahan berlangsung khidmat namun penuh nuansa kebersamaan. Warga mengenakan pakaian adat sederhana, didominasi warna hitam atau gelap, dengan ikat kepala khas Jawa bagi laki-laki.
Rombongan berjalan kaki menuju makam leluhur. Setibanya di lokasi, dilakukan doa bersama yang dipimpin tokoh adat. Mereka memanjatkan harapan agar diberikan kelancaran dalam menjalankan ibadah Ramadan serta keselamatan bagi seluruh warga.
Selain doa, warga juga membawa makanan tradisional seperti tumpeng, sayuran, dan hasil pertanian setempat. Setelah prosesi doa selesai, makanan tersebut dinikmati bersama sebagai bentuk syukur dan simbol kebersamaan.
Tidak ada kemewahan dalam ritual ini. Justru kesederhanaan menjadi ciri khas utama. Semua dilakukan dengan tertib, tanpa hiruk-pikuk berlebihan.
Harmoni Tradisi dan Islam
Salah satu hal menarik dari tradisi Perlon Unggahan adalah bagaimana masyarakat Bonokeling memadukan nilai adat dengan ajaran Islam. Ramadan tetap dijalankan sebagaimana umat Muslim pada umumnya, termasuk puasa, salat tarawih, dan ibadah lainnya.
Tradisi unggahan diposisikan sebagai bentuk persiapan spiritual, bukan pengganti ibadah. Dalam praktiknya, masyarakat tetap berpegang pada rukun Islam, sementara tradisi menjadi wadah mempererat solidaritas sosial.
Fenomena ini menunjukkan bahwa di berbagai daerah Indonesia, Islam dan budaya lokal dapat berjalan beriringan. Selama tidak bertentangan dengan prinsip dasar agama, tradisi menjadi bagian dari kekayaan khazanah budaya Nusantara.
Price List Service Apple di Surabaya yang rekomended : Pricelist iJoe Apple Service Surabaya
Ketahanan Tradisi di Tengah Modernisasi
Di era digital, banyak tradisi lokal yang perlahan memudar. Namun Perlon Unggahan Trah Bonokeling masih terus dilaksanakan setiap tahun. Generasi muda di Pekuncen pun tetap dilibatkan agar memahami makna ritual tersebut.
Keterlibatan anak-anak dan remaja menjadi bagian penting dalam pelestarian tradisi. Mereka diajak mengikuti prosesi, membantu persiapan, hingga memahami filosofi yang terkandung di dalamnya.
Pemerintah daerah juga mulai memberi perhatian terhadap keberlangsungan tradisi ini sebagai bagian dari kekayaan budaya Banyumas. Tradisi lokal seperti Perlon Unggahan berpotensi menjadi daya tarik budaya sekaligus sarana edukasi tentang nilai toleransi dan kearifan lokal.
Rekomendasi Cakwar.com: Logat Berubah Jadi Madura Usai Stroke, Kasus Langka Foreign Accent Syndrome Ditemukan di RSUD Dr Moewardi
Nilai Sosial yang Menguatkan Komunitas
Selain aspek spiritual, Perlon Unggahan memiliki fungsi sosial yang kuat. Momentum ini menjadi ajang silaturahmi antaranggota trah yang mungkin merantau ke berbagai daerah.
Kebersamaan dalam mempersiapkan acara, memasak, hingga mengikuti ritual menciptakan ikatan emosional yang erat. Di tengah kehidupan modern yang serba cepat, tradisi ini menghadirkan ruang untuk kembali pada akar budaya dan keluarga.
Tradisi menyambut Ramadan di Pekuncen juga mengajarkan pentingnya introspeksi diri. Sebelum menjalani puasa, warga diajak membersihkan hati dan memperbaiki hubungan sosial.
Media sosial:
Simbol Identitas Budaya Banyumas
Banyumas dikenal memiliki beragam tradisi unik yang masih bertahan hingga kini. Perlon Unggahan menjadi salah satu simbol identitas budaya daerah tersebut.
Tradisi ini memperlihatkan bagaimana masyarakat lokal menjaga kesinambungan sejarah, nilai, dan kepercayaan yang diwariskan leluhur. Dalam konteks yang lebih luas, keberadaan komunitas adat seperti Bonokeling memperkaya wajah kebudayaan Indonesia.
Keberlanjutan tradisi ini juga menjadi bukti bahwa modernisasi tidak selalu harus menghapus warisan budaya. Dengan pendekatan yang adaptif, tradisi dapat tetap hidup berdampingan dengan perkembangan zaman.
Menyambut Ramadan dengan Kearifan Lokal
Tradisi Perlon Unggahan Trah Bonokeling di Desa Pekuncen, Banyumas, bukan sekadar ritual tahunan. Ia adalah cermin bagaimana masyarakat memaknai Ramadan dengan pendekatan budaya yang khas.
Menghormati leluhur, mempererat silaturahmi, dan mempersiapkan diri secara spiritual menjadi inti dari tradisi ini. Di tengah perubahan sosial yang cepat, nilai-nilai tersebut tetap relevan.
Bagi masyarakat Bonokeling, Ramadan bukan hanya soal menahan lapar dan dahaga, tetapi juga momentum memperbaiki diri dan menjaga harmoni dengan sesama.
Tradisi ini menunjukkan bahwa kekayaan budaya Indonesia tidak hanya tersimpan dalam arsip sejarah, tetapi hidup dan dijalankan oleh masyarakat hingga hari ini.
Untuk membaca kisah budaya, tradisi Nusantara, dan laporan inspiratif lainnya, pembaca dapat menjelajahi artikel menarik di media digital cakwar.com.
Kasus Dugaan Pemerkosaan Anak di Belu, Polisi Segera Panggil Piche Kota sebagai Tersangka February 21, 2026 Rahmat Yanuar Penyidik Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Belu, Nusa Tenggara Timur (NTT), segera...
Read MoreTradisi Perlon Unggahan Trah Bonokeling di Pekuncen Banyumas, Warisan Leluhur Sambut Ramadan yang Tetap Lestari February 21, 2026 Rahmat Yanuar Menjelang datangnya bulan suci Ramadan, suasana berbeda terasa di Desa...
Read MorePolda NTB Ganti Plh Kapolres Bima Kota, AKBP Hariyanto Ditunjuk Usai Kasus Narkoba February 21, 2026 Rahmat Yanuar Polda Nusa Tenggara Barat (NTB) kembali melakukan pergantian Pelaksana Harian (Plh) Kapolres...
Read MoreArti Mokel yang Ramai di X Saat Ramadan 2026, Ini Asal-Usul dan Maknanya February 21, 2026 Rahmat Yanuar Memasuki awal Ramadan 2026, lini masa media sosial kembali dipenuhi istilah yang...
Read MoreBocoran iPhone 17e: Rilis 19 Februari 2026 dengan Harga Mulai 599 Dollar AS? February 16, 2026 Rahmat Yanuar Kabar mengenai iPhone 17e kembali mencuat dan memicu perbincangan di kalangan penggemar...
Read MoreiOS 26.3 Resmi Dirilis, Apple Permudah Transfer Data dari iPhone ke Android February 12, 2026 Rahmat Yanuar Apple kembali menghadirkan pembaruan sistem operasi lewat iOS 26.3 dengan sejumlah perubahan yang...
Read MoreSkor DxOMark 2025: Huawei Pura 80 Ultra Kalahkan iPhone 17 Pro untuk Kamera, Tapi Apple Unggul di Video February 12, 2026 Rahmat Yanuar Setiap kali Apple meluncurkan iPhone generasi terbaru,...
Read MoreApple Luncurkan iPhone 17e 19 Februari 2026, Seri Ekonomis dengan Chip A19 dan Apple Intelligence 2.0 February 11, 2026 Rahmat Yanuar iPhone 17e jadi lini ramah anggaran pertama Apple yang...
Read More
© 2025 Cak War Company | CW | Contact Us | Accessibility | Work with us | Advertise | T Brand Studio | Your Ad Choices | Privacy Policy | Terms of Service | Terms of Sale | Site Map | Help | Subscriptions