Heboh Narasi ‘Turunkan Presiden’, Saiful Mujani: Ini Bukan Makar, Tapi Alarm Buat Demokrasi!

Halo Sobat cakwar.com! Belakangan ini, jagat media sosial kita lagi “panas dingin” gara-gara satu frasa yang mendadak viral: “Turunkan Presiden”. Kalimat ini keluar dari mulut pendiri SMRC, Saiful Mujani, dan langsung memicu gelombang perdebatan yang luar biasa.

Ada yang menganggap ini sebagai ajakan makar, ada juga yang menilainya sebagai hak konstitusional untuk mengkritik. Bahkan, laporan polisi sudah meluncur dan pihak istana pun ikut berkomentar pedas.

Rekomendasi Cak war: iJoe – Apple Service Surabaya, Tempat Service Iphone, iMac, iPad dan iWatch Terpercaya di Surabaya

Sebenarnya, apa sih yang sedang terjadi? Apakah demokrasi kita sedang baik-baik saja, atau memang benar ada ancaman terhadap konstitusi yang membuat seorang akademisi harus bersuara sekeras itu? Yuk, kita bedah tuntas dengan santai tapi tetap berbobot!

Klarifikasi Saiful Mujani: Bukan Ajakan, Tapi Bentuk Kekhawatiran

Dalam obrolan santai di kanal YouTube Akbar Faizal (22/4/2026), Saiful Mujani memberikan klarifikasi penting. Ia menegaskan bahwa pernyataannya bukanlah ajakan eksplisit untuk menggulingkan pemerintah secara ilegal. Baginya, itu adalah sebuah “respons akademik” atas arah demokrasi yang dirasa makin melenceng.

Saiful menjelaskan bahwa sumber kerusakan demokrasi di banyak negara seringkali berasal dari pemimpin eksekutifnya sendiri. Ia melihat adanya tren di mana pemimpin yang terpilih secara demokratis justru berpotensi merusak sistem tersebut setelah berkuasa.

Salah satu poin yang bikin beliau cemas adalah wacana kembali ke UUD 1945 versi asli. Menurutnya, ini adalah ancaman serius bagi hasil reformasi. Konstitusi hasil amandemen adalah fondasi demokrasi modern kita, dan mengubahnya kembali ke versi lama dianggap sebagai langkah mundur yang sangat berisiko.

Price List Service Apple di Surabaya yang rekomended : Pricelist iJoe Apple Service Surabaya

Baca juga artikel tentang: Selamat Tinggal Demokrasi? Bivitri Susanti Sebut Indonesia Kini Masuk Era Otoritarian

Melanggar Konstitusi? Dari Jabatan Sipil Hingga Hubungan Luar Negeri

Bukan tanpa alasan Saiful melempar narasi keras tersebut. Ia menyoroti beberapa kebijakan Presiden Prabowo Subianto yang dinilainya sudah melanggar aturan dasar negara.

Misalnya, keterlibatan aparat militer aktif dalam jabatan sipil serta kesepakatan-kesepakatan dengan negara lain yang dianggap tidak melalui mekanisme semestinya di DPR. Saiful merasa langkah-langkah ini harus direspons secara preventif.

“Saya merasa orang ini sebelum mewujudkannya (kerusakan demokrasi), lebih baik turun saja,” papar Saiful. Baginya, pergantian kekuasaan melalui partisipasi politik masyarakat, seperti aksi demonstrasi dan tekanan publik, adalah hal yang dijamin oleh konstitusi.

Feri Amsari Pasang Badan: Istilah ‘Makar’ Sudah Salah Kaprah

Di tengah tuduhan makar yang dilayangkan oleh pihak Istana melalui Tenaga Ahli Utama KSP, Ulta Levenia, Pakar Hukum Tata Negara Feri Amsari ikut angkat bicara. Feri menilai tuduhan tersebut sangat aneh dan salah alamat.

Tempat service Device Terbaik di Surabaya: 

 

Feri menjelaskan bahwa kata “makar” berasal dari bahasa Belanda aanslag yang berarti “menyerang”. Pertanyaannya: apakah Saiful Mujani menyerang fisik presiden? Tentu tidak.

  • Pasal 191 KUHP: Makar terhadap Presiden (serangan fisik/kemerdekaan). Tidak terbukti.
  • Pasal 192 KUHP: Makar memisahkan wilayah NKRI. Jauh panggang dari api.
  • Pasal 193 KUHP: Makar terhadap pemerintahan (menggulingkan struktur). Saiful tidak mengangkat diri jadi presiden tandingan.

Feri menyentil pihak Istana yang dinilainya terlalu berlebihan memaknai diksi akademik. “Kalau semua diksi dianggap makar, warung ‘Padang Merdeka‘ bisa kena pasal karena kata ‘merdeka‘,” sindirnya. Menurutnya, kegaduhan ini justru meningkat tajam karena peran negara yang “mengompori” ruang dialektika menjadi liar.

Sikap Politik vs Kejahatan Negara

Saiful Mujani sendiri menegaskan bahwa apa yang ia lakukan adalah political engagement atau sikap politik. Hal ini adalah hak verbal dan berkumpul yang dilindungi oleh UUD. Jika sikap politik dianggap makar, berarti makar adalah hal yang dijamin konstitusi—dan tentu saja logika itu salah.

Rekomendasi Cakwar.com: Kritik Bukan Makar! Feri Amsari Soroti ‘Inflasi Pengamat’ hingga Polemik Data Swasembada Pangan

Makar adalah upaya ilegal menyerang keamanan negara. Sementara itu, mengkritik kinerja presiden dan menyarankan agar ia turun karena dianggap merusak demokrasi adalah bagian dari kontrol publik terhadap kekuasaan.

Insight Praktis: Mengapa Kita Tidak Perlu Panik dengan Kritik?

Sebagai masyarakat yang cerdas, kita perlu memahami beberapa hal agar tidak gampang terprovokasi:

  1. Kritik Bukan Kebencian: Mengkritik pemerintah adalah bentuk cinta tanah air agar pemimpin tetap berada di jalur yang benar.
  2. Pahami Definisi Hukum: Jangan mudah menelan mentah-mentah label “makar” atau “hoaks” sebelum melihat unsur pidananya secara jernih.
  3. Jaga Ruang Dialektika: Demokrasi yang sehat butuh perdebatan data dan argumen, bukan laporan polisi untuk setiap perbedaan pendapat.

 

 

Kesimpulan: Demokrasi Adalah Parameter Kemajuan

Polemik pernyataan Saiful Mujani ini sebenarnya adalah ujian bagi demokrasi Indonesia di tahun 2026. Apakah kita akan menjadi bangsa yang dewasa menerima kritik pahit sebagai bahan evaluasi, atau kita akan kembali ke era di mana setiap suara sumbang dianggap sebagai musuh negara?

Menjaga demokrasi memang berat, tapi seperti kata Saiful, tidak ada yang lebih baik daripada sistem ini. Parameter kemajuan sebuah bangsa bukan hanya dari gedung-gedung tinggi, tapi dari seberapa bebas warganya bisa marah dan bersuara ketika merasa konstitusinya sedang tidak baik-baik saja.

Untuk mendapatkan informasi terbaru dan ulasan menarik lainnya seputar isu sosial, kebijakan publik, dan berita terkini, Anda dapat membaca artikel lainnya di cakwar.com.

#TERBARU

#TEKNOLOGI

CakWar.com

Dunia

Politik Internasional

Militer

Acara

Indonesia

Bisnis

Teknologi

Pendidikan

Cuaca

Seni

Ulas Buku

Buku Best Seller

Musik

Film

Televisi

Pop Culture

Theater

Gaya Hidup

Kuliner

Kesehatan

Review Apple Store

Cinta

Liburan

Fashion

Gaya

Opini

Politik Negeri

Review Termpat

Mahasiswa

Demonstrasi

© 2025 Cak War Company | CW | Contact Us | Accessibility | Work with us | Advertise | T Brand Studio | Your Ad Choices | Privacy Policy | Terms of Service | Terms of Sale | Site Map | Help | Subscriptions