Kampus dan Ruang Publik Adalah Tempat Persemaian Gagasan: Mengapa Kriminalisasi Akademisi Bikin Demokrasi Kita “Meriang”?

Sobat cakwar.com, pernah nggak sih terbayang kalau kamu lagi asyik diskusi kritis soal kebijakan negara di kampus, tiba-tiba besoknya ada surat panggilan dari polisi? Rasanya ngeri-ngeri sedap, kan? Nah, suasana “adem panas” inilah yang lagi menyelimuti dunia akademik kita belakangan ini.

Baru-baru ini, publik dikejutkan dengan rentetan pelaporan ke polisi terhadap sejumlah intelektual papan atas seperti Feri Amsari, Ubedilah Badrun, hingga Saiful Mujani. Tuduhannya nggak main-main, mulai dari hoaks, ujaran kebencian, sampai narasi makar. Sontak, fenomena ini bikin banyak pihak elus dada, termasuk para pejuang bantuan hukum di YLBHI.

Rekomendasi Cak war: iJoe – Apple Service Surabaya, Tempat Service Iphone, iMac, iPad dan iWatch Terpercaya di Surabaya

Bagi kita yang peduli sama kesehatan demokrasi, isu ini sangat krusial. Sebab, kalau orang-orang pintar di kampus sudah mulai takut bicara karena bayang-bayang laporan polisi, lantas siapa lagi yang bakal jadi “alarm” buat pemerintah kalau ada kebijakan yang melenceng? Yuk, kita bedah bareng-bareng kenapa fenomena ini berbahaya bagi masa depan kita.

Muhammad Isnur: Kampus dan Ruang Publik Adalah Tempat Persemaian Gagasan

Ketua Umum YLBHI, Muhammad Isnur, angkat bicara dengan nada yang cukup tegas. Menurutnya, tindakan melaporkan para pakar ini bukan sekadar serangan personal, tapi upaya sistematis untuk “mematikan” nalar kritis di Indonesia. Isnur menegaskan bahwa kampus dan ruang publik adalah tempat persemaian gagasan.

Dalam sebuah negara demokratis, akademisi punya tanggung jawab moral untuk melakukan check and balances. Jadi, kalau Feri Amsari mengkritik hukum tata negara atau Saiful Mujani bicara soal kondisi politik, itu adalah bagian sah dari kebebasan akademik. Itu “vitamin” buat negara, bukan racun yang harus dipidanakan.

“Negara yang sehat adalah negara yang mampu menempatkan kritik sebagai perbaikan kebijakan, bukan sebagai ancaman,” kata Isnur (18/4/2026). Kalau dikit-dikit lapor, lama-lama ruang publik kita bakal sepi karena orang lebih memilih diam daripada harus berurusan dengan hukum.

Price List Service Apple di Surabaya yang rekomended : Pricelist iJoe Apple Service Surabaya

Baca juga artikel tentang:  Waspada “Sanjungan” Donald Trump! Hikmahanto Juwana dan Andi Widjajanto Ingatkan Indonesia Jaga Harga Diri Bangsa

Bahaya Efek Gentar (Chilling Effect) Bagi Intelektual

Satu hal yang paling dikhawatirkan Isnur adalah munculnya chilling effect atau efek gentar bagi akademisi lain untuk bersuara. Bayangkan, kalau tokoh sekaliber Saiful Mujani saja bisa dilaporkan makar, dosen-dosen muda atau mahasiswa mungkin bakal mikir seribu kali sebelum berpendapat kritis.

Pelaporan ini dinilai sebagai bentuk Strategic Lawsuit Against Public Participation (SLAPP). Istilah kerennya: tuntutan hukum yang sengaja dipakai buat membungkam partisipasi publik. Bukannya dijawab dengan adu argumen atau data, kritik malah dibalas dengan pasal-pasal karet.

Isnur menilai tuduhan makar, penghasutan, dan ujaran kebencian terhadap para akademisi ini sangat berlebihan. Secara hukum, makar itu harus ada unsur serangan fisik (aanslag). Sedangkan mereka ini kan cuma bicara, berdiskusi, dan berpendapat. Jadi, kalau pernyataan lisan dibilang makar, ya rasanya terlalu jauh panggang dari api.

Daftar Panjang Pelaporan di Polda Metro Jaya

Mari kita lihat data lapangan yang bikin geleng-geleng kepala. Dalam waktu singkat, Polda Metro Jaya kebanjiran laporan terhadap para intelektual:

  • Feri Amsari: Pakar Hukum Tata Negara ini dilaporkan dua hari berturut-turut (16-17 April 2026) atas dugaan berita bohong atau hoaks.

Tempat service Device Terbaik di Surabaya: 

 

  • Ubedilah Badrun: Dosen UNJ ini dilaporkan gara-gara pernyataannya yang menyebut kepemimpinan nasional saat ini sebagai beban bangsa. Laporannya teregistrasi pada 13 April 2026 terkait ujaran kebencian.
  • Saiful Mujani: Pendiri lembaga survei ini dilaporkan atas dugaan narasi makar dan penghasutan pada 8 April 2026, bahkan laporannya sampai ke Bareskrim Polri juga.

Padahal, jika merujuk pada putusan Mahkamah Konstitusi, kritik terhadap pemerintah atau pejabat negara demi kepentingan publik itu dikecualikan dari delik ujaran kebencian. Tapi nyatanya, jalur hukum tetap saja dipakai oleh kelompok-kelompok tertentu untuk menekan mereka.

Rekomendasi Cakwar.com: Demokrasi Sedang Tidak Baik-Baik Saja? Hasto Kristiyanto Kritik Fenomena “Kritik Berujung Lapor Polisi”

Insight Praktis: Cara Menjaga Nalar Kritis di Tengah “Musim Lapor”

Meski suasana sedang panas, kita nggak boleh berhenti peduli. Berikut beberapa tips agar suara kritis tetap terjaga:

  1. Berbasis Data: Pastikan setiap kritik yang disampaikan didukung oleh data yang valid agar tidak mudah dipelintir menjadi hoaks.
  2. Gunakan Hak Akademik: Bagi mahasiswa dan dosen, gunakan mimbar akademik di kampus secara maksimal karena itu dilindungi undang-undang.
  3. Solidaritas: Jika ada akademisi yang dikriminalisasi, dukungan publik sangat penting untuk memastikan penegak hukum bertindak profesional dan tidak memaksakan pidana.

 

Media sosial:

 

Kesimpulan: Kritik Bukan Ancaman

Demokrasi kita sedang diuji. Jika kampus dan ruang publik adalah tempat persemaian gagasan, maka biarkanlah gagasan-gagasan itu tumbuh liar, saling beradu, dan saling mengoreksi. Kriminalisasi terhadap akademisi hanya akan membuat Indonesia berjalan menuju arah otoritarianisme yang kaku.

Mari kita kawal bersama kasus ini agar pasal-pasal hukum tidak dijadikan senjata untuk membungkam akal sehat. Ingat, kritik yang tajam seringkali adalah tanda cinta yang paling tulus untuk perbaikan bangsa.

Untuk mendapatkan informasi terbaru dan ulasan menarik lainnya seputar isu sosial, kebijakan publik, dan berita terkini, Anda dapat membaca artikel lainnya di cakwar.com.

#TERBARU

#TEKNOLOGI

CakWar.com

Dunia

Politik Internasional

Militer

Acara

Indonesia

Bisnis

Teknologi

Pendidikan

Cuaca

Seni

Ulas Buku

Buku Best Seller

Musik

Film

Televisi

Pop Culture

Theater

Gaya Hidup

Kuliner

Kesehatan

Review Apple Store

Cinta

Liburan

Fashion

Gaya

Opini

Politik Negeri

Review Termpat

Mahasiswa

Demonstrasi

© 2025 Cak War Company | CW | Contact Us | Accessibility | Work with us | Advertise | T Brand Studio | Your Ad Choices | Privacy Policy | Terms of Service | Terms of Sale | Site Map | Help | Subscriptions