Kapal Pertamina Terjebak di Selat Hormuz: Pakar Sebut Diplomat RI Tak Paham Karakter Iran!

Halo Sobat cakwar.com! Pernah nggak sih kamu merasa sudah bicara panjang lebar tapi pesanmu nggak sampai ke bos besar? Nah, sepertinya itulah gambaran kondisi diplomasi kita saat ini terkait dua kapal tanker Pertamina yang masih “nyangkut” di Selat Hormuz.

Pakar Kemaritiman, Siswanto Rusdi, baru saja melempar kritik pedas. Beliau menilai para diplomat kita di Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI kurang update alias nggak paham karakter dan sistem politik Iran. Akibatnya, negosiasi untuk membebaskan jalur kapal kita jalan di tempat.

Rekomendasi Cak war: iJoe – Apple Service Surabaya, Tempat Service Iphone, iMac, iPad dan iWatch Terpercaya di Surabaya

Masalahnya bukan sekadar teknis, tapi soal siapa yang sebenarnya memegang kunci keputusan di Teheran. Yuk, kita bedah kenapa “karakter” dan “psikologi” sebuah negara bisa jadi penentu nasib pasokan minyak kita!

Memahami Sistem Pemimpin Agung: Kata Putus di Tangan Mojtaba Khamenei

Menurut Siswanto Rusdi, kesalahan fatal diplomat kita adalah menganggap sistem di Iran sama dengan negara kebanyakan. Di Iran, presiden atau menteri luar negeri mungkin bisa mengusulkan, tapi keputusan final, terutama urusan angkatan bersenjata dan keamanan jalur strategis seperti Selat Hormuz, ada di tangan Pemimpin Agung.

Saat ini, sosok yang memegang kendali tertinggi adalah Sayyid Mojtaba Khamenei. Beliaulah yang menguasai militer dan urusan luar negeri yang krusial. Siswanto menekankan bahwa diplomat kita harusnya melobi lingkaran “Penasihat Pemimpin Agung” jika ingin suara Jakarta didengar.

“Usulan yang datang dari diplomat Kemlu RI bisa saja tidak sampai ke pemimpin agung. Mungkin karena dianggap kurang penting, atau diamnya mereka itu sebenarnya sudah merupakan sebuah keputusan,” jelas Siswanto dalam program On Focus Tribunnews (24/4/2026).

Price List Service Apple di Surabaya yang rekomended : Pricelist iJoe Apple Service Surabaya

Baca juga artikel tentang: Bukan Baterai Bocor, Ternyata Ini Alasan Kenapa HP Android Cepat Panas Saat Sinyal Lemah!

Ada ‘Dendam’ Masa Lalu? Catatan Hitam Kapal Iran di Indonesia

Ternyata, diplomasi itu seperti berteman: kalau kita punya catatan buruk, susah mau minta tolong. Siswanto mengingatkan bahwa Iran mungkin masih “ingat” soal insiden tiga tahun lalu saat Indonesia menahan kapal Iran, merampas isinya, bahkan berencana melelangnya.

Kala itu, pihak kedutaan Iran merasa dilempar sana-sini (di-pong) saat mencoba bernegosiasi. Nah, sekarang giliran kapal Pertamina yang tertahan, Iran seolah-olah memberikan “pelajaran” tentang pentingnya niat baik dalam hubungan internasional.

“Kita harus melihatkan niat baik kita dulu. Kalau nggak ada perubahan sikap, ya ngapain mereka mau berbaik-baikan?” tegas Siswanto. Jadi, sebelum menuntut Selat Hormuz dibuka untuk kita, ada baiknya Indonesia memperbaiki “catatan merah” di mata Teheran.

Selat Hormuz Tidak Tutup, Tapi Ada ‘Protokol Perang’

Di sisi lain, Duta Besar Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, meluruskan kabar yang beredar. Beliau menegaskan bahwa Selat Hormuz sebenarnya tidak ditutup total. Jalur perdagangan tetap jalan, tapi memang ada protokol keamanan super ketat karena status siaga perang.

Tempat service Device Terbaik di Surabaya: 

 

Iran merasa bertanggung jawab atas keamanan selat tersebut dari intervensi pihak luar (Amerika Serikat-Israel). Bagi negara sahabat seperti Indonesia, jalur sebenarnya aman-aman saja, asalkan ada komunikasi dan koordinasi yang sangat intensif dengan pemerintah pusat di Iran.

Masalahnya, komunikasi intensif ini yang sepertinya tersendat. Tanpa koordinasi yang pas dengan otoritas yang tepat, kapal tanker kita tetap akan tertahan karena dianggap belum memenuhi standar keamanan khusus yang berlaku saat ini.

Rekomendasi Cakwar.com: The Apple Sync Nightmare: Mengapa Ekosistem Anda Tiba-tiba Berhenti Bekerja dan Cara Memperbaikinya

Ancaman Krisis Energi: Singapura Hingga Filipina Sudah Naikkan Harga BBM

Tertahannya kapal di Selat Hormuz bukan urusan sepele. Jalur ini adalah urat nadi minyak dunia. Negara tetangga kita sudah mulai “gerah” dan merespons dengan kebijakan pahit:

  • Kamboja: Sudah menaikkan harga BBM sebesar 10%.
  • Vietnam & Filipina: Mengalami tren kenaikan harga di kisaran 6% hingga 8%.
  • Indonesia: Masih mencoba bertahan dengan kebijakan Work From Home (WFH) bagi ASN untuk menghemat BBM hingga 20%, alih-alih langsung menaikkan harga.

Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, memang optimis pasokan minyak kita aman karena sudah ada pengganti dari negara seperti Angola dan Amerika. Namun, jika kapal Pertamina terus tertahan, efisiensi biaya dan stabilitas stok energi nasional jangka panjang tetap menjadi taruhan.

 

Insight Praktis: Apa yang Harus Dilakukan Diplomat RI?

Agar krisis ini tidak berlarut-larut, para pakar menyarankan langkah konkret:

  1. Pahami Psikologi Politik: Berhenti melakukan diplomasi formalitas dan mulai dekati lingkaran penasihat Pemimpin Agung Iran.
  2. Tunjukkan Niat Baik: Bereskan isu-isu lama terkait penahanan kapal Iran di masa lalu agar kepercayaan (trust) kembali terbangun.
  3. Koordinasi Militer ke Militer: Mengingat Selat Hormuz dijaga ketat oleh militer di bawah komando Pemimpin Agung, koordinasi jalur pertahanan mungkin lebih efektif daripada sekadar nota diplomatik.

 

Kesimpulan: Diplomasi Butuh Hati dan Logika Budaya

Kasus di Selat Hormuz ini menjadi pelajaran mahal bagi Indonesia. Diplomasi bukan cuma soal kirim surat atau rapat di hotel mewah, tapi soal memahami siapa yang punya “tanda tangan” terakhir di negara tujuan.

Tanpa pemahaman mendalam terhadap karakter Mojtaba Khamenei dan sistem pemerintahan Iran, kapal-kapal kita mungkin akan lebih lama “parkir” di tengah laut, sementara rakyat di tanah air harus menanggung risiko krisis energi yang menghantui.

Untuk mendapatkan informasi terbaru dan ulasan menarik lainnya seputar isu sosial, kebijakan publik, dan berita terkini, Anda dapat membaca artikel lainnya di cakwar.com.

#TERBARU

#TEKNOLOGI

CakWar.com

Dunia

Politik Internasional

Militer

Acara

Indonesia

Bisnis

Teknologi

Pendidikan

Cuaca

Seni

Ulas Buku

Buku Best Seller

Musik

Film

Televisi

Pop Culture

Theater

Gaya Hidup

Kuliner

Kesehatan

Review Apple Store

Cinta

Liburan

Fashion

Gaya

Opini

Politik Negeri

Review Termpat

Mahasiswa

Demonstrasi

© 2025 Cak War Company | CW | Contact Us | Accessibility | Work with us | Advertise | T Brand Studio | Your Ad Choices | Privacy Policy | Terms of Service | Terms of Sale | Site Map | Help | Subscriptions