Ubedilah Badrun Turun Jalan, Sebut Istana dan DPR Disfungsi dalam Aksi ‘Rawamangun Menggugat’

Gelombang protes mahasiswa terhadap arah kebijakan sosiopolitik nasional terus meluas ke berbagai sudut kota Jakarta. Pada Jumat sore, 12 Juni 2026, giliran wilayah Jakarta Timur yang bergejolak lewat aksi ‘Rawamangun Menggugat’ yang digelar Aliansi UNJ Melawan di sekitar koridor Jalan Pemuda, Rawamangun. Menariknya, pergerakan kali ini tidak hanya diisi oleh barisan pemuda, tetapi juga didampingi langsung oleh figur akademisi kampus.

Pengamat politik sekaligus dosen Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Ubedilah Badrun, tampak hadir melebur di tengah ratusan mahasiswa dan warga. Kehadiran sang dosen senior di garis depan ini menjadi suntikan moral yang sangat besar bagi para demonstran yang merasa ruang-ruang diskusi akademis di dalam ruang kelas sudah tidak lagi cukup untuk membendung kegelisahan sosial.

Rekomendasi Cak war: iJoe – Apple Service Surabaya, Tempat Service Iphone, iMac, iPad dan iWatch Terpercaya di Surabaya

Bagi Anda yang mengikuti perkembangan dinamika politik tanah air, keterlibatan aktif seorang sosiolog dan akademisi di atas mobil komando mencerminkan ada sumbatan komunikasi yang serius antara penguasa dan intelektual. Kemacetan yang sempat mengular di sepanjang Jalan Pemuda sore tadi menjadi saksi bisu bagaimana wilayah Rawamangun mendadak bertransformasi menjadi mimbar bebas kritik hukum dan ekonomi.

Retorika Kemeja Hitam: Mengapa Memilih Jalan Pemuda Bukan Istana?

Mengenakan pakaian kemeja hitam, celana hitam, lengkap dengan kacamata khasnya, Ubedilah Badrun langsung naik ke atas kap mobil komando yang beralih fungsi menjadi panggung orasi. Dengan tangan kiri yang sesekali mengepal kuat ke udara, suaranya terdengar menggelegar memecah kebisingan klakson kendaraan lajur TransJakarta yang melintas lambat.

Ada alasan taktis dan filosofis yang mendasari mengapa gerakan mahasiswa unand unj rawamangun ini sengaja mengisolasi diri di sekitar lingkungan kampus mereka sendiri, alih-alih ikut bergabung dengan poros koalisi BEM UI yang berpusat di Bundaran Hotel Indonesia (HI) maupun Gedung DPR RI Senayan.

 ALASAN AKSI TETAP BERTAHAN DI RAWAMANGUN        

Istana Negara –> Krisis Kepercayaan Publik (Apatis) 

Gedung DPR  –> Mengalami Disfungsi Pengawasan  

Jalan Pemuda  –> Basis Perjuangan Riil Bersama Rakyat

Ubedilah menegaskan bahwa esensi dari gerakan moral ini sengaja didekatkan ke basis masyarakat urban terdampak langsung. Menurut analisisnya, mendatangi Istana Negara atau kompleks parlemen saat ini dinilai sudah menjadi langkah yang sia-sia karena adanya tembok tebal oligarki politik.

“Karena sesungguhnya, saya dan kita semua sudah tidak percaya dengan Istana! Bahwa kita sesungguhnya sudah tidak percaya dengan DPR! Karena mereka telah mengalami satu situasi disfungsi, bahwa fungsi legislatif, fungsi pengawasan itu tidak lagi berfungsi,” seru Ubedilah Badrun dari atas pelantang suara mobil komando.

 

Price List Service Apple di Surabaya yang rekomended : Pricelist iJoe Apple Service Surabaya

Baca juga artikel tentang: Setelah Sumatera, Pemadaman Listrik Massal Mengintai Pulau Jawa? Ini Fakta dan Penyebab Resminya

Sorotan Tajam Disfungsi Parlemen dan Kilatnya UU Kepolisian

Dalam khazanah Ubedilah Badrun orasi pemuda tersebut, indikasi kelumpuhan peran kontrol lembaga legislatif dipaparkan secara gamblang lewat produk hukum terbaru. Ia mencontohkan proses pembahasan revisi Undang-Undang Kepolisian yang dinilai cacat prosedur formal karena dikebut secara instan tanpa melibatkan partisipasi publik bermakna.

Menurut sang sosiolog, proses legislasi yang hanya memakan waktu hitungan hari merupakan anomali besar dalam iklim demokrasi sehat. Parlemen dituding tidak lagi bertindak sebagai penyaring aspirasi rakyat, melainkan hanya sebagai stempel otomatis bagi kepentingan kekuasaan sekte elite tertentu.

“Bayangkan saudara-saudara, hanya hitungan hari, bahkan secara mendadak Undang-undang atau revisi Undang-undang Kepolisian diketuk. Apakah itu menunjukkan bahwa parlemen berfungsi?” tanya Ubedilah yang langsung disambut sorakan “Tidak!” secara serempak oleh ratusan masa jaket hijau pembawa spanduk.

Sentilan Realita Sektor Pendidikan: Masalah UKT Kuliah Kerja

Di hadapan massa cair yang memadati trotoar, orasi kemudian bergeser membedah luka riil yang sedang dihadapi oleh generasi muda hari ini, yakni perihal masalah ukt kuliah kerja. Tingginya biaya pendidikan tinggi tidak berbanding lurus dengan ketersediaan ruang penghidupan setelah lulus dari universitas.

Tempat service Device Terbaik di Surabaya: 

 

Ubedilah melemparkan pertanyaan retoris beruntun untuk memancing empati massa:

  • “Apakah anak muda mudah mencari pekerjaan saat ini?” tanya Ubedilah secara interaktif.
  • “Tidak!” jawab massa mahasiswa dengan nada kompak bernada kesal.
  • “Apakah betul bahwa rakyat saat ini sedang menderita?”
  • “Betul!” sahut warga setempat yang ikut menyaksikan jalannya aksi.

Kondisi struktural inilah yang dinilai membuat aliansi mahasiswa merumuskan 10 poin maklumat tuntutan ilmiah. Ubedilah menyatakan garansi akademisnya bahwa draf 10 tuntutan tersebut telah dikaji secara mendalam dari perspektif empiris dan sosiologis, sehingga murni mewakili jeritan hati masyarakat menengah ke bawah yang terjepit beban ekonomi.

Rekomendasi Cakwar.com: Aksi Ribuan Mahasiswa di Jakarta Memanas, Polisi Amankan Penyusup Bersenjata Bom Molotov

Kritik Program Makan Bergizi Gratis yang Dipaksakan Sepihak

Sektor kebijakan fiskal ugal-ugalan juga tidak luput dari sasaran tembak sang akademisi. Beliau secara vokal melayangkan kritik program makan bergizi gratis (MBG) yang menjadi program andalan rezim pemerintahan era Presiden Prabowo Subianto.

Ubedilah menyayangkan arogansi komunikasi komunikasi elit birokrasi yang terkesan menutup telinga dari rentetan kritik berbasis data yang diajukan para ekonom independen mengenai potensi jebolnya kas negara akibat alokasi dana program tersebut.

“Rakyat bilang, itu MBG nggak bener, tapi Presiden bilang lanjut. Apakah itu mengatakan Presiden benar?” cetus Ubedilah seraya mengingatkan bahwa legitimasi kekuasaan tertinggi sejatinya berada di tangan rakyat, bukan pada ego personal pejabat publik.

Media sosial:

 

Tips Menjaga Independensi Gerakan Moral Mahasiswa di Daerah

Turun jalannya elemen dosen mendampingi mahasiswa merupakan fenomena menarik. Agar esensi gerakan kritis di tingkat regional tetap terjaga kesuciannya dari kepentingan politik praktis menjelang pemilu, berikut beberapa langkah taktis yang perlu dipertahankan:

  1. Berbasis Data Ilmiah: Setiap poin tuntutan yang dibawa ke jalanan wajib memiliki draf kajian akademis berbasis data sekunder yang valid agar tidak mudah dipatahkan lewat opini tandingan.
  2. Hindari Pendanaan Parpol: Tolak segala bentuk bantuan logistik atau dana segar dari aktor partai politik tertentu yang mencoba menunggangi isu demi menaikkan elektabilitas.
  3. Jaga Barisan Mandiri: Fokus pada esensi isu lokal dan sektoral rakyat sekitar (seperti komersialisasi pendidikan UKT) agar gerakan memiliki akar rumput yang kokoh di tingkat wilayah.
  4. Gunakan Metode Edukasi Publik: Manfaatkan aksi jalanan sebagai ruang kuliah umum terbuka guna mencerdaskan warga sekitar mengenai dampak nyata dari sebuah undang-undang baru.

Untuk mendapatkan informasi terbaru dan ulasan menarik lainnya seputar isu sosial, kebijakan publik, dan berita terkini, Anda dapat membaca artikel lainnya di cakwar.com.

Video :
UBEDILAH BADRUN: DRAMATURGI SEOLAH PEDULI RAKYAT… RAKYAT MUAK…!!!

#TERBARU

#TEKNOLOGI

CakWar.com

Dunia

Politik Internasional

Militer

Acara

Indonesia

Bisnis

Teknologi

Pendidikan

Cuaca

Seni

Ulas Buku

Buku Best Seller

Musik

Film

Televisi

Pop Culture

Theater

Gaya Hidup

Kuliner

Kesehatan

Review Apple Store

Cinta

Liburan

Fashion

Gaya

Opini

Politik Negeri

Review Termpat

Mahasiswa

Demonstrasi

© 2025 Cak War Company | CW | Contact Us | Accessibility | Work with us | Advertise | T Brand Studio | Your Ad Choices | Privacy Policy | Terms of Service | Terms of Sale | Site Map | Help | Subscriptions