Ahli Ibadah yang Bangkrut di Akhirat: Ketika 70 Tahun Ibadah Gugur karena Satu Dosa

Semua umat Islam tentu ingin masuk surga dan mengumpulkan pahala sebanyak-banyaknya sebagai bekal di akhirat. Salat ditegakkan, puasa dijalankan, zakat ditunaikan, dan sedekah diberikan dengan harapan mendapat ridha Allah SWT. Namun dalam ajaran Islam, ada satu golongan yang justru disebut sebagai “orang bangkrut” di hari kiamat—meskipun semasa hidupnya dikenal sebagai ahli ibadah.

Siapakah ahli ibadah yang bangkrut di akhirat itu? Jawabannya bukan karena kurangnya amal, melainkan karena hilangnya pahala akibat kezaliman dan kelalaian terhadap hak orang lain.

Rekomendasi Cak war: iJoe – Apple Service Surabaya, Tempat Service Iphone, iMac, iPad dan iWatch Terpercaya di Surabaya

Kisah Ahli Ibadah 70 Tahun yang Tertahan Masuk Surga

Salah satu kisah yang sering dikutip dalam literatur tasawuf dan nasihat keagamaan dituturkan oleh Wahab bin Munabbih, seorang tabi’in yang dikenal luas dalam tradisi keilmuan Islam. Kisah ini juga dinukil oleh Ahmad Izzan dalam bukunya Laa Taghtarr (Jangan Terbuai).

Diceritakan, ada seorang pemuda yang bertobat dari seluruh kemaksiatan. Setelah tobatnya, ia mengabdikan diri sepenuhnya kepada Allah SWT. Selama 70 tahun, ia beribadah tanpa henti. Ia tidak pernah meninggalkan puasa, tidak tidur dengan nyaman, tidak berteduh, dan tidak mengonsumsi makanan berlemak. Hidupnya dipenuhi dengan kesungguhan dan kezuhudan.

Namun ketika ia wafat, sebagian saudaranya bermimpi bertemu dengannya. Dalam mimpi itu, mereka menanyakan bagaimana nasibnya di akhirat. Lelaki tersebut menjawab bahwa Allah SWT telah mengampuni seluruh dosanya, kecuali satu dosa.

Satu dosa itulah yang membuatnya tertahan untuk masuk surga.

Dosa tersebut tampak sepele di mata manusia: ia pernah mengambil sebatang lidi untuk dijadikan tusuk gigi tanpa izin pemiliknya.

“Allah mengampuni semua dosaku, kecuali satu dosa, yaitu aku telah mengambil lidi yang kugunakan untuk menusuk gigiku tanpa seizin pemiliknya. Karena itu, di sini aku tertahan dari surga,” ujarnya dalam mimpi tersebut.

Kisah ini menjadi pengingat bahwa hak orang lain, sekecil apa pun, tidak bisa dianggap remeh.

Kelalaian dalam Timbangan: Kisah Juru Timbang

Kisah serupa juga diriwayatkan oleh Al-Harits al-Muhasibi, seorang ulama sufi terkemuka. Ia menceritakan tentang seorang juru timbang yang dikenal sebagai ahli ibadah. Setelah wafat, beberapa sahabatnya bermimpi bertemu dengannya dan menanyakan keadaan dirinya.

Ia menjawab bahwa dirinya disiksa karena menghitung 15 qafis—sejenis takaran—dari berbagai biji-bijian.

Mengapa hal itu menjadi sebab siksa?

Ia mengaku tidak memedulikan takaran yang kurang akibat bercampur debu dan tanah yang menggumpal di dasar wadah takaran. Tanah yang menempel itu sedikit demi sedikit mengurangi setiap timbangan, sehingga merugikan orang lain.

Kelalaian kecil dalam menjaga keadilan timbangan itu membuatnya mendapat azab di alam kubur, hingga akhirnya ia ditolong oleh sebagian orang saleh.

Dua kisah ini menunjukkan satu benang merah: ibadah ritual yang panjang tidak otomatis menjamin keselamatan jika hak sesama manusia diabaikan.

.Price List Service Apple di Surabaya yang rekomended : Pricelist iJoe Apple Service Surabaya

👉Baca juga artikel tentang: Polisi Tetapkan Hafiz Mahendra Tersangka Usai Aksi Ugal-ugalan dan Lawan Arah di Gunung Sahari

Siapa Orang yang Bangkrut Menurut Rasulullah SAW?

Konsep “ahli ibadah yang bangkrut” secara tegas dijelaskan dalam hadis Nabi Muhammad SAW. Dalam riwayat yang disampaikan oleh Abu Hurairah, Rasulullah SAW bertanya kepada para sahabat:

“Tahukah siapa orang yang bangkrut?”

Para sahabat menjawab bahwa orang bangkrut adalah orang yang tidak memiliki dirham dan barang dagangan. Namun Nabi SAW meluruskan pemahaman tersebut.

Beliau bersabda, orang yang bangkrut adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa pahala salat, puasa, dan zakat, tetapi semasa hidupnya ia mencaci, mendustakan, memakan harta orang lain, menumpahkan darah, dan memukul sesama. Maka kebaikannya diambil untuk diberikan kepada orang-orang yang dizalimi. Jika kebaikannya habis sebelum selesai perhitungan, dosa orang lain ditimpakan kepadanya, lalu ia dicampakkan ke dalam neraka. (HR Muslim dan At-Tirmidzi).

Hadis ini menegaskan bahwa kebangkrutan di akhirat bukan soal harta, melainkan habisnya pahala akibat kezaliman sosial.

Bahaya Riya dan Amal yang Sia-Sia

Selain kezaliman terhadap orang lain, amal juga bisa menjadi sia-sia karena riya, yaitu beribadah bukan karena Allah SWT, melainkan untuk dilihat dan dipuji manusia.

Dalam berbagai literatur klasik, para ulama mengingatkan bahwa riya termasuk penyakit hati yang dapat menghapus nilai amal. Secara lahiriah seseorang mungkin tampak taat, tetapi jika niatnya tidak ikhlas, amal tersebut tidak bernilai di sisi Allah.

Pesan serupa pernah disampaikan oleh Abu Bakar Ash-Shiddiq dalam sebuah khutbah yang diriwayatkan oleh para ulama. Ia mengingatkan tentang orang-orang yang dulu membanggakan ketampanan, kekuatan, dan kejayaan mereka, namun kini berada dalam kegelapan kubur.

Pesan moralnya jelas: dunia dengan segala pencapaiannya bersifat sementara. Yang abadi adalah amal yang tulus dan adil.

Price List Service Apple di Surabaya yang rekomended : Pricelist iJoe Apple Service Surabaya

Menjaga Hak Sesama sebagai Kunci Keselamatan

Dalam ajaran Islam, hubungan dengan Allah (hablum minallah) tidak dapat dipisahkan dari hubungan dengan sesama manusia (hablum minannas). Salat dan puasa memang wajib, tetapi menjaga hak orang lain juga merupakan bagian integral dari keimanan.

Mengambil barang tanpa izin, mengurangi timbangan, mencela, memfitnah, atau menyakiti orang lain bukan sekadar kesalahan sosial, melainkan dosa yang berdampak langsung pada perhitungan di akhirat.

Di tengah kehidupan modern yang serba cepat, godaan untuk meremehkan hal-hal kecil sangat besar. Padahal, justru dari perkara kecil itulah tanggung jawab moral seseorang diuji.

Rekomendasi Cakwar.com: Komarudin Watubun Minta Pemerintahan Prabowo Tak Ulangi Sejarah Freeport dalam Investasi AS

Refleksi: Ibadah Bukan Sekadar Ritual

Kisah ahli ibadah yang tertahan masuk surga menjadi refleksi mendalam bagi siapa pun. Ibadah bukan sekadar ritual fisik atau rutinitas spiritual, melainkan juga komitmen etis terhadap keadilan dan kejujuran.

Islam mengajarkan keseimbangan antara ibadah pribadi dan tanggung jawab sosial. Amal yang diterima bukan hanya yang banyak, tetapi yang ikhlas dan bersih dari kezaliman.

Karena itu, selain memperbanyak salat, puasa, dan sedekah, setiap Muslim juga perlu memastikan tidak ada hak orang lain yang terlanggar—baik dalam urusan harta, ucapan, maupun tindakan.

Media sosial:

 

Pada akhirnya, ahli ibadah yang bangkrut di akhirat adalah mereka yang datang dengan segudang pahala, tetapi kehilangan semuanya karena tidak menjaga lisan, tangan, dan amanahnya.

Semoga kisah ini menjadi pengingat agar ibadah yang kita lakukan tidak hanya banyak, tetapi juga benar dan diterima.

Untuk membaca artikel inspiratif dan reflektif lainnya seputar keislaman dan kehidupan, kunjungi media digital cakwar.com dan temukan berbagai ulasan yang menambah wawasan sekaligus memperkuat keimanan Anda.

Video: KISAH NYATA ! Ibadah 70 Tahun Tapi Masuk Neraka

#TERBARU

#TEKNOLOGI

CakWar.com

Dunia

Politik Internasional

Militer

Acara

Indonesia

Bisnis

Teknologi

Pendidikan

Cuaca

Seni

Ulas Buku

Buku Best Seller

Musik

Film

Televisi

Pop Culture

Theater

Gaya Hidup

Kuliner

Kesehatan

Review Apple Store

Cinta

Liburan

Fashion

Gaya

Opini

Politik Negeri

Review Termpat

Mahasiswa

Demonstrasi

© 2025 Cak War Company | CW | Contact Us | Accessibility | Work with us | Advertise | T Brand Studio | Your Ad Choices | Privacy Policy | Terms of Service | Terms of Sale | Site Map | Help | Subscriptions